Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Mudik Lebaran di Perbatasan: Dinamika Penyeberangan Tawau-Nunukan dan Tarakan
Rabu, 18 Maret 2026 06:34 WIB
RM.id Rakyat Merdeka -
Oleh: Sindu Rahayu
Atase Perhubungan KBRI Kuala Lumpur
Mudik Lebaran di kawasan perbatasan menegaskan bahwa konektivitas transportasi tidak berhenti pada satu titik perjalanan. Di koridor Tawau–Nunukan dan Tarakan, perjalanan pulang ke Indonesia merupakan bagian dari rantai mobilitas yang panjang dan berlapis, yang menghubungkan lintas negara dengan jaringan transportasi antarpulau di dalam negeri.
Karakter mobilitas di kawasan perbatasan memiliki kekhasan tersendiri. Pergerakan lintas negara berlangsung secara rutin dan menjadi bagian dari aktivitas sosial, perdagangan, serta hubungan keluarga masyarakat di kedua wilayah. Dalam konteks tersebut, pelabuhan tidak hanya berfungsi sebagai simpul transportasi, tetapi juga sebagai penghubung utama mobilitas lintas negara.
Berbeda dengan wilayah lain yang didukung oleh konektivitas darat dan udara yang lebih berkembang, kawasan perbatasan seperti Sabah dan Kalimantan Utara masih bertumpu pada transportasi laut. Ketergantungan ini menempatkan jalur penyeberangan sebagai elemen penting dalam sistem mobilitas sehari-hari.
Peran tersebut tercermin pada jalur penyeberangan internasional Tawau–Nunukan yang menjadi salah satu koridor utama bagi Warga Negara Indonesia (WNI) untuk kembali ke Tanah Air air, termasuk pada periode mudik Lebaran.
Baca juga : Lestari Moerdijat: Mudik Lebaran 2026 Momentum Perkuat Persatuan dan Toleransi
Berdasarkan pemantauan lapangan yang dilakukan pada 16 Maret 2026 di Tawau Ferry Terminal, saya bersama bersama Plt. Konsul Republik Indonesia di Tawau, Bapak Dino Nurwahyudin, mencatat peningkatan arus penumpang seiring mendekatnya periode mudik. Sejak pagi hari, penumpang mulai berdatangan dengan berbagai tujuan dan latar belakang perjalanan. Sebagian membawa barang bawaan dalam jumlah besar, sementara lainnya bepergian bersama keluarga. Suasana pelabuhan tetap kondusif, dengan proses pelayanan yang berjalan tertib tanpa penumpukan berarti.
Mayoritas penumpang merupakan WNI yang bekerja di Malaysia dan hendak kembali ke tanah air untuk merayakan Lebaran. Selain itu, terdapat pula warga Malaysia yang memiliki hubungan keluarga di Indonesia. Arus dua arah ini menjadi ciri khas mobilitas perbatasan yang berlangsung secara berkelanjutan.
Dari sisi operasional, layanan penyeberangan dilayani oleh 10 unit kapal penumpang, dengan mayoritas melayani rute Tawau–Nunukan. Infrastruktur dermaga memiliki kapasitas hingga delapan kapal, namun pada saat pemantauan hanya empat dermaga yang dioperasikan secara aktif. Dengan frekuensi sekitar lima perjalanan per hari, kapasitas tersebut masih mampu mengakomodasi permintaan penumpang secara optimal.
Atase Perhubungan KBRI Kuala Lumpur Sindu Rahayu membantu WNI naik kapal untuk mudik Lebaran ke Tanah Air.
Peningkatan pergerakan penumpang telah terlihat sejak beberapa hari sebelumnya. Pada Jumat dan Sabtu, jumlah penumpang yang datang masing-masing tercatat 517 dan 533 orang, sementara yang berangkat menuju Indonesia mencapai 526 dan 362 orang.
Memasuki hari pemantauan, arus mobilitas tetap tinggi dengan 486 penumpang tiba di Tawau dan 316 penumpang berangkat menuju Indonesia. Penumpang didominasi oleh kelompok lanjut usia, sehingga memerlukan perhatian khusus dalam aspek pelayanan, terutama terkait mobilitas dan kondisi kesehatan.
Baca juga : H-5 Lebaran, Penyeberangan Jawa ke Sumatera Terpantau Lancar Terkendali
Pada saat yang sama, rute penyeberangan langsung Tawau–Tarakan belum beroperasi akibat kendala administratif terkait perizinan. Akibatnya, seluruh calon penumpang menuju Tarakan harus melalui Nunukan terlebih dahulu. Konsentrasi arus pada satu jalur ini secara langsung memengaruhi pola distribusi pergerakan di kawasan perbatasan.
Bagi sebagian besar penumpang, penyeberangan ini bukanlah akhir perjalanan. Setibanya di Nunukan, mereka masih melanjutkan perjalanan ke berbagai daerah seperti Berau, Balikpapan, Pare-Pare, Enrekang di Sulawesi Selatan, Palu melalui Pelabuhan Pantoloan, hingga Nusa Tenggara Barat.
Perjalanan lanjutan umumnya dilakukan melalui kombinasi transportasi darat dan kapal laut domestik, termasuk layanan PT PELNI. Dari Nunukan, penumpang dapat melanjutkan perjalanan menggunakan KM Bukit Siguntang menuju Kupang atau KM Lambelu ke Pare-Pare dan Pantoloan, sebelum melanjutkan perjalanan darat menuju tujuan akhir.
Rangkaian perjalanan tersebut menempatkan penyeberangan internasional sebagai pintu masuk awal dalam jaringan konektivitas yang lebih luas. Mobilitas di kawasan perbatasan pada dasarnya terhubung dengan sistem transportasi antarpulau, meskipun belum sepenuhnya terintegrasi secara optimal.
Sebelum pandemi Covid-19, tersedia alternatif konektivitas udara melalui rute Tawau–Tarakan namun hingga kini belum kembali beroperasi. Apabila dibuka kembali, rute ini berpotensi memberikan pilihan perjalanan yang lebih cepat sekaligus mengurangi tekanan pada jalur penyeberangan laut.
Baca juga : H-6 Lebaran, Mobilitas Penyeberangan Bali–Jawa Naik 33,8 Persen
Dari aspek pelayanan, fasilitas pelabuhan telah dilengkapi dengan jalur pemeriksaan keimigrasian terpisah serta jalur khusus bagi penumpang dengan paspor Malaysia, Indonesia, dan China. Alur pemeriksaan berjalan sistematis, dengan urutan kastam dan imigrasi yang tertata.
Tarif penyeberangan relatif terjangkau, yaitu 138 ringgit (Rp 553 ribu) untuk dewasa dan 79 ringgit (Rp 341 ribu) untuk anak-anak, dengan fasilitas bagasi gratis hingga 10 kg serta biaya tambahan sebesar 1,80 ringgit (Rp 7.783) per kilogram untuk kelebihan bagasi. Pada periode angkutan Lebaran ini terdapat penyesuaian tarif sekitar 20 ringgit (Rp 86.400) akibat kenaikan biaya operasional. Di sisi lain, sistem pembelian tiket yang masih berbasis walk-in berpotensi menimbulkan antrean pada periode puncak.
Secara umum, Tawau Ferry Terminal berada dalam kondisi siap melayani arus mudik, dengan operasional yang berjalan aman, tertib, dan lancar serta koordinasi antarinstansi yang solid. Namun lebih jauh, dinamika di jalur ini memperlihatkan bahwa konektivitas transportasi perbatasan tidak semata soal ketersediaan layanan, melainkan tentang bagaimana sistem tersebut mampu menghubungkan rangkaian perjalanan masyarakat secara utuh.
Di balik setiap angka penumpang, terdapat perjalanan yang belum selesai, yang masih berlanjut melalui penyeberangan berikutnya, perjalanan darat, atau perpindahan moda transportasi hingga mencapai kampung halaman.
Ke depan, tantangan tidak lagi terletak pada keberadaan jaringan, melainkan pada upaya menghadirkan sistem yang lebih terintegrasi, efisien, dan responsif terhadap lonjakan mobilitas, khususnya pada periode mudik Lebaran.***
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya