RM.id Rakyat Merdeka - Bagaimana jika satu bidang lahan di perkotaan bisa menahan genangan sekaligus menghasilkan pangan?
Konsep itu tengah diuji Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dosen Universitas Mercu Buana (UMB) bersama Forum Kampoeng Saungkuriang, Cipondoh Indah, Kota Tangerang, melalui pembangunan Taman Hujan Produktif.
Ketua Tim Pelaksana Kegiatan PkM UMB Winda Widyanty mengatakan, Taman Hujan Produktif merupakan solusi berbasis nature-based solutions (NbS) yang memanfaatkan proses alam untuk mengelola air hujan.
Sistem ini menggunakan area cekung, tanah, media filtrasi, dan vegetasi untuk menahan air sementara sekaligus membantu proses infiltrasi.
"Konsep Taman Hujan Produktif yang diterapkan menggabungkan dua fungsi yang biasanya dipisahkan, yakni fungsi ekologis sebagai area pengelolaan air hujan dan fungsi produktif sebagai ruang budidaya tanaman," kata Winda, Selasa (18/8/2026).
Taman Hujan Produktif di Cipondoh Indah dibangun di lahan seluas 3x7 meter atau 21 meter persegi dengan kedalaman konstruksi sekitar 60 sentimeter.
Sistem tersebut terdiri atas lapisan tanah, kompos dan media tanam, pasir kasar, modular tank, serta pasir bawah. Modular tank ditempatkan di bawah area tanam untuk menampung air sementara.
Baca juga : UMB Hadirkan SIPIKAI, Inovasi AI untuk Lindungi Remaja dari Kekerasan di Meruya Utara
Sementara lapisan media tanam di bagian atas digunakan untuk mendukung pertumbuhan tanaman produktif.
"Dengan desain tersebut, satu bidang lahan tidak hanya diperlakukan sebagai taman, tetapi sebagai sistem yang menghubungkan pengelolaan air, ruang hijau, dan produksi pangan," ujarnya.
Dr. Ika Sari Damayanthi Sebayang menambahkan, pendekatan tersebut sejalan dengan perkembangan NbS di kawasan perkotaan yang menggabungkan vegetasi dan infrastruktur untuk menghadapi persoalan lingkungan.
Namun, dia mengingatkan efektivitas taman hujan tidak bisa disamaratakan. Kinerja sistem sangat bergantung pada desain, kondisi tanah, karakteristik hidrologis, jenis vegetasi, serta pemeliharaan.
Karena itu, taman hujan bukan obat mujarab untuk seluruh persoalan banjir perkotaan.
Apalagi setelah pembangunan rampung, tantangan berikutnya adalah memastikan sistem tetap berfungsi secara optimal.
Menariknya, taman tersebut tidak berhenti sebagai infrastruktur pengendali air. Warga dilibatkan sejak persiapan lahan, pembangunan, penanaman, pemeliharaan, hingga pencatatan hasil tanaman.
Baca juga : Fikom UMB Tampilkan Karya Mahasiswa Lewat Pameran Fotografi
Hasilnya, tanaman pakcoy yang ditanam masyarakat mampu menghasilkan panen 36,5 kilogram pada 31 Juli 2026 dari lahan seluas 21 meter persegi.
Memang, hasil tersebut masih relatif kecil dan nilai ekonominya belum signifikan jika hanya dihitung dari hasil penjualan. Namun, bagi masyarakat, panen itu menunjukkan bahwa lahan perkotaan dapat memberikan manfaat ganda.
"(Hasil) panen tersebut menunjukkan sesuatu yang penting, ruang yang dirancang untuk fungsi ekologis dapat sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi. Masyarakat tidak hanya memiliki infrastruktur untuk mengelola air hujan, tetapi juga memiliki ruang yang dapat digunakan untuk menghasilkan pangan dan, ketika produksinya mencukupi, pendapatan tambahan," jelas Ika.
Ir. Sylvia Indriany mengakui UMB belum memiliki data yang cukup untuk memastikan seberapa besar Taman Hujan Produktif di Kampoeng Saungkuriang mampu mengurangi limpasan maupun genangan di tingkat kawasan.
Menurutnya, diperlukan pengukuran hidrologis dalam beberapa periode hujan untuk mengetahui volume air yang mampu ditahan, waktu infiltrasi, serta kinerja sistem pada berbagai kondisi curah hujan. Begitu pula dengan aspek ekonomi.
Satu kali panen belum cukup untuk menentukan kelayakan ekonomi Taman Hujan Produktif dalam jangka panjang. Keterbatasan tersebut justru menjadi alasan pentingnya monitoring secara berkelanjutan.
Taman hujan tidak bisa dibangun sekali lalu ditinggalkan. Kinerjanya sangat dipengaruhi kondisi lokasi dan pemeliharaan.
Baca juga : Aksi Mahasiswa Serukan Tiga Tuntutan Rakyat di DPR
Ika mengatakan, pengalaman Kampoeng Saungkuriang membuktikan bahwa keterbatasan lahan perkotaan tidak selalu memaksa masyarakat memilih antara fungsi lingkungan dan fungsi produktif.
"Satu ruang dapat dirancang untuk memiliki beberapa fungsi sekaligus," katanya.
Dia menyebut, konsep tersebut dapat direplikasi dengan prinsip mengelola air sedekat mungkin dari sumbernya, memanfaatkan proses alam, melibatkan masyarakat, dan menggabungkannya dengan fungsi produktif jika memungkinkan.
"Taman hujan bukan hanya sekadar berapa banyak air yang dapat ditampung. Tapi juga mengenai siapa yang akan merawatnya, apa yang dihasilkan, dan apakah masyarakat memiliki alasan untuk terus mempertahankannya," tuturnya.
Dengan demikian, Taman Hujan Produktif memang belum bisa disebut sebagai jawaban akhir atas persoalan genangan perkotaan.
Namun, konsep ini menawarkan pendekatan baru dalam menata ruang kota: satu bidang lahan bisa bekerja untuk air, pangan, pengetahuan, sekaligus masyarakat.
"Taman Hujan Produktif belum menjadi jawaban akhir atas persoalan genangan perkotaan. Tetapi ia menunjukkan kemungkinan lain dalam merancang ruang kota, bagaimana satu bidang lahan dapat bekerja untuk air, pangan, pengetahuan, dan masyarakat pada saat yang sama," pungkas Ika.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.