RM.id Rakyat Merdeka - ArtificiaI Intteligence (AI) atau kecerdasan buatan kini bisa memberikan jawaban dalam hitungan detik.
Tapi menurut Najwa Shihab, kemudahan itu justru menyimpan tantangan baru: jangan sampai manusia menjadi malas berpikir karena terlalu nyaman mendapatkan jawaban instan.
Hal itu disampaikan Najwa saat berbincang dengan CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha dalam sesi talkshow di IDEAFEST 2026 di Jakarta, Sabtu (4/9/2026).
Najwa mengatakan, memiliki jawaban tidak otomatis berarti seseorang memahami persoalan. "Punya jawaban sama memahami sesuatu itu sesuatu yang berbeda,” ujar Najwa.
Menurut dia, kemampuan bertanya akan semakin penting ketika jawaban semakin mudah diperoleh. Sebab, jawaban pertama yang muncul belum tentu lengkap atau bahkan tepat. "Understanding takes work” katanya.
Karena itu, Najwa mengaku menggunakan AI bukan sekadar sebagai mesin untuk mencari jawaban. Ia lebih memilih menjadikannya sebagai thinking partner yang bisa menguji pemahamannya.
Baca juga : Prabowo Ingatkan Polri: Jangan Lengah, Kejahatan Makin Canggih
Misalnya, AI diminta memberikan argumen terkuat yang berlawanan dengan pendapatnya, menunjukkan asumsi yang tersembunyi, hingga mengidentifikasi pihak yang mungkin dirugikan dari sebuah keputusan. "First answer is never complete,” ujarnya.
Najwa juga mengingatkan risiko ketika manusia mulai menyerahkan proses memahami sesuatu kepada AI.
Ringkasan yang rapi dan meyakinkan bisa membuat seseorang merasa sudah memahami persoalan, padahal ia belum tentu mengetahui bagaimana informasi itu dipilih, dari mana sumbernya, atau bias apa yang mungkin ikut terbawa.
Di sisi lain, teknologi menurut Najwa bukan sesuatu yang harus ditolak. AI dapat memperbesar pengetahuan, kreativitas, dan kesempatan. Namun, teknologi juga bisa memperbesar manipulasi, disinformasi, hingga ketimpangan.
Karena itu, manusia tetap harus menentukan apa yang ingin diperbesar oleh teknologi tersebut.
Najwa menyebut setidaknya ada tiga hal yang tidak boleh sepenuhnya dialihkan kepada mesin, yakni nilai, penilaian, dan tanggung jawab. “Kalau keputusan kita salah, kita tidak bisa menyalahkan algoritma,” ujarnya.
Baca juga : Menang Lagi, Bodo Makin Pintar
Pandangan serupa disampaikan Vikram. Menurutnya, AI seharusnya digunakan untuk membuka potensi manusia dan menyelesaikan persoalan nyata, bukan sekadar membuat pekerjaan menjadi lebih cepat.
Ia mencontohkan pemanfaatan AI di Jember untuk membantu tenaga medis menghadapi keterbatasan sumber daya. Teknologi dapat membantu dokter menganalisis informasi dan meningkatkan ketepatan dalam membedakan sejumlah penyakit, sehingga keputusan medis bisa dibuat dengan dukungan data yang lebih kuat.
Namun teknologi tetap membutuhkan manusia di balik keputusan tersebut. "Be data-led decision making with heart," kata Vikram dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).
Vikram juga menilai manfaat AI tidak boleh hanya dinikmati kelompok yang memiliki akses teknologi dan sumber daya besar.
"Pemanfaatannya harus didemokratisasikan agar masyarakat luas bisa menggunakan teknologi untuk belajar, bekerja, mencipta, dan menyelesaikan masalah di lingkungannya," kata Vikram.
Pesan mengenai hubungan teknologi dan manusia itu juga dibawa Indosat dalam IDEAFEST 2026 melalui tema “Heartware Inside the Hardware”.
Baca juga : Prabowo Puas dengan Danantara, Namun Ingatkan Jangan Ada Laporan Palsu
Bersama seniman Sarkodit, Indosat menghadirkan instalasi seni interaktif “Peran-Tara”, yang memadukan gagasan tentang peran manusia dan “tara” sebagai akal atau kebijaksanaan dalam menentukan arah dan memberi makna.
Sementara itu, SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison Ovidia Nomia mengatakan, karya tersebut merefleksikan bagaimana teknologi, termasuk AI, akan semakin berarti ketika manfaatnya kembali kepada manusia.
“Teknologi, termasuk AI, akan lebih berarti ketika membawa manfaat nyata bagi kehidupan manusia,” ujar Ovidia.
Pada akhirnya, soal AI bukan hanya tentang seberapa pintar mesin dapat menjawab. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah manusia masih mau berpikir, mempertanyakan, dan mengambil tanggung jawab atas keputusan yang dibuatnya.
Sebab, mesin bisa membantu menemukan jawaban. Tetapi manusialah yang menentukan jawaban itu hendak dibawa ke mana.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.