Dark/Light Mode
Moderasi Beragama Di Indonesia (12)
Negara Islam Atau Negara Islami?
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Definisi “Negara Islam” sekarang menjadi sedemikian kabur ukurannya. Apakah yang akan diukur populasi penduduknya, eksistensi pemimpinnya, atau kekuatan pengaruh muslim di negeri itu?
Apakah yang secara tekstual dalam konstitusinya menyatakan Islam sebagai Agama Negara, Negara Islam, atau hak-hak istimewa yang diberikan kepadanya? Lebih tidak jelas lagi jika populasi muslim disebuah negara berimbang dengan kelompok agama lain.
Baca juga : Merawat Toleransi Beragama
Apakah prioritas ukurannya simbol atau substansi? Banyak negara secara simbolik sebagai Negara Islam (atau muslim) tetapi eksistensi syari’ahnya masih jauh dari maqashid al-syari’ah. Sebaliknya ada negara tidak mengeksplisitkan Islam sebagai agama negara atau hak-hak istimewa lainnya, tetapi substansi ajaran dan syari’ah dengan bebas dilakukan di sana.
Al-Mawardi dalam kitab Al-Ahkam al-Sulthaniyyah seolah menyederhanakan pengertian Kepala Negara itu sebagai: Khalifah al-nubuwwah fi hirasah al-din wa siyasah al-dunya (Kepala Negara ialah seorang pewaris Nabi untuk menjaga keutuhan agama dan kehidupan dunia). Sikap yang sama juga ditunjukkan Ibn Qayyim al-Jauziyah di dalam Igatsah Allahfan, yang menganggap urusan keberadaan Kepala Negara dalam suatu Negara tidak masuk wilayah akidah dan ibadah, tetapi masuk di dalam wilayah ijtihadi manusia.
Baca juga : Meng-Indonesiakan Umat Beragama
Di dalam Al-Qur’an sendiri pernah diisyaratkan ada sosok Kepala Negara atau Kepala Pemerintahan non-muslim, yakni penyembah matahari (QS Al-Naml/ QS 27:24), yaitu seorang perempuan bernama Ratu Balqis, dipuji di dalam Al-Qur’an sebagai: “pemilik pemerintahan superpower” (laha ‘arsyun ‘adhim/ QS 27:23) dan negerinya dilukiskan dengan: “baldatun thayyibah wa Rabbun gafur” atau negoro kang lohjinawi, toto tentrem kerto raharjo (Saba’/ QS 24:15).
Kehebatan Ratu Balqis dikisahkan panjang lebar di dalam tiga surah dalam Al-Qur’an (Saba’, al-Naml dan al-Anbiya’). Mengapa ia mendapatkan pujian sedemikian hebat, padahal para nabi tidak ada yang mendapatkan predikat seperti itu. Nabi Sulaiman menjadi rival Ratu Balqis tidak mendapatkan predikat itu, padahal, ia mempunyai kemampuan untuk membangun koalisi dengan jin dan burung (QS 27:17), kemampuan melakukan mobilitas dengan cepat, karena ia dapat ‘merekayasa angin’ (QS 21:81), kemampuan untuk melakukan eksplorasi di dasar laut (QS 21:82), kemampuan untuk berkomunikasi dengan hewan dan serangga (QS 27:18), termasuk memiliki kemampuan untuk bekerjasama dengan setan (QS 21:82).
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.