RM.id Rakyat Merdeka - Presiden China Xi Jinping kembali menginjakkan kaki di Mesir setelah satu dekade. Kunjungan ini bukan sekadar lawatan kenegaraan. Beijing tengah memperkuat cengkeramannya di kawasan yang diguncang konflik dan ketidakpastian hubungan dengan Amerika Serikat (AS).
Xi Jinping tiba di Bandara Internasional Kairo, Mesir, bersama Ibu Negara Peng Liyuan, Selasa (1/9/2026). Keduanya baru saja menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Shanghai Cooperation Organisation (SCO) di Bishkek, Kirgizstan.
Kunjungan tersebut berlangsung di tengah situasi keamanan dan ekonomi yang bergejolak di kawasan. Konflik yang melibatkan AS, Israel dan Iran sejak Februari lalu telah mengganggu pasar energi global, sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai keandalan Washington DC sebagai mitra keamanan jangka panjang bagi negara-negara di kawasan.
Bagi Mesir, kedatangan Xi menjadi momen penting. Sepekan sebelum kedatangannya, berbagai surat kabar, televisi dan radio Mesir ramai memberitakan eratnya hubungan Kairo dan Beijing.
Media Pemerintah Mesir secara khusus menyoroti hubungan ekonomi dan militer yang semakin erat antara kedua negara.
Negeri Piramid itu juga disebut sebagai negara Arab dan Afrika pertama yang menjalin hubungan diplomatik dengan China, sekitar 70 tahun lalu.
Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan Ibu Negara Entissar Amer menyambut langsung Xi dan Peng Liyuan di bandara pada Selasa petang waktu setempat.
Karpet merah digelar. Barisan tentara berseragam, penari tradisional, serta pemuda Mesir yang mengibarkan bendera China dan Mesir turut memeriahkan penyambutan tersebut.
Baca juga : Audi Marissa, Suami Posting Pesan Perpisahan
El-Sisi berbincang akrab dan tertawa bersama Xi saat mendampingi rombongan China menuju iring-iringan kendaraan kepresidenan.
“Mesir dan China telah menjadi mitra yang bersama-sama berkontribusi dalam memperkuat peran Global Selatan dalam sistem internasional,” tulis El-Sisi dalam artikel opini yang dimuat surat kabar Pemerintah Al-Ahram, Senin (31/8/2026).
Dalam komentar yang diterbitkan kantor berita Pemerintah China, Xinhua, Xi menyebut Mesir dan China sebagai saudara dekat yang saling mendukung dalam menghadapi imperialisme dan kolonialisme.
“Kami berharap dapat menjajaki kemitraan yang lebih mendalam dengan Mesir,” tulis Xi.
Hubungan China dan Mesir mencakup berbagai bidang, mulai dari ekonomi, perdagangan hingga keamanan. Salah satu kerja sama yang belakangan semakin menonjol adalah sektor militer.
Pada Agustus 2026, Mesir menjadi tuan rumah latihan militer tahunan keduanya bersama China. Latihan serupa pertama kali digelar pada 2025, ketika Beijing mulai berupaya memperluas pengaruhnya di kawasan yang selama ini menjadi salah satu wilayah utama bagi kepentingan strategis AS.
Dalam latihan tersebut, China untuk pertama kalinya mengerahkan jet tempur J-16 ke Afrika. Latihan juga mencakup pertempuran udara yang melibatkan pesawat tempur buatan China dan jet Rafale buatan Prancis.
Sebuah pesawat tanker Angkatan Udara China bahkan terlihat melakukan pengisian bahan bakar untuk pesawat Rafale. Hal itu memberikan kesempatan bagi militer China untuk mengamati lebih dekat salah satu sistem pesawat tempur buatan Barat.
Baca juga : Dipastikan Gus Ipul, Istana Tidak Intervensi Pemilihan Ketum PBNU
Meski hubungan dengan Beijing semakin erat, Mesir tetap memiliki hubungan pertahanan yang kuat dengan Washington.
Kairo masih menjadi penerima bantuan militer AS sekitar 1,3 miliar dolar AS per tahun atau sekitar Rp 23,1 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.780 per dolar AS.
Kondisi tersebut menunjukkan posisi Mesir yang unik. Kairo tidak sepenuhnya meninggalkan Washington, tetapi pada saat yang sama terus memperluas hubungan dengan China, Rusia, dan negara-negara Eropa.
Pakar dari lembaga kajian Royal United Services Institute H.A. Hellyer mengatakan, Mesir telah berupaya mempererat hubungan dengan Beijing setidaknya sejak 2014. Saat itu, El-Sisi yang baru terpilih sebagai presiden melakukan kunjungan ke China dan menandatangani kesepakatan kemitraan strategis.
Menurut dia, komunikasi Kairo terhadap Washington juga mulai melunak sejak awal kepemimpinan El-Sisi. “Namun, pertanyaan mengenai keandalan dan ketidakpastian sikap Amerika telah memperkuat keinginan Mesir untuk mendiversifikasi kemitraan,” katanya, dikutip Reuters, Rabu (2/9/2026).
Jadi Pintu Ke Afrika
Posisi geografis Mesir menjadi salah satu alasan penting bagi Beijing. Negara tersebut berada di persimpangan Afrika, Timur Tengah dan jalur perdagangan global.
Mesir berbatasan dengan Israel, Sudan dan Libya. Negara itu juga menguasai Terusan Suez, salah satu jalur perdagangan paling strategis di dunia yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Mediterania.
Karena posisi tersebut, Mesir kerap dipandang sebagai titik tumpu strategis oleh berbagai kekuatan asing di tengah kawasan yang tidak stabil dan didera berbagai konflik.
Baca juga : Asap Karhutla Tembus Filipina
Investasi China di Mesir pun meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Miliaran dolar AS mengalir ke berbagai sektor. Termasuk manufaktur, pelabuhan, energi surya, hidrogen hijau, hingga teknologi satelit.
“Mesir pilihan yang jelas untuk dikunjungi Xi karena negara ini berada di pusat berbagai isu regional,” ujar salah satu pendiri China Global South Project, Eric Olander.
Menurut Olander, Mesir juga memiliki peran penting dalam berbagai upaya perdamaian antara Israel dan Palestina.
“Mesir juga jadi pintu ke Afrika, sekaligus ke Teluk Persia,” ujarnya. DAY
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Kamis, 3 September 2026 dengan judul "Absen 10 Tahun, Xi Jinping Kembali Ke Kairo Geser AS, China Perkuat Cengkraman Di Mesir"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.