BREAKING NEWS
 

Tata Kelola Sampah DKI Belum Optimal

TPST Bantargebang Nyaris Over Kapasitas

Reporter : DEDE ISWADI IDRIS
Editor : MARULA SARDI
Rabu, 30 Oktober 2024 06:50 WIB
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DKI Jakarta Joko Agus Setyono (ketiga dari kiri) saat mendampingi kunjungan kerja Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq (kelima dari kiri) ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (27/10/2024). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tata kelola sampah di Jakarta masih belum optimal. Indikasinya, sampah dibuang langsung ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, belum susut, mencapai 7 ribu ton per hari.

Berdasarkan data capaian kinerja pengelolaan sampah di Sistem Informasi Pengelolaan Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehuta­nan (KLHK), timbunan sampah di Jakarta meningkat jadi 3,14 juta ton pada 2023 dari sebelumnya 3,11 juta ton pada 2022. Kemudian, jumlah sampah yang dikelola turun dari 2,29 juta ton menjadi 2,27 juta ton pada 2023.

Aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta Muham­mad Aminullah mengatakan, efektivitas pengolahan sampah bisa dianggap efektif jika bisa mengurangi jumlah sampah yang diolah di dalam kota Ja­karta.

Baca juga : Manchester United Vs Leicester City, Momentum ‘Setan Merah’ Keluar Dari Krisis

“Belum bisa dibilang efektif. Produksi sampah masih sekitar 8.000 ton, masuk bantargebang sekitar 7.000 ton. Pengelolaan bisa dibilang efektif kalau sam­pah yang masuk Bantargebang bisa ditekan,” ujar Aminullah, baru-baru ini.

Setengah dari total sampah Jakarta adalah sampah organik. Menurutnya, sampah organik seharusnya bisa dikelola dengan cara paling sederhana.

Terkini, Pemerintah Provin­si DKI Jakarta telah melaku­kan Groundbreaking atau peletakan batu pertama proyek pembangunan fasilitas pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Jakarta di Rorotan, Jakarta Utara. Menurut Walhi, Pemerintah seharusnya membuat kajian dulu terhadap dampak lingkungan secara komprehensif sebelum melakukan pembangunan.

Baca juga : Pevita Pearce, Janji Pijat Dan Peluk Suami Tiap Malam

“RDF sama seperti Incinera­tor, menggunakan pembakaran. Pembakaran sampah berpotensi melepas polutan dan menambah emisi,” jelas Aminullah.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DKI Jakarta Joko Agus Setyono menyebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus mengembangkan sistem pengelolaan sampah terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Joko mengungkapkan, TPST Bantargebang adalah satu-satunya fasilitas pemrosesan akhir sampah milik Pemprov DKI Jakarta yang telah beroperasi sejak 1989.

Baca juga : Usai Digembleng di Magelang, Para Menteri Sibuk Susun Program 100 Hari

“Pada 2023, volume sam­pah harian mencapai 7.360 ton dengan ketinggian landfill melebihi 50 meter, sehingga TPST ini hampir mencapai kapasitas maksimalnya,” kata Joko.

Joko bilang, berbagai program pengolahan sampah di tingkat hulu sudah berjalan. Seperti program berbasis Rukun Warga (RW), ekonomi sirkular me­lalui bank sampah, pusat daur ulang Jakarta Recycle Centre, pengelolaan sampah kawasan dan perusahaan, pengendalian sampah plastik, pengumpulan sampah terjadwal, serta pengo­lahan sampah organik melalui komposting dan budidaya mag­got Black Soldier Fly (BSF).

“Kemudian pada tahap tengah, Pemprov DKI Jakarta mengelola Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan Tempat Penampungan Semen­tara Reduce, Reuse dan Recy­cle (TPS3R), sampah di badan air, Pembangunan RDF Plant dalam kota berkapasitas 2.500 ton/hari, serta pengelolaan sampah di Kepulauan Seribu,” terang Joko.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense