RM.id Rakyat Merdeka - Para pejabat Amerika Serikat (AS) dan China siap memulai pembicaraan pada pekan ini, sebagai upaya mengurangi eskalasi perang dagang antara dua negara ekonomi terbesar dunia.
Kementerian Luar Negeri China melaporkan, Wakil Perdana Menteri He Lifeng akan menghadiri pembicaraan di Swiss pada tanggal 9 hingga 12 Mei mendatang.
Sementara Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Perwakilan Perdagangan AS (USTR) Jamieson Greer dilaporkan akan mewakili Washington dalam pertemuan tersebut.
Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, Presiden Donald Trump telah mengenakan pajak impor baru terhadap seluruh produk yang datang dari China, hingga 145 persen.
Baca juga : Gibran Puji Kerukunan Di Sikka, Minta Nilai Toleransi Terus Dijaga
Atas langkah tersebut, Beijing telah membalas dengan menetapkan retribusi terhadap beberapa barang dari AS sebesar 125 persen.
Ini akan menjadi pertemuan tingkat tinggi pertama antara AS dan China, sejak Wakil Presiden China Han Zheng menghadiri pelantikan Trump pada Januari 2025.
Bessent berharap bisa menyeimbangkan kembali sistem ekonomi internasional, untuk melayani kepentingan AS dengan lebih baik.
"Menurut saya, ini tentang de-eskalasi, bukan tentang kesepakatan perdagangan besar. Kita harus de-eskalasi sebelum bergerak maju," katanya dalam sebuah wawancara dengan Fox News.
Baca juga : Terminal Haji Dan Umrah Diresmikan, BP Haji Optimis Layanan Lebih Baik Dan Murah
Sementara China, punya pandangan sendiri terkait hal ini. "Jika Amerika Serikat ingin menyelesaikan masalah ini melalui negosiasi, mereka harus menghadapi dampak negatif yang serius dari tindakan tarif sepihak terhadap dirinya sendiri dan dunia," kata Juru Bicara Kementerian Perdagangan China, seperti dikutip BBC, Rabu (7/5/2025) pagi.
Media Pemerintah China melaporkan, Beijing telah memutuskan untuk terlibat dengan AS, setelah sepenuhnya mempertimbangkan harapan global, kepentingan negara, dan seruan dari kalangan bisnis Amerika.
China disebut terbuka untuk pembicaraan, namun tetap bertekad untuk terus berjuang sampai akhir melawan perang dagang. Sejauh ini, perang dagang telah memicu gejolak di pasar keuangan dan mengirimkan gelombang kejut ke seluruh perdagangan global.
Menanggapi hal ini, seorang ahli perdagangan mengatakan kepada BBC, bahwa dia tidak optimistis dengan pembicaraan tersebut.
Baca juga : Malam Ini, Malut United Siap Tunda Perayaan Kemenangan Persib
"Anda harus memulai dari suatu tempat. Saya tidak mengatakan itu tidak berharga. Tapi sepertinya, pertemuan itu tidak berjalan seperti yang diharapkan publik,” kata Deborah Elms, Kepala Kebijakan Perdagangan di Yayasan Hinrich, Singapura.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.