RM.id Rakyat Merdeka - Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) bersama Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) akan menyelenggarakan Persidangan Kedua Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia (MCM Malindo/Madani Malindo) pada 20–23 Agustus 2026 di Jakarta.
Pertemuan tersebut menjadi ruang strategis bagi para cendekiawan dan tokoh kedua negara untuk mempererat hubungan Indonesia-Malaysia. Selain itu, forum tersebut akan membahas gagasan Negara Madani sekaligus mencari posisi peradaban Melayu-Islam di tengah perubahan dunia yang semakin multipolar.
Rencana tersebut disampaikan dalam konferensi pers Madani Malindo II di Hotel Ambhara, Jakarta, Rabu (12/8/2026). Hadir sebagai narasumber antara lain Chairman CDCC Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, Ketua Yayasan CDCC Prof. Dr. Didik J. Rachbini, Steering Committee MCM Malindo Prof. Dr. R. Siti Zuhro dan Dr. Agus Wicaksono, serta Direktur Eksekutif CDCC Puti Hasanatu Syadiah.
Dorong Gagasan Negara Madani
Din Syamsuddin mengatakan, Madani Malindo sejak awal dibentuk untuk mendukung, mengembangkan, sekaligus menyempurnakan gagasan Negara Madani.
Menurut dia, gagasan tersebut memiliki perjalanan intelektual panjang. Istilah masyarakat Madani bahkan telah menjadi bagian dari diskursus intelektual di Indonesia sejak pertengahan 1990-an.
“Awal mula lahirnya MCM Malindo adalah untuk mendukung, mengembangkan, dan menyempurnakan gagasan Negara Madani,” ujar Din.
Dia mengingatkan, gagasan Madani yang kini menjadi tagline politik Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pernah mengemuka di Indonesia melalui Festival Istiqlal pada 1995.
Baca juga : Batam-Johor: Membaca Peluang Baru Konektivitas Indonesia-Malaysia
Karena itu, konsep Negara Madani dinilai tidak cukup hanya dipahami sebagai terminologi politik. Konsep tersebut perlu dikaji dari sisi teologis, filosofis, historis, hingga penerapannya dalam kehidupan negara modern.
Indonesia dengan Pancasila dan Malaysia dengan sistem kenegaraannya dinilai memiliki ruang untuk mencari titik temu antara nilai-nilai Madani dengan karakter masing-masing negara.
Din juga melihat Indonesia dan Malaysia memiliki potensi besar menjadi kekuatan penting dalam mendorong kebangkitan peradaban Islam.
“Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara serumpun yang memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan utama dalam kebangkitan peradaban Islam di dunia,” katanya.
Rancang Bangun Negara Madani
Siti Zuhro menegaskan, Madani Malindo II tidak akan berhenti pada pembahasan konseptual. Forum tersebut juga akan mencoba merumuskan bentuk dan konstruksi Negara Madani dalam konteks Indonesia.
“Acara ini akan mengulas bentuk Negara Madani yang kita bayangkan dan akan menyusun rancang bangun Negara Madani dalam perspektif Negara Pancasila,” ujarnya.
Pembahasan diharapkan dapat mempertemukan nilai universal masyarakat Madani dengan karakter Indonesia sebagai negara Pancasila yang demokratis, majemuk, dan memiliki akar sejarah yang kuat.
Cari Posisi Melayu-Islam
Baca juga : Lewat Pantun, RI-Malaysia Perkuat Benteng Ekonomi
Sementara itu, Agus Wicaksono mengatakan, perubahan tatanan dunia yang semakin multipolar membuat Indonesia dan Malaysia perlu kembali melihat posisi peradaban Melayu-Islam.
“Kita ingin mencari posisi peradaban Melayu-Islam di era yang sangat multipolar. Pada saat yang sama, kita ingin menawarkan alternatif ideologi dunia melalui gagasan Negara Madani,” jelas Agus.
Dengan demikian, Madani Malindo tidak sekadar membicarakan hubungan bilateral Indonesia-Malaysia. Forum ini juga diarahkan untuk melahirkan gagasan yang dapat ditawarkan sebagai kontribusi kawasan Melayu-Islam bagi dunia.
Perkuat Diplomasi Masyarakat
Direktur Eksekutif CDCC Puti Hasanatu Syadiah mengatakan, Madani Malindo menjadi bagian dari upaya CDCC menjembatani dialog antarperadaban sekaligus memperkuat second track diplomacy.
“CDCC sedang menjalankan area strategis, yaitu menjembatani dialog antarperadaban, dalam hal ini peradaban Melayu-Islam, dan juga berperan sebagai aktor second track diplomacy, khususnya government to people,” tutur Puti.
Menurutnya, hubungan Indonesia dan Malaysia tidak hanya dapat dibangun melalui jalur resmi antarpemerintah. Cendekiawan, akademisi, lembaga pemikiran dan masyarakat sipil juga memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan kedua negara.
Hadirkan 108 Peserta
Persidangan Madani Malindo II akan diikuti 68 peserta dari Indonesia dan 40 peserta dari Malaysia. Pembahasan akan berfokus pada tiga agenda utama, yakni Negara Madani dalam perspektif teologis, filosofis dan historis; Negara Madani dalam konteks negara era modern; serta kerangka strategis perwujudan Negara Madani.
Baca juga : Kolaborasi Ilmuwan Indonesia-Malaysia Perkuat Publikasi Jurnal Scopus
Forum akan mempertemukan cendekiawan Muslim, akademisi, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam hingga tokoh pemerintahan dari kedua negara.
Rangkaian persidangan tersebut akan ditutup dengan penyusunan Resolusi Madani Malindo Jakarta 2026.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari dunia usaha. Sejumlah mitra dan sponsor, di antaranya Indofood, Danamon Syariah, BNI, Bank Mayapada dan Alfamart, turut mendukung pelaksanaan forum.
Din mengapresiasi dukungan tersebut. Dia berharap hubungan erat Indonesia-Malaysia juga membuka peluang lebih luas bagi produk Indonesia untuk menembus pasar Malaysia dan internasional.
Bukan Sekadar Serumpun
Madani Malindo pertama kali digelar pada Agustus 2025. Persidangan kedua di Jakarta menjadi kelanjutan sekaligus upaya mematangkan gagasan “peradaban madani” sebagai strategi yang mempertemukan tradisi dan modernitas.
CDCC dan IKIM berharap kedekatan sejarah, budaya, agama dan peradaban Indonesia-Malaysia tidak berhenti sebagai warisan masa lalu.
Kedua negara diharapkan mampu mengubah modal persaudaraan serumpun tersebut menjadi kekuatan intelektual dan peradaban yang lebih konkret.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.