Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Purbaya Soal Kondisi Ekonomi
Tak Masuk Akal, Fundamental Kuat Tapi Rupiah Loyo
Kamis, 28 Mei 2026 08:58 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, tidak masuk akal di saat fundamental ekonomi kuat, rupiah malah loyo.
Purbaya menerangkan, semua indikator ekonomi menunjukkan tren positif. Bahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu terbang tinggi ke level 5,61 persen pada kuartal I-2026. Namun, nilai tukar rupiah justru loyo, dengan mendekati Rp 17.800 per dolar AS.
"Kan ekonomi bagus. Ini (pelemahan rupiah) terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini nggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental," ujar Purbaya, di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta Selatan, Rabu (27/5/2026).
Purbaya lalu memastikan, pelemahan rupiah yang terjadi tidak akan membuat Indonesia ditinggalkan investor. Hal itu terlihat dari indikator imbal hasil (yield) di pasar obligasi Indonesia mengalami penurunan. "Walaupun rupiah melemah, kan bond yield-nya turun,” imbuhnya.
Menurut Purbaya, hal ini tak lepas dari aksi Pemerintah melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) treasury operation demi menjaga stabilitas nilai tukar. “Karena aksi dari Pemerintah, aksi dari teman-teman kita di (Direktorat Jenderal) Perbendaharaan, untuk sedikit membeli, supaya yield-nya agak terkendali," ungkap Purbaya.
Ia menerangkan, selama pasar obligasi Indonesia terkendali, aliran modal asing akan tetap masuk ke Indonesia. "Kita sudah mulai melihat aliran masuk modal asing ke pasar obligasi kita. Ke depan, akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu nilai tukar rupiah dengan lebih signifikan," tuturnya.
Baca juga : Sukses Turunkan Konsumsi BBM, WFH Hari Jumat Dilanjut 2 Bulan
Purbaya juga memastikan, pertumbuhan ekonomi 5,61 persen di kuartal I-2026 tidak hanya di atas kertas. Kata Purbaya, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pertumbuhan itu terasa di tengah masyarakat. Ia menyebut, dalam periode tersebut, angka penjualan mobil naik, penjualan sepeda motor naik, konsumsi semen dan listrik naik, mall juga ramai.
Ia beberapa kali turun ke pasar dan mall di berbagai daerah. Pusat perbelanjaan tersebut masih ramai pengunjung. "Di Jogja, Surabaya, Bandung, ramai. Di Jakarta juga saya jalan-jalan ke mall, ramai. Di pasar tradisional juga ramai," tuturnya.
Namun, ia mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia belum sempurna 100 persen. Ia menilai, masih membutuhkan waktu agar dampak pertumbuhan itu dapat dirasakan secara merata.
"Ini kan kita baru mulai bangkit dari pertumbuhan yang lambat ke pertumbuhan yang lebih cepat. Perlu waktu untuk menyebar ke ekonomi secara merata," terangnya.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung juga memastikan, fundamental ekonomi Indonesia sangat baik meski ditekan ketidakpastian global. Pada kuartal I-2026, pertumbuhan ekonomi nasional tembus 5,61 persen, inflasi April 2026 terjaga di level 2,42 persen, dan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen. Kata Juda, angka-angka ini menunjukkan daya beli masyarakat masih kuat.
Pengeluaran Pemerintah juga tumbuh 22 persen. Dari sisi penerimaan, hingga April 2026, pendapatan negara mencapai Rp 918 triliun atau tumbuh 13,3 persen. Sektor perpajakan tercatat tumbuh 16,1 persen.
Baca juga : Salat Idul Adha: Presiden di Prancis, Wapres di Istiqlal
Di tengah belanja yang cukup tinggi, defisit APBN masih terkendali di level 0,64 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Juda menyebut, angka ini turun dibanding kuartal I yang mencapai 0,92 persen.
Namun, kondisi rupiah masih tertatih-tatih. Pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026), mata uang Garuda berada di level Rp 17.775 per dolar AS, atau melemah 0,25 persen.
Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menyebut, pelemahan rupiah ini terjadi karena ada unsur overshooting dan dislokasi persepsi pasar. Sebab, pasar valuta asing bukan hanya membaca data fundamental hari ini, melainkan juga membaca arah kebijakan, kredibilitas respon, dan ekspektasi ke depan.
Menurut Fakhrul, langkah Bank Indonesia (BI) sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Kenaikan BI Rate 50 basis poin merupakan langkah tepat,
Namun, dia menekankan, stabilisasi rupiah tidak bisa hanya dibebankan ke BI. Perlu ada balanced policy mix dan perubahan fiscal stance yang lebih jelas. Pasar perlu melihat bahwa Pemerintah dan BI bergerak dalam arah yang sama.
Pertama, komunikasi fiskal harus jauh lebih kuat dan predictable. Fakhrul menyebut, pasar harus memahami apa prioritas Pemerintah, bagaimana pembiayaan dilakukan, dan bagaimana strategi menjaga stabilitas eksternal ke depan.
Baca juga : Gaung Tri Sukses Haji dalam Khutbah Arafah
Kedua, Pemerintah perlu mulai membuka ruang penyesuaian harga energi secara lebih bertahap dan terukur. Tidak harus shock therapy, tetapi pasar perlu melihat bahwa burden sharing (berbagi beban) tidak hanya dilakukan oleh rupiah dan BI.
Ketiga, kebijakan-kebijakan strategis seperti badan ekspor, hilirisasi, atau perubahan tata niaga harus dikomunikasikan dengan sangat hati-hati dan berbasis prinsip pasar yang umum berlaku. Timing dan komunikasi sangat menentukan.
Keempat, BI dan Kemenkeu perlu bersama-sama menormalisasi yield curve domestik. Setelah kredibilitas pulih, penurunan yield jangka panjang harus menjadi prioritas agar rupiah kembali menarik tanpa membunuh pertumbuhan.
Dia yakin, kalau policy mix ini dilakukan dengan baik, rupiah punya ruang menguat signifikan dari level overshooting saat ini. "Karena secara fundamental jangka panjang, saya tetap melihat level saat ini terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia yang sebenarnya," pungkas Fakhrul.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya