BREAKING NEWS
 

Washington Bisa Kepayahan Lawan China

Perang Lawan Iran Bikin Stok Amunisi AS Menipis

Reporter & Editor :
MELLANI EKA MAHAYANA
Jumat, 29 Mei 2026 06:10 WIB
Menteri Perang AS Pete Hegseth

RM.id  Rakyat Merdeka - Stok amunisi militer Amerika Serikat (AS) dikabarkan mulai menipis usai perang dengan Iran. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa Negeri Paman Sam itu bakal kepayahan jika harus menghadapi konflik besar lain, khususnya melawan China.

Laporan terbaru Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis Rabu (28/5/2026) menyebut, kontraktor militer AS membutuhkan waktu sedikitnya tiga tahun untuk memulihkan persediaan tiga sistem senjata utama yang paling banyak digunakan dalam perang Iran.

Tiga sistem persenjataan tersebut adalah rudal jelajah Tomahawk, serta sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD yang berfungsi mencegat rudal maupun drone musuh.

“Amerika Serikat masih memiliki cukup amunisi untuk menghadapi skenario perang Iran. Namun, menipisnya stok telah menciptakan celah kerentanan jika sewaktu-waktu terjadi konflik di Pasifik Barat,” tulis laporan CSIS dilansir Associated Press (AP), Kamis (28/5/2026).

Lembaga think tank yang berbasis di Washington DC itu menilai, lamanya waktu pemulihan stok kini menjadi perhatian serius Departemen Pertahanan AS (Pentagon) yang oleh Presiden Donald Trump namanya diganti menjadi Departemen Perang.

Kekhawatiran itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan AS dengan China. Beijing punya target agar militernya siap merebut Taiwan dengan kekuatan militer paling lambat tahun 2027 jika memang diperlukan.

Namun, banyak pengamat menilai, target itu merupakan timeline kesiapan militer, bukan jadwal menyerang.

Presiden China Xi Jinping sempat memperingatkan Gedung Putih agar tidak salah langkah dalam hubungan dengan Taiwan. Jika salah penanganan, konflik terbuka antara dua negara besar itu bisa terjadi.

Meski Pemerintahan Presiden Donald Trump telah mengusulkan anggaran pertahanan fantastis mencapai 1,5 triliun dolar AS untuk 2027, laporan itu menilai, persoalan utama bukan lagi soal uang, melainkan waktu produksi.

“Membangun kapasitas produksi dan membuat sistem senjata canggih membutuhkan waktu panjang,” tulis laporan CSIS.

Baca juga : Raline Shah, Terapkan Gaya Hidup Sehat

Menurut laporan itu, AS bakal dalam kondisi rentan selama beberapa tahun sampai stok kembali normal dan mencapai jumlah ideal sesuai kebutuhan perang modern.

Meski data stok amunisi dirahasiakan, CSIS menyebut informasi dari dokumen anggaran Pentagon cukup untuk memperkirakan waktu produksi.

Sebelumnya, Trump dan Menteri Perang Pete Hegseth berkali-kali menegaskan bahwa militer AS siap menghadapi perang apa pun. Pemerintah juga mendorong perusahaan pertahanan mempercepat produksi amunisi.

Menurut pemberitaan AP, dalam rapat kabinet Rabu (27/5/2026), Hegseth memuji langkah Trump memperluas sektor industri pertahanan nasional.

Menurutnya, banyak kontraktor swasta bidang pertahanan mulai membangun pabrik dan jalur produksi baru agar pengadaan senjata dapat dilakukan lebih cepat dibanding sebelumnya.

Juru bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan, AS masih memiliki seluruh kemampuan untuk menjalankan operasi militer kapan pun sesuai keputusan Presiden.

“Kami telah sukses menjalankan berbagai operasi di sejumlah wilayah komando tempur sambil memastikan militer AS tetap memiliki persenjataan yang kuat untuk melindungi rakyat dan kepentingan nasional,” kata Parnell.

Namun, sejumlah analis militer meragukan optimisme tersebut. Virginia Burger, analis kebijakan pertahanan dari Project on Government Oversight sekaligus mantan perwira Marinir AS, menilai Pentagon sebenarnya sadar stok senjata berada di level kritis.

Adsense

“Mereka tahu kenyataannya. Jika perang terus berlangsung, stok bisa turun ke level berbahaya,” ujarnya.

Isu menipisnya persediaan amunisi juga ramai dibahas dalam sidang Kongres AS. Politikus Partai Demokrat menilai, perang Iran yang diluncurkan Trump tanpa persetujuan parlemen menjadi penyebab utama.

Baca juga : Tak Masuk Akal, Fundamental Kuat Tapi Rupiah Loyo

Sementara sejumlah Republikan menilai, masalah bermula sejak AS mengirim sistem Patriot ke Ukraina setelah invasi Rusia pada 2022.

Analis senior CSIS sekaligus pensiunan kolonel Marinir AS, Mark Cancian, mengatakan, akar masalah sebenarnya sudah muncul sejak Perang Dingin berakhir pada awal 1990-an.

Saat itu, AS menganggap perang masa depan akan berlangsung singkat dan berskala regional sehingga tidak membutuhkan banyak senjata canggih.

Akibatnya, Pentagon hanya memesan amunisi dalam jumlah kecil dan industri pertahanan menyesuaikan kapasitas produksinya.

Namun, perang Rusia-Ukraina membuktikan konflik modern bisa berlangsung lama dan menguras persediaan senjata dalam jumlah besar.

“Cara berpikir mulai berubah, tetapi membangun stok persenjataan membutuhkan waktu panjang,” kata Cancian.

Dia menambahkan, tantangan lain datang dari rantai pasok industri pertahanan yang sangat kompleks. Termasuk banyaknya komponen khusus yang diproduksi subkontraktor berbeda.

Dalam perang Iran, AS disebut telah menembakkan lebih dari 1.000 rudal Tomahawk. CSIS memperkirakan, stok rudal itu baru bisa kembali seperti sebelum perang pada akhir 2030.

Saat ini, produksi Tomahawk kurang dari 200 unit per tahun karena kecilnya pesanan di masa lalu. Namun, Raytheon selaku produsen menargetkan kapasitas produksi meningkat hingga lebih dari 1.000 unit per tahun.

Perusahaan induk Raytheon, RTX, menyebut telah menginvestasikan miliaran dolar untuk meningkatkan produksi, utamanya untuk memperluas fasilitas di Alabama dan Arizona.

Baca juga : Sukses Turunkan Konsumsi BBM, WFH Hari Jumat Dilanjut 2 Bulan

Sementara untuk sistem pertahanan udara THAAD, penggantian sekitar 290 interceptor yang digunakan menghadang rudal dan drone Iran diperkirakan baru selesai akhir 2029. Adapun pengisian kembali lebih dari 1.000 rudal Patriot diprediksi rampung pertengahan 2029.

Lockheed Martin sebagai produsen kedua sistem itu juga mulai meningkatkan produksi secara besar-besaran. Bahkan, pengiriman THAAD untuk sekutu dilaporkan ditunda demi memenuhi kebutuhan AS sendiri.

CSIS menilai, kondisi ini menjadi dilema besar bagi Washington karena harus membagi persediaan untuk kebutuhan dalam negeri, membantu Ukraina, sekaligus memenuhi permintaan negara lain pengguna Patriot.

Meski demikian, situasi belum sepenuhnya buruk. Militer AS masih menunjukkan kemampuan tempur tinggi dalam operasi di Iran, Venezuela, maupun melawan kelompok Houthi di Yaman.

Sedangkan China belum memiliki pengalaman tempur modern yang cukup. Perang terakhir yang melibatkan Beijing terjadi saat konflik melawan Vietnam pada 1979 dan dianggap tidak berjalan baik bagi Negeri Tirai Bambu itu.

“Perbedaan pengalaman tempur itu diperkirakan masih cukup untuk meredam konflik sampai persediaan amunisi Amerika kembali seperti semula,” tulis laporan tersebut. MEL

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Jumat, 29 Mei 2026 dengan judul "Washington Bisa Kepayahan Lawan China Perang Lawan Iran Bikin Stok Amunisi AS Menipis"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense