BREAKING NEWS
 

Obesitas Dan Fenomena Bonus Demografi

Selasa, 3 Maret 2026 13:54 WIB
Tulus Abadi
Pengamat Perlindungan Konsumen dan Kebijakan Publik

RM.id  Rakyat Merdeka - Literasi terhadap fenomena kegemukan dan obesitas di Indonesia masih banyak yang salah kaprah. Pasalnya, kegemukan dan obesitas kerap dipandang atau dianggap normal. Berbeda halnya jika seseorang mengalami berat badan rendah, kurus, atau bahkan stunting, yang dinilai serius dan harus segera ditangani. Tentu persepsi tersebut tidak keliru.

Namun di sisi lain, jika seseorang terlihat gemuk, hal itu kerap dianggap normal, bahkan sehat. Sekalipun kondisi tubuhnya sudah mengarah pada obesitas, masih saja dinilai wajar. Respons masyarakat tidak akan seheboh ketika anak atau orang dewasa mengalami badan kurus atau stunting. Padahal, dampaknya terhadap kesehatan bisa setara karena sama-sama menimbulkan kompleksitas masalah kesehatan. Oleh sebab itu, peringatan Hari Obesitas Sedunia pada 4 Maret menjadi penting untuk membangkitkan kesadaran bahwa kegemukan dan obesitas adalah persoalan serius yang harus dimitigasi dan ditanggulangi.

Secara klinis, obesitas merupakan penumpukan lemak berlebih akibat ketidakseimbangan antara asupan energi (energy intake) dan energi yang dikeluarkan (energy expenditure) dalam jangka waktu lama.

Baca juga : Target Madura United Menjauh Dari Zona Degradasi

Saat ini, fenomena obesitas di dunia kian mengkhawatirkan. Lebih dari 800 juta orang mengidap obesitas, dan 400 juta anak diperkirakan akan mengalaminya pada 2035. Bahkan, pada tahun tersebut diprediksi sebanyak 1,9 miliar orang akan hidup dengan obesitas di seluruh dunia.

Adsense

Ironisnya, upaya penanganan obesitas pada anak dan remaja di Indonesia cenderung stagnan. Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan prevalensi kegemukan dan obesitas mencapai sekitar 19,7 persen pada anak usia 5–12 tahun dan 16 persen pada usia 13–15 tahun. Angka ini tidak jauh berbeda dengan hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 yang masing-masing sebesar 19,8 persen dan 16,2 persen pada kelompok usia yang sama.

Dari sisi dampak kesehatan, setidaknya terdapat lebih dari 15 jenis penyakit yang berisiko menyertai obesitas, seperti hipertensi, stroke, asma, penyakit ginjal, penyakit kolon, jantung koroner, diabetes melitus tipe 2, gangguan prostat, hingga kanker.

Baca juga : Sesmendukbangga: Daerah Harus Serius Manfaatkan Bonus Demografi

Data BPJS Kesehatan menunjukkan dominannya penyakit katastropik, yakni penyakit yang dipicu faktor gaya hidup. Kegemukan dan obesitas menjadi salah satu pemicunya. Lebih dari 20 persen pembiayaan BPJS Kesehatan terserap untuk penanganan cuci darah, jantung koroner, kanker, dan diabetes melitus. Tragisnya, prevalensi penyakit tersebut terus meningkat, dan kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Anak-anak muda pun mulai terdampak. Dari sisi sosial ekonomi, penyakit katastropik juga menyasar rumah tangga menengah ke bawah, tidak lagi terbatas pada kelompok ekonomi atas.

Secara sosiologis, mitigasi obesitas sejatinya sederhana dan relatif murah, yakni dengan menerapkan pola konsumsi sehat dan bergizi, memperbanyak buah, sayur, dan air putih, serta menghindari minuman manis, termasuk Minuman Manis Dalam Kemasan (MBDK). Selain itu, kebiasaan merokok, baik konvensional maupun elektronik, perlu dihindari. Aktivitas fisik juga penting, seperti joging, berjalan kaki minimal 5.000 langkah per hari, berlari, senam, berenang, dan olahraga lainnya. Sayangnya, tingkat kesadaran dan literasi masyarakat terhadap langkah-langkah pencegahan tersebut masih relatif rendah.

Di sisi kebijakan, upaya pengendalian juga dinilai belum optimal. Hingga kini, pemerintah dinilai masih ambigu dalam mengendalikan konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, garam, dan lemak (GGL). Implementasi PP Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan belum berjalan maksimal dan disebut-sebut terhambat tekanan dari sejumlah pihak industri, termasuk industri rokok.

Baca juga : Korupsi Dan Orang-orang Biasa

Tanpa mitigasi yang komprehensif, tingginya prevalensi obesitas berpotensi menggerus bonus demografi. Indonesia dapat menghadapi fenomena generasi muda yang rentan sakit akibat kegemukan dan obesitas. Sudah saatnya pengendalian dilakukan dari hulu hingga hilir, melalui regulasi yang berpihak dan implementasi yang konsisten. Di sisi lain, masyarakat juga perlu meningkatkan kesadaran dalam mengendalikan konsumsi makanan dan minuman serta aktif bergerak demi melindungi kesehatan diri.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense