BREAKING NEWS
 

Obat HIV, TB & Malaria Dihentikan AS

Ini 3 Hal Yang Sebaiknya Dilakukan Indonesia

Sabtu, 1 Februari 2025 07:52 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Pada 28 Januari 2025 kantor berita internasional Reuters menurunkan berita berjudul “Trump order set to halt supply of HIV, malaria drugs to poor countries, sources say”, yang kemudian banyak dikutip media massa nasional kita.    

Pada 28 Januari 2025, World Health Organization (WHO) juga mengeluarkan pernyataan resmi tentang potensi ancaman kesehatan global pada orang yang hidup dengan HIV sebagai akibat penghentian anggaran untuk program ini. Selain HIV yang secara spesifik disebut WHO, mungkin saja akan ada dampak pada program pengendalian tuberkulosis di dunia, dan juga di negara kita.

Sebenarnya, berita Reuters menyebutkan bahwa yang dihentikan bukan hanya bantuan obat untuk HIV, TB, dan Malaria, tetapi juga berbagai produk kontrasepsi dan kesehatan ibu dan anak. Disebutkan bahwa semua penghentian bantuan ini sejalan dengan kebijakan penghentian sementara (pause) selama 90 hari dari dukungan bantuan ke luar negeri (foreign development assistance) oleh Amerika ­Serikat, termasuk kesehatan.

Baca juga : Hari Kemerdekaan, Hari Republik & 5 Aspek Kesehatan India

Sehubungan berita tentang penghentian bantuan (sementara setidaknya 90 hari ke depan) obat-obatan HIV, TB, dan Malaria dari Pemerintah Amerika Serikat, ada tiga hal yang perlu diantisipasi di negara kita.

Pertama, perlu segera diidentifikasi berapa besar obat-obatan untuk ketiga penyakit itu datang dari bantuan langsung pemerintah AS yang kini digunakan di negara kita untuk para masyarakat, pasien dan mereka yang memerlukannya. Yang diberitakan di media menyebutkan bahwa kontraktor dan rekanan yang bekerja dengan United States Agency for International Development (USAID) menerima memo untuk menghentikan kegiatannya. 

Adsense

Jadi kita perlu tahu pasti se­berapa besar masyarakat dan pasien kita menerima obat ­mereka dari kontraktor dan rekanan USAID ini. Kalau sudah ada jumlah dan proporsinya yang jelas maka sebaiknya diumumkan ke publik, agar tidak terjadi keresahan.  

Baca juga : Amerika Serikat dan WHO

Kedua, mungkin saja ma­sya­rakat dan pasien kita ­menerima obat mereka dari sumber ­luar negeri lain selain dari AS. ­Mungkin dari badan interna­sional lain, seperti Global Fund AIDS TB Malaria (GF ATM), yang bukan tidak mungkin obatnya bukan hanya dari AS. Atau mungkin juga ada masyarakat dan pasien kita yang ­menerima obat dari negara lain di luar AS, atau Pemerintah menjajaki hubungan kerja sama ­dengan negara di luar AS untuk mendapatkan obat-obat ini. Hasil kerja sama ini juga perlu diumumkan ke publik.

Ketiga, Pemerintah dapat memanfaatkan obat yang diproduksi dalam negeri secara maksimal. Tentu yang mutunya sudah terjamin dan sebaiknya sudah melewati proses WHO PQ (pre qualification) pula. 

Pemerintah harus menyediakan anggaran ekstra untuk membeli obat-obat ketiga penya­kit ini dari berbagai pabrik di berbagai negara, baik dari Asia maupun dari Eropa, kalau ­memang diperlukan. Pen­dekatan ketiga ini juga perlu segera diumumkan luas ke masyarakat.

Baca juga : Raker PDPI 2025, Upaya Wujudkan Kesehatan Paru Indonesia

Masalah penghentian obat untuk HIV, TB dan Ma­laria dari Amerika Serikat yang terjadi ­pada masa 100 hari pe­me­rin­tahan Presiden ­Prabowo ­Subianto tentu jadi salah ­satu tan­tangan kesehatan pen­ting. Yang ­paling utama kini ada­lah upaya maksimal harus dilakukan agar masyarakat dan pasien kita yang memerlukan obat-obat ini jangan sampai putus di tengah jalan, yang ­berakibat buruk bagi keseha­tannya dan juga mungkin ber­akibat buruk pada penularan penyakit tuberkulosis dan HIV di masyarakat kita. 

Semoga informasi yang jelas tentang betapa besar masalahnya dan berapa masyarakat dan pasien kita yang akan terdampak dengan penghentian obat dari AS ini, dan ada upaya konkret yang akan dan sudah dilakukan untuk menyelamatkan mereka yang membutuhkan berbagai obat amat penting ini.

Prof Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024 penulis artikel Covid-19 terbanyak di media massa

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense