RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Ketua DPD Tamsil Linrung memuji pidato perdana Presiden terpilih Prabowo Subianto di hadapan Sidang Paripurna MPR Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Presiden-Wakil Presiden 2024-2029.
Menurutnya, pidato Prabowo menunjukkan keberanian yang luar biasa dan menumbuhkan sikap patriotik dalam menuntaskan masalah bangsa.
"Kami mengapresiasi pidato perdana Presiden Prabowo yang berani memotret Indonesia hari ini secara utuh. Dalam kapasitas sebagai pemimpin republik, Presiden merefleksikan kesadaran Ke-Indonesiaan yang berpijak pada realitas di tengah cita-cita, ambisi dan obsesi untuk mengangkat derajat bangsa besar ini," kata Tamsil Linrung dalam keterangannya, Senin (21/10/20204).
Menurut Tamsil, pidato Prabowo dengan gamblang mengungkapkan tantangan besar bangsa dari dalam. Terutama menggarisbawahi masalah korupsi, kebocoran anggaran, serta kolusi antara pejabat dan pengusaha yang tidak patriotik.
Bagi senator asal Sulawesi Selatan ini, pelantikan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka sebagai Presiden-Wakil Presiden 2024-2029 merupakan hari bersejarah nan monumental, sekaligus mengawali lembaran baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Peristiwa tersebut menurutnya, bukan sekadar ritual konstitusional. Sumpah yang dilantunkan bukan semata merapal janji. Namun merefleksikan tekad di kedalaman nurani.
"Sumpah Presiden adalah simbol komitmen moral abadi berbakti untuk negeri. Sumpah di bawah kitab suci, menandai babak baru perjalanan Indonesia lima tahun ke depan. Dengan kepemimpinan yang dinahkodai Presiden Prabowo, bangsa besar ini berlayar menuju cita-cita nasional," sebutnya.
Baca juga : Dudung: Pelantikan Prabowo Momentum Kebangkitan Ekonomi RI
Oleh karena itu, Tamsil berpandangan, seruan introspeksi diri dan tidak menutup mata terhadap fakta-fakta pahit yang dilontarkan Prabowo, merupakan sikap fair dari sosok yang memegang otoritas tertinggi dalam pemerintahan.
Bahkan hal ini lantang diungkapkan di hadapan ratusan juta rakyat Indonesia, di hadapan 19 kepala negara dan 15 utusan khusus negara-negara sahabat serta para duta besar.
Ini adalah sikap kesatria seorang pemimpin yang dibutuhkan bangsa Indonesia. Sikap yang transparan dan akuntabel. Modal untuk membangun pemerintahan yang kredibel. Lebih lanjut, ilmuwan politik dan peraih pulitzer, James MacGregor Burns menyebut sikap-sikap tersebut sebagai transformatif leadership.
Tidak hanya mencari kepatuhan, tetapi kepemimpinan transformatif juga menumbuhkan komitmen berdasarkan spirit, visi, dan aspirasi kolektif. Transformatif leadership ini merupakan style kepemimpinan politik Franklin D. Roosevelt dan Gandhi.
"Mereka (Franklin dan Gandhi, red) tidak memimpin dengan transaksi kekuasaan, tetapi membangkitkan idealisme dan semangat nasionalisme untuk menciptakan perubahan besar," ujarnya.
Jauh sebelum menjadi Presiden, Tamsil mengaku telah mengenal secara pribadi sosok Prabowo sejak 20-an tahun yang lalu, terutama saat masih bersama di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).
Saat itu, kata pria yang akrab disapa TL ini, Prabowo menjadi Ketua Umum dan dirinya dipercaya untuk menjabat sebagai salah satu Ketua Dewan Pimpinan Nasional. Dari situ, dia mengenal Prabowo sebagai sosok patriotik yang idealis dan nasionalis.
Baca juga : Pidato Perdana Prabowo: Indonesia Harus Swasembada Pangan Dalam Waktu Singkat
"Dalam amatan publik pun, kita bisa dengan mudah menemukan pikiran-pikiran Presiden yang sarat dengan nasionalisme," pujinya.
Karena itu, dia berpandangan Prabowo telah menunjukkan bahwa podium perdana kepresidanan yang sakral dan bersejarah, telah menjadi momen bagi Prabowo untuk mengungkapan empati atas kondisi aktual rakyat. Masyarakat yang belum sepenuhnya merasakan hasil kemerdekaan.
Seperti nasib anak-anak yang kekurangan akses ke pendidikan, anak-anak sekolah yang tidak sarapan, dan warga lanjut usia yang masih bekerja keras di usia tua.
"Apa yang dilontarkan Presiden adalah bentuk panggilan spiritual seorang pemimpin yang bagi kami, wajib diberikan dukungan," tegasnya.
Tidak hanya itu, TL berpandangan, Pidato Presiden juga menggambarkan tantangan kontemporer bangsa Indonesia. Problem sosial ekonomi yang menunjukkan sebuah anomali jika disandingkan dengan angka-angka statistik ekonomi, atau keanggotaan Indonesia di group elit ekonomi dunia G20.
Menurutnya, Presiden mengajak seluruh pihak untuk melihat secara nyata bahwa masih banyak rakyat yang miskin dan tidak menikmati kekayaan alam bangsa kita sendiri.
Banyak rakyat yang masih kurang gizi dan tidak memiliki pekerjaan, banyak sekolah dan fasilitas umum yang tidak layak.
Baca juga : Pidato Pertama Usai Pelantikan Presiden, Prabowo Tegas Dukung Palestina Merdeka
"Kami menyambut keinginan Presiden menyelesaikan masalah rakyat secara kuratif, dari akar masalahnya yang bersifat jangka panjang. Tanpa melupakan kebutuhan jangka pendek rakyat yang harus segera ditolong. Elaborasi pendekatan kuratif dan karitatif ini kita harapkan menyelamatkan masa depan bangsa Indonesia, serta menolong kebutuhan mendesak rakyat," ujarnya.
Menariknya, sambung TL, Presiden menghamparkan dan menggambarkan peta jalan, bagaimana problematika itu dapat diselesaikan, diatasi secara bersama-sama, bergotong royong, berkolaborasi.
Presiden juga ingin membangun tim yang bekerja dalam irama orkestrasi yang sama. Berangkat dari pemahaman yang sama. Bukan hanya tim pemerintah di kabinet, tapi di semua level dan seluruh elemen bangsa.
"Ini artinya Presiden ingin membangun Pemerintahan yang solid, kompak dan satu komando. Dari level pusat, kementerian, hingga Pemerintah daerah dan perangkat desa. Pemerintahan yang bekerja untuk rakyat. Bukan untuk kroni dan golongan," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.