BREAKING NEWS
 

Moderasi Beragama Di Indonesia (13)

Antara Politik Islam Dan Islam Politik

Kamis, 30 Januari 2025 06:30 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Nabi Muhammad Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat, sekaligus pemimpin bangsa, luar biasa. Bukan hanya selalu sukses di medan perang tetapi juga selalu unggul dalam dunia diplomasi.

Dia seorang diplomat yang kawakan, disegani kawan dan musuh. Di medan perang ia juga sering tampil sebagai panglima angkatan perang dengan sangat mengesankan semua pihak. Ia seolah membawa dunia diplomasi dan dunia perang yang amat berbeda dengan masyarakat (Arab) sebelumnya.

Contoh perjuangan diplomasi Nabi ialah memanggil Suhael berdiskusi dengan Nabi. Setelah itu, Rasulullah menerangkan kepada para sahabatnya, mengapa perjanjian itu diterima.

Pertama pencoretan kata bismillahirrahmanirrahim dan kata Rasulullah memang masalah tetapi lebih besar akibatnya bagi umat Islam jika perjanjian itu ditolak, karena posisi umat Islam masih minoritas. Butir-butir perjanjian itu diterima agar kaum kafir Quraisy Mekah tidak ditahan di Madinah agar tidak ikut membebani ekonomi Madinah yang sudah dibanjiri pengungsi.

Sedangkan orang Islam yang dibiarkan ditahan di Mekkah pasti akan berusaha menjalankan politik tertentu untuk memecah belah kekuatan kaum kafir Quraisy di sana. Alhasil, semua prediksi Rasulullah benar dan sahabat kemudian mengagumi kecerdasan Rasulullah SAW.

Baca juga : Negara Islam Atau Negara Islami?

Sesungguhnya inilah politik Islam. Terkadang harus mundur selangkah untuk meraih kemenangan. Dalam posisi umat Islam masih minoritas, tidak ada cara terbaik kecuali kooperatif dengan keinginan mayoritas, demi menyelamatkan umat. Terkadang juga harus bersabar dan menanti saat yang tepat saat memulai sebuah strategi baru untuk mencapai kesuksesan menyeluruh.

Politik Islam bukan untuk mentolerir jatuhnya korban, hanya demi mencapai kemenangan politik secara simbolis. Kemenangan substansial jauh lebih berharga ketimbang kemenangan simbolik. Untuk apa kemenangan simbolik jika substansi Islam tidak bisa diimplementasikan.

Ketika Ali dan Mu’awiya berseteru, masing-masing tidak ada yang mau mengalah. Ali sudah dilantik menjadi khalifah keempat tetapi tidak diakui oleh Mu’awiyah. Karena tidak ada yang mau mengalah maka terjadilah peperangan yang disebut Perang Shiffin.

Adsense

Mu’awiyah didukung oleh ‘Aisyah, isteri Nabi. Dan Ali, tentu saja didukung oleh isterinya, Fathimah, putri Nabi. Perang tidak dapat dielakkan antara keduanya.

Di tengah perang saudara ini, Amr ibn ‘Ash yang dikenal sebagai politikus cerdik di pihak Mu’awiyah, menyerukan gencatan senjata dan perdamaian.

Baca juga : Merawat Toleransi Beragama

Ia menggunakan simbol 500 Al- Qur’an yang diusung diujung tombak sambil mengajak semua pasukan untuk kembali kepada penyelesaian secara Al-Qur’an. Ali dan Mu’awiyah menyetujuinya.

Ali mengutus Abu Musa al-Asy’ary, seorang ulama yang disegani dan Amr ibn Al-Ash mewakili pihak Mu’awiyah. Amr ibn ‘Ash tahu keshalihan dan kelemahan Abu Musa. Amr meminta agar demi kemuliaan Islam dan demi kemaslahatan umat Islam, sebaiknya Ali dan Mu’awiyah mengundurkan diri lalu dicari tokoh lain yang lebih netral.

Dengan lugu Abu Musa, perunding mewakili pihak Ali ibn Abi Thalib menerima usulan itu. Ia diminta berpidato di lebih awal di depan massa dan pasukan kedua belah pihak.

Ia menyerukan bahwa sekarang ini tidak ada lagi khalifah dan kini saatnya kita akan mencari khalifah yang dapat diterima oleh semua pihak.

Tiba giliran Amr ibn ‘Ash, menelikung pernyataan itu dengan mengatakan, oleh karena sekarang tidak ada lagi khalifah maka dengan ini kami melegalkan Mu’awiyah sebagai khalifah. Tentu saja pihak Ali tidak menerimanya. Maka peperangan pecah kembali. Begitulah seterusnya hingga Ali mati terbunuh.

Baca juga : Meng-Indonesiakan Umat Beragama

Perang Shiffin merupakan perang saudara dalam dunia Islam. Peperangan ini sering disebut fitnah kubra atau fitnah terbesar dalam sejarah umat Islam. Fitnah inilah kemudian melahirkan aliran teologi seperti syi’ah, murji’ah, khawarij, dan simbol ahlu sunnah.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 7, edisi Kamis, 30 Januari 2025 dengan judul "Moderasi Beragama Di Indonesia (13), Antara Politik Islam Dan Islam Politik"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense