RM.id Rakyat Merdeka - Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengembangkan Jaksinema, diharapkan tidak hanya bertujuan menyediakan fasilitas menonton untuk masyarakat. Tetapi juga momentum yang tepat untuk menggairahkan kembali ekonomi pasar.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno berupaya menjadikan Jakarta sebagai Kota Sinema (Jaksinema).
Sebelum itu benar-benar dijalankan, Anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta M. Al Fatih mengingatkan, agar Jaksinema tidak sekadar menjadi fasilitas menonton film. “Tetapi, sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem perfilman, sekaligus menggerakkan ekonomi kawasan,” sarannya.
Menurut Al Fatih, Jaksinema memang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai hiburan layar lebar yang terjangkau bagi masyarakat. Misalnya, dengan membangun bioskop kecil di sejumlah pasar.
Tapi, lanjut Fatih, pengembangan Jaksinema tidak cukup hanya mengejar seberapa banyak jumlah layar. “Lokasi bioskop, harga tiket hingga karakter film yang ditayangkan, perlu diperhatikan,” tandasnya.
Al Fatih berharap, Jaksinema memberi ruang bagi film berkualitas dan edukatif yang mengangkat sejarah, budaya serta cerita tentang Jakarta. Konsep tersebut, menurutnya, menjadi pembeda Jaksinema dengan bioskop pada umumnya di berbagai mall.
“Sebagai bagian dari membangun ekosistem baru di pasar. Orang datang untuk menonton, kemudian makan, berbelanja dan berinteraksi di ruang publik,” katanya, Jumat (25/9/2026).
Baca juga : Tuan Rumah Tumbang Dicakar Tiga Singa
Dia juga mendorong kurasi film yang lebih beragam. Mulai film lokal, independen, dokumenter, anak, edukasi hingga karya sineas Jakarta.
Jika harga tiketnya terjangkau, Al Fatih berharap, Jaksinema dapat memperluas akses masyarakat terhadap hiburan berkualitas. Selain itu, kehadiran bioskop di pasar juga berpotensi menghidupkan aktivitas ekonomi di sekitarnya.
“Program ini masih dikaji, sehingga kelak benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, dan memiliki ciri khas yang kuat sebagai bagian dari identitas Jakarta Kota Sinema,” tandasnya.
Catatan editor Rakyat Merdeka, keberadaan bioskop di pasar, sejatinya bukan sesuatu yang baru. Karena, bioskop pernah ada di pasar-pasar di Jakarta. Salah satunya, di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Contoh lainnya, bioskop di Pasar Palmerah, Jalan Palmerah Timur/Jalan Palmerah Selatan, Kelurahan Gelora, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Bioskop di Pasar Palmerah, merupakan salah satu yang sudah tutup permanen, seiring melambungnya biaya operasional dan melemahnya daya beli masyarakat pada krisis moneter sekitar tahun 1997.
Ketika perekonomian pulih pada tahun 2000-an, pembangunan bioskop beralih ke berbagai mall. Bioskop di berbagai pasar di Jakarta, tutup permanen. Bekas lokasi bioskop menjadi tempat berdagang, seperti di Pasar Palmerah.
Baca juga : MotoGP, Motegi Menanti Vinales Kembali
Upaya menjadikan Jakarta sebagai Kota Sinema, merupakan salah satu visi Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno. Dia optimistis, target tersebut dapat diwujudkan dalam lima tahun kepemimpinannya bersama Gubernur Pramono Anung.
Optimisme itu disampaikan Rano saat menghadiri konferensi pers Jakarta Film Week (JFW) 2026 di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026). “Meski tidak mudah, tapi saya yakin ini bisa diwujudkan,” ujar politisi yang juga sutradara ini.
Salah satu tahapan yang disiapkan adalah memperluas keberadaan Jaksinema. Rano telah menginstruksikan, agar sebagian dari 148 pasar di Jakarta, dilengkapi fasilitas tersebut.
Bagi Rano, pengembangan ekosistem film tidak berhenti pada penyediaan tempat menonton. Jakarta Film Week juga diharapkan semakin terhubung dengan pelaku perfilman dari berbagai negara.
Dia meminta penyelenggara mulai membangun komunikasi dengan pelaku film internasional, untuk memperkenalkan dan mengundang mereka terlibat dalam JFW.
JFW 2026 akan berlangsung pada 21-25 Oktober. Festival tahun keenam tersebut, mengusung tema Encounters dan menjadi ruang pertemuan bagi pembuat film, seniman, penonton serta generasi baru perfilman.
Menurut Festival Director Jakarta Film Week Rina Damayanti, antusiasme terhadap JFW terus berkembang. Sepanjang 2026, pihaknya menerima lebih dari 1.200 film dari 82 negara, serta 180 proposal.
Baca juga : Presiden ke-7 RI Masuk PSI, Puan Ucapkan Selamat ke Jokowi
“Seperti tahun-tahun sebelumnya, JFW mempunyai banyak kompetisi di program festival. Antara lain Global Feature Award, Direction Award, Global Short Award dan Animation,” beber Rina.
Selain kompetisi, JFW menyiapkan sejumlah program nonkompetisi. Antara lain Jakarta Film Fund, JFW 360, Global Feature dan berbagai program kolaborasi.
Kolaborasi tersebut melibatkan sejumlah lembaga internasional. Antara lain Kedutaan Besar Italia, Istituto Italiano di Cultura, Cinecittà, Kedutaan Besar Belanda dan Erasmus Huis.
Ada pula kolaborasi dengan Asian Film Awards Academy, Hong Kong Economic and Trade Office Jakarta, Kedutaan Besar Prancis dan Institut Français d’Indonésie (IFI) Jakarta.
Rina mengatakan, JFW juga berkolaborasi dengan Jakarta Film Commission untuk menghadirkan program Hong Kong Film Exhibition di fX Mall selama penyelenggaraan Jakarta Film Week.
Dengan rangkaian program tersebut, JFW diharapkan tidak hanya menjadi festival tahunan. Tetapi juga ikut memperluas ruang pertemuan antara sineas, penonton, industri kreatif dan masyarakat Jakarta. [DRS/DAF]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.