BREAKING NEWS
 

Lebaran Momentum Perkuat Komitmen Kebangsaan

Writer : Dr. Rasminto
Editor : UJANG SUNDA
Rabu, 2 April 2025 13:25 WIB
Rasminto (Foto: Dok. Pribadi)

Tradisi Lebaran atau Idul Fitri merupakan momentum yang sarat dengan makna spiritual dan sosial. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, umat Islam merayakan hari kemenangan dengan penuh suka cita. Lebaran bukan sekadar perayaan, tetapi juga sarana untuk memperkuat silaturahmi, memperbaiki hubungan, serta merekatkan kembali persaudaraan yang mungkin sempat renggang.

Secara sosial budaya Indonesia, Lebaran memiliki peran strategis dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. Nilai-nilai ini sejalan dengan konsep persatuan dan kesatuan bangsa yang telah dirintis oleh para pendiri negara. Indonesia sebagai negara dengan keragaman suku, agama, dan budaya membutuhkan perekat yang kuat agar tetap utuh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Namun, di tengah makna luhur Lebaran, kita sebagai sebuah bangsa, tidak pernah lepas dari berbagai ancaman perpecahan melalui politik adu domba (devide et impera) masih kerap terjadi. Sejarah mencatat bahwa strategi ini telah lama digunakan untuk melemahkan persatuan bangsa. Politik adu domba tidak hanya dimainkan oleh pihak asing, tetapi juga oleh berbagai kelompok tertentu di dalam negeri yang ingin memperoleh keuntungan dengan mengorbankan persatuan rakyat.

Pada masa kolonial, politik devide et impera digunakan oleh penjajah untuk mempertahankan kekuasaannya dengan memecah belah persatuan bangsa. Kini, strategi serupa masih sering muncul dalam berbagai bentuk, terutama di ranah politik dan media sosial. Hoaks, ujaran kebencian, serta berbagai narasi yang bersifat provokatif menjadi alat utama untuk menciptakan polarisasi di tengah masyarakat.

Momen Lebaran sejatinya menjadi ajang refleksi untuk kembali kepada nilai-nilai kebersamaan dan persatuan. Memaafkan dan saling memahami adalah esensi utama dari Idul Fitri yang dapat menjadi benteng kokoh dalam menghadapi ancaman perpecahan. Melalui memahami makna Lebaran secara mendalam, setiap individu diharapkan dapat lebih bijak dalam menyikapi berbagai isu yang berpotensi merusak harmoni sosial.

Emile Durkheim (1893) melalui konsep solidaritas sosial, menyebutkan bahwa masyarakat dapat bertahan dan berkembang jika memiliki kesadaran kolektif yang kuat. Solidaritas mekanik dalam masyarakat tradisional, seperti yang tercermin dalam tradisi Lebaran, memainkan peran penting dalam menjaga harmoni sosial dan mencegah konflik yang berpotensi merusak persatuan.

Di era digital ini, media sosial menjadi ladang subur bagi penyebaran informasi yang belum tentu benar. Masyarakat perlu lebih cerdas dan kritis dalam menerima serta menyebarkan informasi. Sikap tabayyun, yaitu meneliti kebenaran informasi sebelum membagikannya, harus menjadi kebiasaan agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang mengadu domba. Selain itu, peran ulama, tokoh masyarakat, dan pemimpin bangsa sangat penting dalam menjaga persatuan. Para tokoh agama ini harus menjadi teladan dalam menyebarkan pesan damai serta meneguhkan komitmen kebangsaan. 

Islam mengajarkan pentingnya persatuan dan menghindari perpecahan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 10 bahwa "Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat".Tidak hanya pemuka agama, institusi pendidikan juga memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda yang cinta persatuan. 

Pendidikan karakter yang berbasis pada nilai-nilai kebangsaan perlu dikuatkan agar sejak dini masyarakat terbiasa dengan sikap toleransi dan kebersamaan. Selain aspek keagamaan dan pendidikan, pendekatan budaya juga dapat menjadi solusi dalam menangkal politik adu domba. Kearifan lokal seperti musyawarah mufakat, gotong royong, serta tradisi Lebaran seperti halal bihalal merupakan bagian dari modal sosial yang dapat menjaga keutuhan bangsa.

Masyarakat pun harus memahami bahwa perbedaan merupakan kekuatan, bukan kelemahan. Pluralisme yang ada di Indonesia merupakan anugerah yang harus dijaga bersama. Kita perlu mengedepankan sikap inklusif dan toleran, sebab setiap individu dapat berkontribusi dalam menjaga keutuhan NKRI. 

Lebaran harus menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaan. Saling memaafkan, mempererat silaturahmi, serta menolak segala bentuk provokasi adalah wujud nyata dari implementasi nilai-nilai Idulfitri dalam kehidupan sehari-hari. Semangat Lebaran yang penuh kehangatan dan kebersamaan, mari kita jadikan Indonesia sebagai rumah bersama yang damai dan harmonis. Jangan biarkan politik adu domba merusak persaudaraan kita. 

Persatuan adalah kunci utama dalam menjaga keberlanjutan NKRI yang kita cintai. Sebagaimana ungkapan bijak Bung Karno, "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri." Maka, mari bersama-sama menjaga Indonesia dari segala bentuk perpecahan demi masa depan yang lebih baik.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense