BREAKING NEWS
 

Joki Strava Mewabah, Psikolog: Gejala Tidak Sehat Mental Dan Memanipulasi Diri

Reporter & Editor :
M ADE AL KAUTSAR
Minggu, 7 Juli 2024 08:04 WIB
Ilustrasi lari marathon menggunakan joki Strava. Foto: Unsplash/Gary Butterfield

RM.id  Rakyat Merdeka - Jasa joki Strava lagi viral di jagat maya belakangan ini. Banyak pihak terheran-heran, karena jasa ini ternyata ada peminatnya. Alih-alih berkeringat, peminat joki Strava ini malah memilih jalan pintas untuk mendapatkan pengakuan atas pencapaian olahraga mereka.

Psikolog kondang Tika Bisono menilai fenomena ini merupakan bagian dari gejala tidak sehat mental. Bagaimana akan sehat jika ternyata peminat joki Strava ini diketahui doyan memanipulasi diri dan prestasi. 

"Tapi tidak sehat mentalnya masih kelas awal, belum parah kalau belum jadi kebiasaan yang patologis. Ini bisa dipicu karena ada kebutuhan untuk mendapat pujian online," kata Tika dalam perbincangan dengan RM.Id, Jumat (5/7).

Buat yang belum tahu, Strava itu adalah aplikasi pencatat rekaman aktivitas olahraga. Aplikasi ini akan menampilkan data jarak, waktu, jumlah langkah, hingga kalori para pengguna menggunakan teknologi GPS secara real-time

Nah, joki Strava ini menjual jasa lari kepada pemilik akun Strava yang ingin memamerkan capaian aktivitas olahraganya media sosial (medsos) tanpa harus berkeringat. 

Baca juga : Jelang Pilkada Perdana, Wapres Minta Papua Selatan Tetap Sejuk Dan Damai

Di medsos, ada joki Strava yang mematok tarif mulai dari Rp 2 ribu per kilometer. 

"Orang yang hobi menggunakan joki biasanya adalah orang yang tidak bisa menghormati diri sendiri dan tidak percaya diri," lanjut Tika. 

Tika menilai tren joki Strava ini adalah tindakan manipulasi diri yang tidak sehat. Apapun alasannya, baik karena sakit ataupun sibuk, sehingga tidak punya waktu untuk berolahraga.

"Untuk show-off, untuk pengakuan diri dalam batas tertentu masih oke-oke aja. Tapi manipulasi yang berlebihan bisa jadi ciri ketidaksehatan mental," tuturnya.

Adsense

"Orang yang dalam dunia riilnya jarang dipuji, maka akan cari peluang di dunia maya. Pujian di dunia maya pun akan baik dan positif untuk kepentingan harga diri dan martabatnya", ujarnya lagi. 

Baca juga : Ajak Warga Makan Siang, Presiden Didoakan Sehat Terus Dan Murah Rezeki

Lebih lanjut, ia menyebut fenomena joki ini adalah bagian dari cerminan budaya instan yang semakin mengakar di mayarakat kita. Jika dibiarkan tanpa ada kontrol, maka sekaligus akan  memperparah kesehatan mental masyarakat.

"Orang dibuat malas untuk berupaya, berjuang, berlatih, dan berkompetisi, karenanya tinggal main potong kompas. Tinggal ngejoki saja," jelasnya.

Ia lalu membandingkan dengan budaya di luar negeri, di mana perjuangan dan proses lebih dihargai daripada hasil akhir, baik kemenangan ataupun kekalahan.  

"Tapi di negeri kita, yang dihargai adalah hasil akhir, bukan usaha. Di sinilah orang Indonesia jadi suka berbuat curang parah antara lain ngejoki," kritiknya.

Budaya perjokian ini tidak hanya terjadi di olahraga, tapi sudah mewabah di berbagai aspek kehidupan di Indonesia. 

Baca juga : AHY, Arahan Presiden, Tidak Boleh Ada Korban Dalam Pembebasan Tanah Di IKN

"Joki ini memang sudah jadi pekerjaan di Indonesia. Di luar negeri hampir nggak ada, karena orang di sana malu berbuat curang," tuturnya.

Jika dibiarkan, maka budaya joki ini bisa mengikis kesehatan mental orang Indonesia daǹˆ semakin jauh dari standar olahraga dunia.

"Karena negara itu maju, juga ditentukan oleh faktor kesehatan mentalnya. Kalau begini terus-terusan, tentu kita akan juga terus tertinggal dari negara lain," imbuhnya.

Tika yang mengaku masih aktif mendaki gunung di usia 63 tahun ini, enggan menggunakan jasa joki. Apalagi hanya untuk sekedar flexing di medsos.

"Saya juga masih melakukan hobi naik gunung, meski pelan, tapi gue usaha sendiri, gak pake joki. Itu jauh lebih sehat. Jangan membiasakan diri untuk curang lah, karena hasil diri sendiri itu akan jauh lebih membanggakan dan tìdak akan terlupakan sampai kapanpun," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense