Dark/Light Mode

Amerika Serikat dan WHO

Selasa, 21 Januari 2025 23:13 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Amerika Serikat menyatakan menarik diri dari World Health Organization (WHO). Sehubungan hal tersebut, ada tujuh hal yang ingin saya sampaikan.

Pertama, tentu harus ditunggu bagaimana implementasi atau eksekusi keputusan itu, apakah akan ada waktu tertentu sampai benar-benar terlaksana. Pernah ada informasi bahwa prosesnya akan memakan waktu 1 tahun, tetapi mungkin saja situasinya berbeda kini. 

Kedua, tentang kemungkinan dampak pada kesehatan masyarakat di Amerika Serikat, hal ini tentu akan atau sudah dikaji oleh pemerintah mereka. 

Baca juga : Raker PDPI 2025, Upaya Wujudkan Kesehatan Paru Indonesia

Ketiga, untuk situasi kesehatan dunia, ini akan jadi perhatian penting. Karena besarnya jumlah penduduk Amerika Serikat, yang juga amat banyak melakukan perjalanan ke berbagai negara di dunia. Ini tentu membawa dampak dalam pengawasan perjalanan kesehatan internasonal. 

Keempat, luas wilayah Amerika Serikat juga cukup besar, yang tentu punya aspek kesehatan masyarakat pula. 

Kelima, Amerika Serikat mempunyai berbagai pusat kajian kesehatan yang juga punya cakupan global, misalnya Center of Diseases Control and Prevention (CDC), National Institute of Health (NIH), dan lain-lain. Perlu dikaji tentang bagaimana peran berbagai organisasi ini sesudah Amerika Serikat menarik diri dari WHO. 

Baca juga : Mungkinkah PMK pada Manusia

Keenam, selain organisasi resmi pemerintah, juga cukup banyak pakar warga Amerika Serikat yang aktif dalam kesehatan global, termasuk bekerja di WHO. Selain itu, juga ada berbagai universitas ternama di Amerika Serikat yang bergerak dalam kesehatan global pula. Tentu patut ditelusuri bagaimana peran para pakar ini di kesehatan global kelak, sehubungan Executive Order President Trump di hari pertama kerjanya ini. 

Ketujuh, tentu aspek pendanaan dan anggaran WHO akan terkena dampak cukup besar kalau kontribusi dari Amerika Serikat dihentikan. Akan bergantung pada WHO tentang bagaimana kemudian mereka melakukan upaya rekayasa finansial (financial engineering) agar upaya WHO untuk menjaga kesehatan dunia akan tetap dapat terlaksana dengan baik.

Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.