RM.id Rakyat Merdeka - Krisis sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dinilai telah mencapai tahap darurat. Bahkan, menjadi cerminan nyata ancaman lingkungan yang dihadapi kota-kota dengan pertumbuhan pesat di Indonesia. Persoalan ini tidak lagi dipandang sebagai sekadar kegagalan teknis pengelolaan, melainkan akumulasi dari pertumbuhan kota yang tidak diimbangi sistem pengelolaan sampah yang kuat, berkelanjutan, serta minimnya partisipasi aktif masyarakat.
Berangkat dari kegelisahan publik atas kondisi tersebut, Matahari Pagi Indonesia (MPI) menggelar diskusi terbuka pada Senin (22/12/2025) di Tangerang Selatan. Diskusi ini dipimpin langsung Ketua Bidang Ekonomi dan Pemberdayaan Umat Pengurus Besar MPI, Faisal Alfansury, bersama pengurus Matahari Pagi Indonesia Wilayah Banten.
Forum tersebut dirancang sebagai ruang kolaborasi terbuka untuk menghimpun gagasan, pengalaman lapangan, serta solusi konkret dari berbagai elemen masyarakat dalam merespons krisis sampah di Tangerang Selatan.
“Ini adalah upaya kolektif Matahari Pagi Indonesia untuk menghadirkan ruang bagi masyarakat Tangerang Selatan menyampaikan gagasan berbasis fakta dan pengalaman lapangan, agar dapat dirumuskan menjadi rekomendasi yang solutif,” kata Faisal Alfansury (Alfan).
Baca juga : IIBF: Jangan Salahkan Sawit Indonesia, Masalahnya di Tata Kelola
Ia berharap gagasan dan solusi yang lahir dari masyarakat Tangerang Selatan dapat menjadi rujukan bagi kabupaten dan kota lain di Indonesia sebagai bentuk mitigasi dini agar krisis serupa tidak terulang.
“Darurat sampah yang terjadi di Tangsel hari ini, jika tidak dijadikan pembelajaran bersama, berpotensi menjadi wajah Indonesia di masa depan,” nilai Alfan.
Salah satu pemantik diskusi, praktisi lingkungan Gusri Effendi, menegaskan bahwa persoalan sampah di Tangerang Selatan merupakan akumulasi kegagalan sistemik yang dibiarkan berlangsung terlalu lama. Ia menekankan pentingnya penanganan dari hulu hingga ke level kebijakan.
“Sampah itu sebetulnya tidak ada. Sampah muncul karena kita tidak mampu mengelolanya. Kalau dari hulunya tidak dibereskan, mulai dari rumah tangga, pasar, hingga kebijakan, maka TPA mana pun pasti akan kolaps,” tegas Gusri, yang telah berkecimpung di isu lingkungan sejak era 1990-an.
Baca juga : 91 Emas dari Thailand, Indonesia Lepas Kutukan 32 Tahun SEA Games Tandang
Pandangan serupa disampaikan Ketua Banksasuci Foundation, Ade Yunus. Ia menilai persoalan sampah di Tangerang Selatan tidak bisa lagi diselesaikan dengan pendekatan parsial atau tambal sulam.
“Relokasi TPA adalah keniscayaan, bukan pilihan. Namun persoalan sampah di kota seperti Tangerang Selatan tidak bisa diselesaikan hanya dengan memindahkan masalah. Kuncinya ada di hulu: perubahan perilaku, pengurangan dari sumber, dan keberanian membangun sistem,” ujar Ade Yunus, yang juga bagian dari Matahari Pagi Indonesia Wilayah Banten.
Sementara itu, Samsu, pelopor Kebun Rel Rawa Buntu sekaligus penggiat bank sampah, menyoroti pentingnya pembenahan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) sebagai garda terdepan pengelolaan sampah di tingkat komunitas.
“TPS3R harus dikelola secara profesional, bukan sekadar tempat buang sementara. Dibutuhkan manajemen yang jelas, standar operasional yang tegas, serta dukungan fasilitas dan sumber daya manusia. Jika TPS3R berfungsi optimal, beban TPA bisa ditekan secara signifikan,” jelas Samsu.
Baca juga : Catat Sejarah, Timnas Hoki Es Indonesia Raih Emas di Sea Games 2025
Diskusi ini juga dihadiri Mukodas Syuhada, praktisi lingkungan dan penggiat bambu yang menjabat sebagai Staf Ahli Wali Kota Tangerang Selatan, serta lintas elemen masyarakat lainnya, mulai dari penggiat bank sampah, organisasi kemasyarakatan, akademisi, mahasiswa pecinta alam, pelaku ekonomi kreatif, organisasi kepemudaan, hingga perwakilan komunitas lokal.
Forum tersebut menghasilkan sejumlah catatan dan gagasan strategis yang akan dirumuskan sebagai rekomendasi kebijakan berbasis pengalaman publik untuk disampaikan kepada para pemangku kebijakan di Kota Tangerang Selatan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.