BREAKING NEWS
 

Sepekan Menyusuri Perth & Melbourne (1)

Menteri Anne Aly Rajut Jembatan RI-Australia

Reporter & Editor :
KARTIKA SARI
Rabu, 3 Juni 2026 07:57 WIB
Jurnalis Rakyat Merdeka Kartika Sari (kiri) berfoto bersama Menteri Anne Aly di kantornya, Perth, Australia. (Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka/RM.ID)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jurnalis Rakyat Merdeka/RM.ID Kartika Sari mengikuti Australia-Indonesia Senior Editors Program di kota Perth dan Melbourne atas undangan Department Foreign Affairs and Trade (DFAT) dan Australia Indonesia Institute (AII). Program yang berlangsung pada 16-23 Mei 2026 itu, dikemas untuk meningkatkan pemahaman dan people to people contact kedua negara. Berikut ini laporannya. 

Bagi Anne Aly, hubungan Indonesia dan Australia bukan sekadar urusan para pemimpin negara yang berjabat tangan atau menandatangani dokumen kerja sama. Ada sesuatu yang jauh lebih penting. Yakni: hubungan antarmanusia.

"Hubungan antar masyarakat adalah jembatan dari segalanya," ujar Menteri Usaha Kecil, Menteri Pembangunan Internasional, dan Menteri Urusan Multikultural Australia itu saat menerima peserta Australia-Indonesia Senior Editors Program, Selasa, 19 Mei lalu di kantornya, Perth, Australia Barat.

Siang itu, Anne Aly menyambut kami dengan hangat. Balutan blouse putih dan celana panjang cokelat, membuat penampilannya tampak stylish dan elegan. Cara bicaranya lugas dan tegas. Sosok yang langsung memberi kesan percaya diri dan penuh energi.

 

Menteri Usaha Kecil, Menteri Pembangunan Internasional dan Menteri Urusan Multikultural Australia Anne Aly, saat menerima peserta Australia-Indonesia Senior Editors Program di kantornya Perth, Australia Barat, Selasa (19/5/2026). (Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka/RM.id)

 

Bagi Anne Aly, kedekatan Indonesia dan Australia bukan sekadar agenda politik luar negeri. Hubungan itu memiliki makna yang sangat personal.

Perempuan kelahiran Alexandria, Mesir, yang menjadi Muslimah pertama di Parlemen Federal Australia itu meyakini, masa depan hubungan kedua negara akan ditentukan oleh seberapa dekat rakyat Indonesia dan Australia saling mengenal.

"Pertemuan pemimpin negara memang penting. Tetapi hubungan yang sesungguhnya lahir dari masyarakat," katanya.

Menurutnya, dari hubungan antarmasyarakat itulah lahir perdagangan, investasi, pendidikan, pertukaran budaya hingga kerja sama bisnis yang menguntungkan kedua negara.

Baca juga : Turun Ke Palmerah, Prabowo Cek MBG Dari Hulu Sampai Hilir

Saat berkunjung ke Jakarta dan Surabaya Agustus tahun lalu, dia melihat langsung berbagai program kolaborasi Australia dan Indonesia. Mulai dari penanggulangan bencana, layanan bagi penyandang disabilitas, hingga pemberdayaan perempuan.

Yang paling membekas baginya adalah pertemuan dengan perempuan-perempuan pelaku usaha kecil di Surabaya.

Menurutnya, mereka membangun usaha dari bawah untuk menopang ekonomi keluarga. Namun di balik kerja keras itu, masih banyak tantangan yang harus dihadapi.

"Perempuan harus memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dalam dunia usaha," tegasnya.

Karena itu, Australia menempatkan pemberdayaan perempuan, layanan disabilitas, kesehatan, dan pengembangan usaha kecil sebagai prioritas kerja sama dengan Indonesia.

Sebagai Menteri Usaha Kecil, perhatian Anne Ally memang banyak tertuju pada sektor UMKM. Baginya, usaha kecil bukan sekadar pelaku ekonomi, melainkan tulang punggung bangsa.

Dia menjelaskan, Australia memiliki sekitar 2,7 juta usaha kecil yang sebagian besar mempekerjakan kurang dari 10 orang. Mereka hadir di tengah masyarakat dan menjadi penggerak ekonomi lokal.

Namun tantangan baru kini muncul: transformasi digital. Menurutnya, banyak pelaku usaha kecil sudah memanfaatkan media sosial untuk promosi. Tetapi belum optimal menggunakan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, mengelola keuangan, atau menyederhanakan operasional bisnis.

Adsense

"Padahal, teknologi bisa membuat usaha kecil tumbuh lebih cepat dan lebih efisien," ujarnya.

Pelajaran itu, kata Anne, relevan bukan hanya bagi Australia, tetapi juga Indonesia.

Imigran Jadi Menteri

Baca juga : Dadan Hindayana Dicopot, Nanik Deyang Jadi Kepala BGN

Perjalanan hidup Anne Aly sendiri menjadi bukti bahwa kesempatan bisa mengubah segalanya. Saat pertama kali melangkah ke Gedung Parlemen Australia pada 2016, dia mengaku sempat diliputi keraguan.

Di tengah kemegahan gedung parlemen di Canberra, perempuan yang berasal dari keluarga kelas pekerja itu bertanya dalam hati: apakah dirinya benar-benar pantas berada di sana?

Keraguan itu bukan tanpa alasan. Ayahnya hanyalah seorang sopir bus. Keluarganya merupakan imigran asal Mesir. Latar belakang yang jauh dari gambaran elite politik Australia.

"Saya sempat bertanya pada diri sendiri, apakah saya akan diterima di sini?" kenangnya.

Namun, rasa ragu itu tidak membuatnya mundur. Sebaliknya, Anne Aly menjadikannya sebagai semangat dan tekad untuk melangkah lebih jauh.

Pada tahun yang sama, ia mencetak sejarah sebagai perempuan Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Parlemen Federal Australia.

Tetapi baginya, menjadi yang pertama bukanlah tujuan utama. "Saya bertekad tidak akan menjadi yang terakhir," katanya.

Tekad itu terus dipegang hingga kini. Bukan hanya membuka pintu bagi dirinya sendiri, tetapi memastikan pintu itu tetap terbuka bagi generasi berikutnya.

Sebagai Menteri Usaha Kecil, Menteri Pembangunan Internasional, sekaligus Menteri Urusan Multikultural Australia, Anne Aly lebih banyak berkantor di daerah pemilihannya di Perth. Ia hanya datang ke Canberra saat ada sidang parlemen atau rapat kabinet bersama Perdana Menteri.

Yang menarik, kantor daerah pemilihan Anne jauh dari kesan mewah. Kantor itu menempel di Stirling Shopping Centre, sebuah pusat perbelanjaan sederhana di kawasan pinggiran Perth. Ukurannya juga tak besar, bahkan lebih mirip ruko satu lantai dibanding kantor pejabat tinggi negara.

Baca juga : Kejagung Ajukan Banding, Minta Ibam Ditahan Di Rutan

Jangan bayangkan kemegahan Mall Pacific Place, Grand Indonesia, atau Senayan City. Kantornya sederhana dan fungsional. Namun dari kantor yang sederhana itulah, seorang menteri federal Australia melayani konstituennya. Kesederhanaan itu seolah mencerminkan perjalanan hidup Anne Aly sendiri.

Kini, ketika memandang wajah parlemen dan kabinet Australia, Anne Aly melihat perubahan besar. Pemerintahan Australia semakin beragam, dihuni laki-laki dan perempuan dari berbagai latar belakang etnis, budaya, dan agama.

"Itulah Australia. Pemerintah harus mencerminkan masyarakat yang mereka wakili," ujarnya.

Kepada para perempuan muda, terutama mereka yang berasal dari kelompok minoritas, menteri yang sangat ramah dan energik itu berpesan agar tidak membiarkan keraguan menghalangi langkah.

Menurutnya, hambatan terbesar sering kali bukan berasal dari orang lain, melainkan dari dalam diri yang merasa bahwa seseorang tidak cukup baik, tidak cukup mampu, atau tidak pantas berada di suatu tempat.

"Kadang-kadang kita sendiri yang mengatakan bahwa kita tidak bisa. Padahal kita bisa," tegasnya.

Pesannya sederhana namun sangat kuat. “Saat kesempatan datang, ambil. Jika pintu belum terbuka, dorong. Jika belum ada ruang, ciptakan ruang itu,” ujarnya, memotivasi.

Sebab, bagi Anne Aly, ukuran keberhasilan bukanlah menjadi yang pertama. Keberhasilan sejati adalah ketika suatu hari nanti tidak ada lagi yang perlu menghitung siapa yang pertama, kedua, atau ketiga. (Bersambung)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense