BREAKING NEWS
 

Ketika Agama Tidak Lagi Mencerahkan

Kamis, 2 Juli 2026 06:18 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Agama selalu menjanjikan ketenangan, kedamaian, kearifan, keadilan, dan ketenteraman kepada para pemeluknya. Namun, semua itu hanya dapat terwujud apabila agama diberi peran yang efektif dalam memberikan pencerahan kepada umatnya. Persoalannya, siapakah yang bertanggung jawab mengaktualisasikan fungsi pencerahan agama di tengah masyarakat?

Efektif atau tidaknya suatu agama dalam memberikan pencerahan dapat diukur dari kondisi para pemeluknya. Jika agama semakin menyatu dengan kehidupan pemeluknya, berarti fungsi pencerahan agama berjalan efektif. Sebaliknya, apabila agama dan pemeluknya semakin berjarak, hal itu menjadi pertanda bahwa fungsi pencerahan agama tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Fenomena dalam kehidupan masyarakat pun dapat dijadikan tolok ukur, yakni dengan melihat kesesuaian antara ajaran agama dan perilaku para pemeluknya. Jika keduanya masih berseberangan—misalnya agama menyerukan satu arah, tetapi mayoritas pemeluknya justru mengambil arah yang lain—maka hal itu menunjukkan bahwa agama tidak lagi efektif memberikan pencerahan kepada umatnya.

Baca juga : Ketika Agama Sebagai Faktor Sentripetal

Kenyataannya, saat ini tengah berlangsung fenomena yang kurang menggembirakan. Setidaknya terdapat kondisi yang kontradiktif dalam hubungan antara agama dan para pemeluknya di masyarakat.

Memang sedang terjadi semarak kehidupan beragama, tetapi tidak selalu diiringi dengan penghayatan dan pendalaman makna. Akibatnya, kita kerap menyaksikan munculnya fenomena kepribadian ganda (split personality) di kalangan umat beragama, khususnya umat Islam.

Adsense

Di kalangan umat Islam sendiri tampak adanya persimpangan jalan. Dalam urusan agama, seolah-olah agama dipersepsikan terlalu dogmatis, sementara realitas sosial berlangsung sangat rasional. Agama dirasakan lebih banyak membatasi, sedangkan kehidupan sehari-hari bergerak semakin liberal.

Baca juga : Ketika Agama Menjadi Faktor Sentrifugal

Agama dipandang terlalu berorientasi pada masa lampau, sementara lingkungan profesi menuntut orientasi yang kuat pada masa depan. Pranata sosial keagamaan dianggap sangat konservatif, sedangkan lingkungan kerja berkembang dengan sangat canggih.

Norma-norma agama dipersepsikan statis dan kaku, sementara dunia kerja bergerak dinamis dan penuh mobilitas. Suasana batin keagamaan terkesan sangat tradisional, sedangkan pergaulan sehari-hari di tempat kerja dan lingkungan sosial berlangsung dalam suasana yang modern. Kajian-kajian keagamaan dipandang terlalu tekstual, sementara kajian ilmu-ilmu umum berkembang secara kontekstual. Pendekatan agama pun sering dianggap lebih bersifat kualitatif-deduktif, sedangkan pendekatan ilmu-ilmu sosial lebih bercorak kuantitatif-induktif.

Menurut Clifford Geertz, kondisi split personality ini berpotensi melahirkan berbagai kemungkinan, antara lain reformasi yang bersifat sporadis atau gradual, reformasi radikal atau liberal, revivalisme puritanis, revivalisme radikal—termasuk yang berujung pada terorisme—atau sikap apatis terhadap berbagai perkembangan di luar dirinya.

Baca juga : Ketika Agama Menjadi Legitimasi Politik

Yang terpenting bagi kelompok terakhir ini hanyalah bagaimana mereka dapat hidup dan menghidupi keluarganya. Mereka telah kehilangan kepercayaan kepada agama sebagai way of life, meskipun tetap mencantumkan Islam sebagai agamanya dalam kolom agama pada KTP.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Kamis, 2 Juli 2026 dengan judul "Ketika Agama Tidak Lagi Mencerahkan"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense