BREAKING NEWS
 

Kisah Seru Dari Negeri Beruang Merah (6/Selesai)

Tak Gondol Piala, Tim Indonesia Bawa Cerita

Reporter : ANGGOWO ADI SEPTANINGRAT
Editor : KARTIKA SARI
Minggu, 11 Oktober 2026 07:07 WIB
Speedboat para peserta lomba memancing di Danau PLTN Kalinin, Rusia, dipasang bendera masing-masing negara. (Foto: Anggowo Adi/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jurnalis Rakyat Merdeka Anggowo Adi berkesempatan mengikuti IV International Fishing Tournament yang digelar Rosatom State Atomic Energy Corporation di Rusia. Bersama dua nelayan asal Ternate, Maluku Utara, perjalanan sepekan itu diwarnai cerita lucu, kejutan budaya, hingga pengalaman pertama menginjakkan kaki di Negeri Beruang Merah. Berikut laporannya.

Tak membawa pulang gelar juara, tim Indonesia justru mendapat pengalaman berharga di Udomlya. Dari drama umpan dan zander yang susah dipancing, pengujian radiasi ikan di dekat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kalinin, hingga jejak sejarah dan musik tradisional Rusia, semuanya menjadi cerita yang tak terlupakan.

Tiga jam sudah berlalu. Lomba memancing berakhir. Satu per satu speedboat peserta merapat kembali ke dermaga. Saya dan seorang jurnalis BeritaSatu langsung pasang mata. Kami tak sabar ingin melihat hasil tangkapan tim Indonesia.

Maklum, sejak malam sebelumnya, kami ikut menyaksikan perjuangan dua pemancing asal Ternate, Nasrun Masraoly (48) dan Nurdjan Soleman (67), meracik umpan dari bahan seadanya. Bahkan, urusan meramu umpan itu berlangsung sampai larut malam.

Harapan kami, perjuangan panjang tersebut berbuah tangkapan yang bikin bangga. Namun, begitu mendekat, yang terlihat justru wajah lesu. Tak ada senyum kemenangan. Tak ada ikan besar yang dipamerkan.

“Cuma dapat satu. Kayaknya zander. Kecil,” celetuk Nasrun.

“Lho, kok cuma satu? Yah, nggak jadi dapat bonus dari bos tambang dong,” canda saya, mencoba menghibur.

Nasrun dan Nurdjan tertawa kecut. Rupanya, nasib kurang mujur bukan hanya milik mereka. Sejumlah peserta lain juga pulang dengan tangan kosong. Ada yang sudah berjam-jam menunggu, tetapi ikan tak kunjung menyambar umpan.

Padahal, menurut Nasrun, ikan terlihat berseliweran di layar monitor Garmin yang terpasang di speedboat. Artinya, ikan ada. Bahkan, terlihat cukup banyak.

Masalahnya, ikan-ikan itu seolah tak tertarik dengan umpan para pemancing.

Baca juga : Saran Komisi IX DPR: Pilih Penentuan Nilai Lebih Tinggi

“Ikannya sih banyak. Kan kelihatan di layar. Tapi ikannya pada kabur karena ombak dari kapal-kapal wartawan, makanya cuma dapat satu,” selorohnya.

Kami pun tertawa. Wartawan rupanya ikut masuk daftar tertuduh penyebab gagalnya perburuan ikan!

Di balik kelakar itu, ada pelajaran sederhana: memancing bukan sekadar soal umpan. Cuaca, kondisi air, teknik memancing, hingga lalu-lalang kapal bisa ikut menentukan hasil. Ikan boleh terlihat di layar, tetapi membuatnya menyambar umpan ternyata perkara lain.

Tes Radiasi

Ada hal lain yang membuat pengalaman memancing kali ini terasa berbeda. Danau Udomlya, lokasi lomba, berada di dekat PLTN Kalinin. Bagi sebagian orang, mendengar kata nuklir saja sudah cukup untuk memunculkan berbagai pertanyaan. Bagaimana kondisi lingkungan di sekitarnya? Apakah ikan-ikan di danau aman? Bagaimana dengan kehidupan biota air di kawasan tersebut? Pertanyaan-pertanyaan itu ikut mengiringi perjalanan kami.

Usai lomba, seluruh delegasi dikumpulkan untuk menyaksikan demonstrasi pengujian radiasi pada ikan hasil tangkapan. Seekor ikan dipilih secara acak, kemudian diperiksa menggunakan alat khusus di hadapan para peserta. Hasil pengukuran yang diperlihatkan saat itu menunjukkan tingkat paparan radiasi yang rendah.

Bagi kami, sesi ini menjadi salah satu bagian paling menarik dari rangkaian kegiatan. Bukan semata-mata karena ada ikan yang diperiksa, melainkan karena kami berkesempatan melihat langsung bagaimana pihak pengelola menjelaskan kondisi lingkungan di sekitar fasilitas nuklir.

Nurdjan pun mengaku mendapatkan pengalaman menarik selama mengikuti lomba. “Selama mancing, kami merasa aman dan nyaman. Ikan juga terlihat banyak. Pengalaman ini menarik karena kami bisa melihat langsung kondisi danau di dekat PLTN,” ujarnya.

Kepala Departemen Perlindungan Lingkungan PLTN Kalinin, Andrey Danilkin, menjelaskan bahwa ekosistem Danau Udomlya berada dalam pengawasan sesuai regulasi Federasi Rusia.

Adsense

Menurut dia, pemantauan lingkungan dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan Tverskoy Gidromet, badan yang menangani meteorologi dan pemantauan lingkungan di Wilayah Tver. Pengawasan mencakup kualitas air, vegetasi, hingga satwa liar.

“Banyaknya ikan yang didapat pemancing adalah bukti ekosistem di sini sangat sehat. Secara ilmiah, tidak ada perbedaan karakteristik antara ikan di sini dengan danau murni lainnya di Rusia. Semuanya bebas dari dampak radiasi,” terang Danilkin.

Baca juga : Budi Gunadi Ajak Investor Garap Pasar Kesehatan RI

Penjelasan itu memberikan gambaran tentang pemantauan lingkungan di sekitar PLTN Kalinin. Namun, tentu saja, satu kali pengujian terhadap seekor ikan belum cukup untuk menyimpulkan kondisi seluruh ekosistem danau. Penilaian menyeluruh tetap membutuhkan data pengukuran berkala dan pemeriksaan dari berbagai aspek.

Setidaknya, perjalanan ini mengingatkan kami bahwa kehidupan di sekitar fasilitas nuklir bukan hanya soal reaktor, teknologi, dan prosedur keselamatan. Ada danau, ikan, tumbuhan air, satwa liar, serta kehidupan masyarakat yang tak bisa dipisahkan dari lingkungan setempat.

Menyusuri Jejak Sejarah Udomlya

Usai lomba, kami bergegas menuju pusat kota. Tujuan kami Jalan Prospekt Energetikov Nomor 2, tempat Museum Sejarah Lokal Udomlya atau Udomelsky Museum of Local Lore berada.

Museum ini menyajikan perjalanan sejarah Udomlya dan kaitannya dengan perkembangan Wilayah Tver serta Rusia. Kami juga mendapat informasi mengenai pemugaran besar-besaran yang pernah dilakukan pada 1977.

Begitu memasuki lorong dan ruang pamer, kami mulai menemukan sisi Udomlya yang sebelumnya tak banyak kami ketahui. Kota ini ternyata punya kaitan dengan sejumlah tokoh terkenal.

Ada pelukis Alexei Venetsianov dan Isaac Levitan, komposer Vasily Andreyev, ilmuwan Dmitri Mendeleev, serta Alexander Popov yang dikenal atas kontribusinya dalam pengembangan teknologi radio.

Nama-nama tersebut memperlihatkan bahwa Udomlya bukan sekadar kota kecil dengan danau dan pembangkit listrik nuklir. Wilayah ini juga memiliki jejak sejarah dan kebudayaan yang menarik untuk ditelusuri.

Tentu saja, sejarah pembangunan PLTN Kalinin pada era 1980-an tak luput dari perhatian. Kehadiran pembangkit tersebut turut mendorong perkembangan Udomlya sebagai pusat permukiman dan aktivitas para pekerja di sektor nuklir.

Namun, ada satu hal lagi yang mencuri perhatian kami: balalaika. Alat musik petik tradisional Rusia ini memiliki bentuk segitiga yang khas.

Balalaika juga lekat dengan lagu Wind of Change milik band legendaris Scorpions. Nuansa musik Rusia dalam lagu tersebut ikut membuat alat musik ini dikenal oleh pendengar di berbagai belahan dunia.

Baca juga : 1.509 Kadet Mengabdi Di 181 Sekolah Rakyat

Malam harinya, para delegasi kembali berkumpul di Gedung Serbaguna Kota Udomlya untuk menghadiri gala dinner sekaligus pengumuman pemenang lomba.

Inilah saat yang ditunggu-tunggu para peserta. Siapa yang berhasil membawa pulang gelar juara?

Tim Malaysia keluar sebagai pemenang kategori ikan terbesar setelah mendapatkan zander berbobot 1,7 kilogram. Rusia menjadi juara kategori most catch atau jumlah tangkapan terbanyak. Sedangkan Hungaria membawa pulang penghargaan khusus Will to Win.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Kali ini, kami harus mengakui keunggulan peserta lain. Tim Indonesia belum berhasil membawa pulang gelar juara. Tapi no problem, kok. Tak semua perjalanan harus berakhir dengan piala.

Malam itu, suasana gala dinner berlangsung meriah. Para tamu disuguhi penampilan penari berbusana tradisional sarafan, pakaian khas Rusia yang memberi warna tersendiri pada perayaan malam tersebut. Alunan balalaika pun menambah kental suasana Negeri Beruang Merah.

Pesta semakin semarak ketika acara ditutup dengan tarian rakyat Rusia. Para peserta bergandengan tangan, menari, dan bergerak mengelilingi ruangan. Semua larut dalam kegembiraan yang sama.

Dari Ternate ke Udomlya, dari umpan rakitan tutup botol hingga seekor zander yang berhasil dipancing, perjalanan ini meninggalkan cerita yang jauh lebih besar daripada hasil lomba. Kami datang dengan rasa penasaran. Pulang membawa pengalaman, persahabatan, dan sudut pandang baru tentang kehidupan di sekitar PLTN. Spasiba, Rusia! (Habis)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense