RM.id Rakyat Merdeka - Jurnalis Rakyat Merdeka Anggowo Adi berkesempatan mengikuti IV International Fishing Tournament yang digelar Rosatom State Atomic Energy Corporation di Rusia. Bersama dua nelayan asal Ternate, Maluku Utara, perjalanan sepekan itu diwarnai cerita lucu, kejutan budaya, hingga pengalaman pertama menginjakkan kaki di Negeri Beruang Merah. Berikut laporannya.
Rakyat Merdeka dan rombongan peserta Turnamen Memancing Internasional IV di danau PLTN Kalinin, bergerak menuju Kota Udomlya, Wilayah Tver, Rusia. Sebagai anker (anak kereta), bagi saya ini bukan perjalanan biasa. Bisa naik kereta cepat di Rusia, bagaikan mimpi.
Apalagi kereta yang kami naiki berangkat dari sebuah stasiun megah di jantung Moskow. Dari luar, bangunannya lebih mirip gedung konser atau museum ketimbang stasiun kereta.
Minggu (27/9/2026), sekitar pukul 05.00, kami tiba di Leningradsky Station. Baru turun dari bus sambil memanggul tas gunung, saya langsung bergumam,”Ini stasiun atau gedung konser?”
Memang benar. Leningradsky Station punya wajah klasik yang mengesankan. Bangunan bergaya neoklasik itu, merupakan karya arsitek Konstantin Thon dan berdiri kokoh dengan menara jam yang menjadi ciri khasnya.
“Stasiun ini baru direnovasi besar-besaran pada Mei lalu,” kata seorang warga lokal.
Leningradsky berada di Komsomolskaya Square, kawasan yang dikenal sebagai Square of Three Stations. Sesuai namanya, tiga stasiun besar Moskow berdiri berdampingan di kawasan ini: Leningradsky, Yaroslavsky dan Kazansky.
Baca juga : Aji Muhawarman: Peningkatan Karena Pengaruh Musim
Stasiun Leningradsky pertama kali dibuka pada 1851 dengan nama Nikolayevsky Station. Kini, bangunan bersejarah itu menjadi salah satu cagar budaya penting di Moskow. Renovasi terbarunya mengembalikan detail ukiran gipsum dan langit-langit tinggi ke bentuk aslinya. Namun, interior ruang tunggunya dibuat lebih modern, luas dan terang. Dari sinilah perjalanan kami berlanjut menuju Wilayah Tver.
Kereta Dua Lantai
Tujuan kami adalah Kota Udomlya. Dari Leningradsky, kami naik kereta menuju Vyshny Volochyok. Dari sana perjalanan dilanjutkan melalui jalan darat sejauh sekitar 54 kilometer menuju Udomlya.
Sebelum naik kereta, tentu ada prosedur yang harus dilewati para calon penumpang. Barang bawaan diperiksa. Penumpang pun diarahkan melalui jalur yang sudah tersedia.
Di dalam stasiun, papan informasi elektronik menjadi pusat perhatian. Nama kereta, nomor perjalanan, tujuan, waktu keberangkatan hingga nomor peron tampil bergantian.
Fasilitasnya pun lengkap. Ada ruang tunggu dengan deretan kursi, loket dan mesin tiket, toko kecil, tempat makan hingga fasilitas pelayanan penumpang. Petunjuk dalam bahasa Rusia dan Inggris memudahkan penumpang mencari toilet, eskalator, lift maupun akses menuju peron.
Rusia memang punya tradisi panjang dalam urusan kereta api. Tak heran, perjalanan dengan kereta di Negeri Beruang Merah terasa seperti pengalaman tersendiri.
Ada dua kereta yang menarik perhatian kami. Pertama, Aurora. Kereta antarkota modern milik RZD, perusahaan kereta api Rusia, memiliki dua lantai atau double-decker. Kereta tersebut melayani rute Moskow-St. Petersburg dan dirancang untuk mengangkut lebih banyak penumpang dengan tarif yang relatif terjangkau.
Baca juga : DPR: Penindakan Truk ODOL Jangan Cuma Ke Pengemudi
Kecepatannya bisa mencapai 160 kilometer per jam. Sebagai pembanding, kecepatan itu sekitar 40 kilometer per jam lebih tinggi dibandingkan kereta Argo Bromo Anggrek pada rute Jakarta-Surabaya.
Kereta, kedua yang tak kalah menarik adalah Sapsan, atau burung alap-alap. Inilah kereta flagship Rusia berbasis platform Siemens Velaro yang mampu melaju hingga 250 kilometer per jam.
Setelah memastikan nomor kereta dan kursi, kami masuk ke gerbong 9.
Paspor diperiksa kondektur sebelum kami menempati kursi. Begitu masuk, kesan modern langsung terasa. Tangga menghubungkan lantai atas dan bawah.
Kursi berwarna biru cerah tersusun dengan konfigurasi 2+2 dan sebagian saling berhadapan, lengkap dengan meja lipat serta rak bagasi di atas. Di sudut gerbong tersedia dispenser air panas. Layar digital menampilkan informasi perjalanan secara real-time, termasuk suhu.
Duduk di pinggir jendela berukuran besar, saya termangu memandangi rumah-rumah, gedung, stasiun kecil hingga dedaunan pepohonan yang berwarna kuning keemasan khas awal musim gugur, menjadi pemandangan yang sulit diabaikan.
Maklum, kami datang saat awal musim gugur. Saya pun larut menikmati pemandangan. Tak terasa, sekitar 2,5 jam perjalanan berlalu. Kereta sebentar lagi tiba di Vyshny Volochyok. Di sinilah petualangan kecil yang tak ada dalam jadwal perjalanan dimulai.
Pintu Macet Bikin Panik
Baca juga : Zulhas Tawarkan 5 Mesin Hijau Untuk Dongkrak Pertumbuhan
Kereta hanya berhenti sekitar satu menit. Artinya, kami tidak boleh santai. Sambil menggeret koper dan memanggul backpack, kami sudah berdiri mengantre di dekat pintu beberapa saat sebelum kereta berhenti. Sehingga begitu roda kereta benar-benar berhenti, kami tinggal turun. Tapi kenyataan berkata lain. Pintu keluar otomatis tiba-tiba macet!
Kondektur dan pramugari langsung sibuk. Kami yang sudah berdiri dengan koper pun ikut panik. Tak mau mengambil risiko, para petugas kemudian mengarahkan kami berbalik menuju pintu belakang.
Masalahnya, pintu belakang tidak dekat. Kami harus berlari sambil menarik koper, melewati lorong gerbong. Kami juga harus melawan arus penumpang yang justru sedang bergegas masuk dari stasiun. Suasana saat itu mendadak seperti adegan film. Kami harus berlari sambil memanggul tas dan menarik koper.
Di tengah kepanikan itu, seorang pramugari cantik akhirnya mengibarkan bendera merah ke arah masinis di lokomotif. Pesannya jelas: tunggu! Untungnya, semua anggota rombongan berhasil turun. Tidak ada yang tertinggal. Dan yang paling penting, kami tidak ikut terbawa menuju St. Petersburg.
Kami pun tertawa setelah sampai di luar stasiun. Ketegangan beberapa menit sebelumnya berubah menjadi bahan lelucon sepanjang perjalanan menuju bus.
Stasiun kecil di Vyshny Volochyok yang eksotis itu akhirnya menjadi salah satu cerita paling berkesan dalam perjalanan kami di Rusia.
Bukan karena pemandangannya. Bukan pula karena keretanya yang melaju kencang. Melainkan karena sebuah pintu yang macet. Pintu yang nyaris membuat kami mendapat bonus perjalanan hingga St. Petersburg. (Bersambung)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.