RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah terus memacu laju investasi untuk mencapai target Rp 13.528 triliun hingga 2029. Salah satu strategi utama yang diandalkan adalah hilirisasi industri, yang diyakini mampu mengerek pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen per tahun sebagaimana ditargetkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Direktur Promosi Wilayah Amerika dan Eropa, Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Sri Endang Novitasari menggarisbawahi pentingnya investasi sebagai motor utama pertumbuhan, di samping konsumsi domestik yang menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB).
Saat ini, kontribusi investasi terhadap PDB mencapai sekitar 24 persen, sementara belanja pemerintah hanya sekitar 9 persen.
“Investasi merupakan satu instrumen yang penting untuk mempercepat kita keluar dari income middle Trap,” ujar Sri dalam Podcast Ngegas yang dipandu Siswanto di kanal YouTube, Rakyat Merdeka TV.
Target investasi yang tinggi ini menurutnya membutuhkan kerja keras. Berdasarkan roadmap pemerintah, nilai investasi harus naik signifikan setiap tahun.
Ia merinci, target investasi di tahun 2025 adalah Rp 1.906 triliun. Lalu tahun 2026 naik menjadi Rp 2.280 triliun dan tahun 2027 naik lagi ke angka Rp 2.684 triliun.
Baca juga : Jepang Beri Pinjaman Rp 3,9 Triliun Bagi Dua Sektor Penting Indonesia
Sementara tahun 2028 dan 2029, target investasi masing-masing adalah Rp 3.116 triliun dan Rp 3.544 triliun. “Salah satu upaya untuk mendorong pertumbuhan adalah dengan hilirisasi,” tandasnya.
Hilirisasi, sebutnya menjadi salah satu strategi unggulan dalam menarik investasi. Sejak 2020, kebijakan hilirisasi telah difokuskan pada sektor pertambangan.
Kini, roadmap hilirisasi mencakup 28 komoditas dari delapan sektor utama, termasuk mineral, minyak, gas, pertanian, perkebunan, dan kelautan. Karena potensi Indonesia cukup besar: nikel nomor satu di dunia, timah nomor dua dan bauksit nomor enam.
Selain itu, Indonesia juga pemain nomor satu untuk komoditas kelapa sawit. Lalu ada juga potensi rumput laut, nomor 2 terbesar di dunia.
“Sayang sekali kalau kita tidak bisa menghilirisasikan dari produk-produk tersebut untuk mencapai target investasi yang semakin tinggi setiap tahunnya,” kata Sri.
Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam menarik investor asing. Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, misalnya, dikenal cenderung lambat mengambil keputusan investasi karena prosedur yang kompleks.
Baca juga : Kejar Penerimaan Rp 9,4 Triliun, Bapenda DKJ Ajak Pemilik Kendaraan Lunasi Pajak
Mereka sangat memperhatikan regulasi, insentif, dan lokasi. Belum lagi proses feasibility study, yang bisa memakan waktu hingga dua tahun.
“Mereka harus benar-benar comply dengan seluruh regulasi dan aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah,” jelasnya.
Meski begitu, reformasi birokrasi di Indonesia dinilai memberikan dampak positif. Sistem perizinan online single submission (OSS) yang mengintegrasikan 18 kementerian dianggap mempercepat proses dan mengurangi tatap muka.
“Kita sudah me-reduce banyak sekali peraturan-peraturan daerah yang sudah tidak sejalan ya,” tambahnya.
Amerika dan Eropa tetap menjadi mitra strategis dalam investasi. Sektor manufaktur dan energi terbarukan adalah yang paling menarik kedua negara tersebut. Untuk energi terbarukan, Indonesia punya potensi besar, seperti hidro, geothermal, dan bahan baku solar panel.
Dari sisi statistik, Amerika Serikat dan Belanda masih konsisten masuk dalam daftar 10 besar negara sumber investasi asing langsung (FDI) di Indonesia. Namun, dominasi tetap dipegang oleh negara-negara Asia seperti Singapura, China, dan Jepang.
Baca juga : Genjot KUR Hingga Rp 37,48 Triliun, Bank Mandiri Dukung Ketahanan Pangan
Untuk menggenjot investasi asing, BKPM juga giat mempromosikan potensi Indonesia. Awal Desember lalu, 50 investor asal Amerika Serikat bertemu Presiden Prabowo di Istana Negara. Pertemuan ini menjadi bagian dari agenda tahunan untuk memperkuat kerja sama ekonomi.
“Mereka juga sudah mendapatkan pendalaman lagi dari bapak menteri, dan pada saat diskusi dengan bapak menteri juga mereka menyampaikan konsen-konsent kemudian,” ungkapnya.
Selain itu, Indonesia juga terus bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya, seperti Vietnam dan Thailand. Investor sering membandingkan insentif dan regulasi Indonesia dengan negara-negara tetangga.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.