BREAKING NEWS
 

Diplomasi Budaya Pererat Pakistan dan Hungaria

Reporter : DIANANDA RAHMASARI
Editor : MUHAMMAD RUSMADI
Kamis, 19 Februari 2026 17:30 WIB
Diskusi meja bundar bertajuk “Iqbal: A Bridge between the East and the West” digelar di Islamabad, Pakistan, Rabu, 18 Februari 2026. [Foto-foto: MUSLIM Institute]

RM.id  Rakyat Merdeka - Upaya mempererat hubungan Pakistan dan Hungaria melalui jalur pemikiran dan kebudayaan mengemuka dalam diskusi meja bundar bertajuk “Iqbal: A Bridge between the East and the West” yang digelar di Islamabad, Pakistan, Rabu, 18 Februari 2026.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh MUSLIM Institute sebagai bagian dari inisiatif memperkuat kerja sama literasi, budaya, dan akademik kedua negara.

Duta Besar Hungaria untuk Pakistan, Dr. Zoltán Varga, hadir sebagai tamu kehormatan. Dalam sambutannya, ia menyatakan komitmen untuk memperluas kerja sama pendidikan dan kebudayaan antara Pakistan dan Hungaria. Menurut dia, dialog kesusastraan dapat memainkan peran penting dalam mempererat hubungan bilateral.

Duta Besar Hungaria untuk Pakistan, Dr. Zoltán Varga (kiri) bersama Prof. Dr. Nazir Ahmad Zafar, Dekan Fakultas Ilmu Teknologi Informasi COMSATS University Islamabad. [Foto: Dok MUSLIM Institute, Pakistan]

Baca juga : Kinerja Operasional 2025 Solid, Elnusa Perkuat Produksi Hulu Migas Pertamina

Sejumlah akademisi turut menjadi pembicara dalam forum tersebut, antara lain Prof. Dr. Nazir Ahmad Zafar, Dekan Fakultas Ilmu Informasi dan Teknologi COMSATS University Islamabad; Dr. Abdul Basit, Senior Assistant Professor pada Departemen Media Studies Bahria University Islamabad; Dr. Sajid Mehmood, Assistant Professor di Government Postgraduate College, Mansehra; serta Muhammad Azeem, kandidat doktor dari University of the Punjab, Lahore. Diskusi dipandu oleh Zunera Mumtaz.

Adsense

Para pembicara menilai Allama Muhammad Iqbal tetap relevan sebagai jembatan intelektual antara Timur dan Barat. Pemikiran filsafatnya dinilai memberikan landasan bagi penguatan dialog global, toleransi, serta nilai-nilai kemanusiaan universal.

Dalam konteks global saat ini, gagasan Iqbal disebut mampu menjadi salah satu fondasi efektif untuk membangun harmoni antarperadaban. Dalam forum tersebut, para peneliti juga memaparkan analisis komparatif mengenai puisi revolusioner dan konsep kebebasan dalam karya Iqbal dan penyair nasional Hungaria, Sándor Petőfi. Keduanya dinilai memiliki kesamaan tema, seperti kebebasan, jati diri, martabat manusia, dan kebangkitan nasional. Para pembicara menyebut kesamaan itu sebagai warisan kemanusiaan yang melampaui batas-batas geografis.

[Foto: Dok MUSLIM Institute, Pakistan]

Baca juga : Distribusi BBM Kalimantan Barat Aman Meski Terkendala Alur Sungai

Acara ini turut dihadiri Duta Besar Azerbaijan dan Maroko, Wakil Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Indonesia dan Uzbekistan, serta perwakilan diplomatik dari Iran dan Filipina. Kehadiran para diplomat tersebut menegaskan signifikansi internasional forum ini.

Para pembicara menekankan pentingnya dialog literer dan intelektual dalam memperkuat hubungan antarmasyarakat serta menumbuhkan budaya damai, toleransi, dan dialog di kalangan generasi muda.

Penyelenggara menyatakan, diskusi meja bundar ini bukan sekadar forum sastra, melainkan inisiatif akademik untuk memperluas hubungan Pakistan dengan berbagai negara melalui warisan intelektual Iqbal. Dialog ini diharapkan membuka peluang kerja sama riset bersama, pertukaran akademik, serta kolaborasi kebudayaan antara Pakistan dan Hungaria.

Baca juga : Karina: Generasi Muda Kreatif, Pendapatan Kota Bogor Meningkat

Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif antara peserta dan narasumber. (*)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense