BREAKING NEWS
 

Trump Pidato Soal Perang Iran, Klaim Kemenangan Besar Di Tengah Tekanan Global

Reporter & Editor :
MELLANI EKA MAHAYANA
Kamis, 2 April 2026 08:31 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto Screengrab YouTube White House)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berpidato Rabu (1/4/2026) malam waktu setempat atau Kamis (2/4/2026) pagi, soal perkembangan perang dengan Iran.

Dalam pidato prime-time pertamanya sejak meluncurkan serangan bersama Israel lebih dari sebulan lalu, Trump berupaya menjangkau audiens luas untuk menjelaskan tujuan yang jelas dari aksi militer tersebut, di tengah Iran yang terus melancarkan serangan ke Israel dan negara-negara Teluk Persia.

“Dalam empat minggu terakhir, angkatan bersenjata kita telah memberikan kemenangan yang cepat, tegas, dan sangat besar di medan perang,” kata Trump.

Pidato ini muncul di tengah kenaikan harga minyak, pasar keuangan yang bergejolak, serta hasil jajak pendapat yang menunjukkan banyak warga Negeri Paman Sam itu merasa, militer AS telah bertindak terlalu jauh di Iran.

Trump mengatakan bahwa dia menyampaikan pidato ini untuk menjelaskan mengapa Epic Fury diperlukan demi keselamatan Amerika dan dunia.

Dengan menyebut serangan teroris dan Iran atau proksinya selama 47 tahun terakhir, dia menuding pemimpin Negeri Mullah itu sebagai rezim yang kejam dan pembunuh.

Baca juga : Bamsoet: Pancasila Harus Jadi Strategi Hadapi Tekanan Geopolitik Global

Trump menyampaikan tudingan itu sambil menyoroti tindakan keras Teheran terhadap demonstrasi di negara tersebut yang menewaskan ribuan warga.

"Pemimpin seperti ini tidak boleh diizinkan untuk memperoleh senjata nuklir," katanya dalam pidato sekitar 20 menit itu.

"Saya tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi," imbuhnya 

Sesaat sebelum Trump mulai berbicara, Uni Emirat Arab memperingatkan publik tentang ancaman rudal dari Iran. Serangkaian ledakan terdengar di Dubai ketika sistem pertahanan udara berusaha mencegat serangan tersebut.

Dalam unggahan media sosial sebelumnya pada Rabu, Trump mempertahankan nada keras dengan menuntut Iran berhenti memblokir Selat Hormuz—jalur penting bagi pasokan minyak global—atau AS akan membombardir Republik Islam tersebut “kembali ke Zaman Batu.”

Adsense

Presiden ke-45 dan ke-47 AS itu juga mengatakan, AS “tidak akan terlibat” dalam menjamin keamanan kapal yang melintas di Hormuz, yang tampak bertolak belakang dengan ancaman sebelumnya untuk menyerang jaringan listrik Iran jika selat itu tidak dibuka sebelum 6 April ini.

Baca juga : Indonesia Tetap Seksi di Tengah Gejolak Global

Trump sebelumnya juga mengeluhkan sekutunya dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang enggan terlibat dalam pengamanan Selat Hormuz, sambil menyarankan China, Jepang, dan Korea Selatan untuk berperan membuka kembali jalur tersebut.

“Biarkan Korea Selatan melakukannya—kita punya 45.000 tentara di sana, dekat dengan kekuatan nuklir—biarkan mereka yang melakukannya,” kata Trump.

“Biarkan Jepang melakukannya. Mereka mendapatkan 90 persen minyak dari selat itu. Biarkan China melakukannya.”

Dalam unggahan di medsos Trump lainnya, dia menyebut bahwa “Presiden Rezim Baru Iran” menginginkan gencatan senjata, meski tidak jelas siapa yang dimaksud, karena Iran masih memiliki presiden yang sama.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyebut klaim itu “salah dan tidak berdasar.” Berbicara kepada Al Jazeera, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, mengisyaratkan kesiapan Teheran untuk terus berperang.

“Anda tidak bisa berbicara kepada rakyat Iran dengan bahasa ancaman dan tenggat waktu,” ujarnya.

Baca juga : Bahlil Minta Masyarakat Bijak Gunakan BBM Di Tengah Gejolak Global

“Kami tidak menetapkan batas waktu untuk membela diri," tegasnya.

Beberapa jam sebelum pidato Trump, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengunggah surat panjang dalam bahasa Inggris di akun X miliknya, yang ditujukan kepada warga AS. Ia menegaskan bahwa negaranya sebelumnya telah menempuh jalur negosiasi sebelum AS menarik diri.

“Kepentingan rakyat Amerika yang mana yang sebenarnya dilayani oleh perang ini?” tulisnya.

Tidak ada tanda Iran akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz Sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu, Trump kerap menyampaikan tujuan yang berubah-ubah dan berulang kali mengatakan konflik bisa segera berakhir, namun juga mengancam akan memperluasnya.

Ribuan tambahan pasukan AS kini menuju Timur Tengah, memicu berbagai spekulasi bakal ada serangan darat.

Trump kini menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengakhiri perang yang telah mendorong kenaikan harga bensin, pangan, dan berbagai kebutuhan lainnya. Harga minyak mentah Brent, sebagai acuan global, telah naik lebih dari 40 persen sejak perang dimulai. Sementara itu, pidato terbaru juga belum jelas mengenai akhir konflik ini.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense