RM.id Rakyat Merdeka - Kanselir Jerman Friedrich Merz menyentil etos kerja warganya. Dia heran melihat rata-rata pekerja di Jerman mengambil cuti sakit hampir tiga minggu setiap tahun, padahal negara itu tengah membutuhkan kerja keras ekstra untuk mendongkrak ekonomi nasional yang kian lesu.
Merz mengkritisi semangat kerja warga Engine of Europe itu menjelang pemilu di negara bagian Baden-Württemberg pada Maret nanti. Ucapan itu terlontar dalam kunjungan masa kampanye di Bad Rappenau, akhir pekan lalu.
Merz menyoroti mekanisme cuti sakit berbasis telepon yang diterapkan sejak pandemi Covid-19. Menurutnya, kebijakan itu patut dievaluasi apakah masih relevan dengan kondisi ekonomi saat ini.
Baca juga : Pemain Terbaik Liga India Ini Siap Buktikan Diri Bersama Persija
“Apakah itu benar-benar perlu? Apakah masih masuk akal dalam konteks sekarang?” ujar Merz, Sabtu (17/1/2026), dilansir DPA.
Dia merujuk data 2024 yang menunjukkan rata-rata pekerja Jerman mengambil cuti sakit selama 14,5 hari per tahun.
Merz menegaskan, peningkatan produktivitas menjadi kunci untuk memulihkan kinerja ekonomi. Ia menyerukan agar seluruh elemen masyarakat bekerja lebih keras demi mendorong efisiensi dan daya saing nasional.
Baca juga : Banjir Seminggu, Warga Pati Cari Makan Pake Perahu
"Pada akhirnya, kita semua harus bekerja sama untuk mencapai tingkat efisiensi ekonomi yang lebih tinggi dari yang ada sekarang,” katanya.
Pernyataan tersebut konsisten dengan pandangan lama Merz yang kerap mengkritik konsep keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi, termasuk wacana kerja empat hari. Ia menilai pola kerja tersebut berisiko menggerus kemakmuran Jerman di masa depan.
Kondisi Ekonomi Jerman
Tekanan ekonomi Jerman meningkat sejak negara itu ikut serta dalam sanksi Barat terhadap Rusia pada 2022. Sebelum konflik Ukraina memanas, Jerman bergantung pada Rusia untuk sekitar 55 persen kebutuhan gas, sementara operasi Rosneft menyumbang sekitar 12 persen kapasitas pengolahan minyak nasional.
Baca juga : Beras Satu Harga, Bisakah Diterapkan Di Seluruh Daerah?
Penghentian pasokan energi murah dari Rusia disebut menjadi salah satu faktor utama stagnasi ekonomi. Jerman mengalami resesi dua tahun berturut-turut pada 2023 dan 2024, pertama kalinya sejak awal 2000-an.
Media lokal memberitakan, sepanjang 2022–2025 harga listrik naik 14 persen dan harga gas melonjak hingga 74 persen. Agustus lalu, Merz mengingatkan, kondisi ekonomi yang saat ini terasa berat akan sulit membiayai negara kesejahteraan (welfare state) yang dijalani Jerman.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.