RM.id Rakyat Merdeka - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) turut berduka atas wafatnya Paus Fransiskus. Jejak pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia tersebut sangat membekas bagi masyarakat Indonesia.
"Kita kehilangan tokoh dunia yang membela dan mendambakan adanya perdamaian dunia, baik antar umat beragama maupun manusia secara keseluruhan," ujar Direktur Sosialisasi dan Komunikasi BPIP Agus Moh. Najib kepada Rakyat Merdeka.
Dalam situasi global terkini, BPIP terkesan dengan sikap Sri Paus yang prihatin atas keadaan Gaza yang 'dramatis dan menyedihkan'.
Baca juga : Beijing Akan Jadi Tuan Rumah Dialog Menlu-Menhan China Dan Indonesia
"Beliau selalu mengimbau gencatan senjata dan penyelesaian damai atas konflik Gaza. Kita sangat kehilangan tokoh dan simbol perdamaian. Semoga penggantinya bisa meneruskan kiprah dan cita-cita beliau untuk mewujudkan perdamaian dunia," tutur Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.
Menurut Najib, perjuangan dan harapan Sri Paus juga selaras dengan salah satu cita-cita pendirian NKRI. "Sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Yakni turut serta dalam melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial," terangnya.
Analis Kebijakan Ahli Madya BPIP Galuh Ibrahim menambahkan, Sri Paus bagai angin sejuk bagi rakyat Indonesia yang selalu rindu perdamaian dan menjunjung tinggi semboyan Bhinneka Tunggal Ika. "Bapak Suci menghidupi makna 'Tan Hana Dharma Mangrwa'. Tak ada kebenaran yang mendua, dengan cara yang penuh kasih, menyentuh bukan hanya hati umat Katolik, tapi semua anak bangsa yang merindukan pelukan kebersamaan," beber Galuh.
Baca juga : Waspada, Efek Domino Tarif Resiprokal Trump bagi Indonesia
Paus telah tiada, namun pesan-pesannya tetap diingat dunia. Kepergiannya menjadi momentum untuk merawat kembali keberagaman. "Keberagaman adalah anugerah, bukan perbedaan yang memisahkan. Seperti matahari yang tak pernah memilih kepada siapa sinarnya jatuh, kasih Paus Fransiskus juga demikian. Menyinari siapa saja, tak pandang latar dan keyakinan," tutur Galuh.
Menurutnya, Paus telah pulang ke rumah keabadian, namun jejak langkahnya tetap membekas di tanah keberagaman Indonesia.
"Ia datang bukan membawa dogma, tapi harapan. Dalam senyumnya yang teduh dan ucapannya yang sederhana, ia mengajarkan bahwa kita semua adalah saudara dalam satu perahu. Mengarungi samudera kehidupan di bawah langit yang sama," tutup Galuh.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.