BREAKING NEWS
 

Kehadiran Prabowo Di KTT BRICS Momentum Bangkitnya Diplomasi Indonesia

Reporter & Editor :
SAIFUL BAHRI
Selasa, 8 Juli 2025 13:12 WIB
Presiden Prabowo Subianto hadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025di Rio de Janeiro, Brasil, pada Minggu (6/7/2025). (Foto : Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pakar ekonomi Didik J Rachbini menilai kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di Brasil menjadi momentum kebangkitan diplomasi Indonesia karena membuka akses investasi hingga diversifikasi mitra dagang. 

Selain itu, lewat pertemuan itu, Indonesia bisa berperan sebagai kekuatan penyeimbang global yang saat ini terbagi jadi blok Barat dan Timur.

Menurut Didik, kehadiran Prabowo memberi makna strategis bagi kebangkitan diplomasi Indonesia. Peluang dan manfaatnya terbuka akses pendanaan alternatif, investasi, peluang kerja sama teknologi, hingga diversifikasi mitra dagang.

Baca juga : Kawal Prabowo, Seskab Teddy: BRICS 2025 Sejarah Baru Diplomasi Indonesia

"Yang paling penting, Indonesia bisa memainkan peran sebagai kekuatan penyeimbang global di tengah pertarungan blok Barat dan Timur,” kata Didik J Rachbini dalam keterangannya, dikutip Selasa (8/7).

Menurut Didik yang juga Rektor Universitas Paramadina itu, diplomasi Indonesia di organisasi antarnegara BRICS dan Global South merupakan praktik politik bebas aktif yang baik demi tetap eksis dan bertahan di dunia internasional.

Adsense

Ia berpendapat, KTT BRICS yang dihadiri 30 pemimpin negara dan pemimpin organisasi internasional jadi tanda bahwa BRICS bakal berperan dalam dunia internasional secara signifikan.

Baca juga : Dari Arab Saudi Ke Rio, Prabowo Lanjutkan Diplomasi Di KTT BRICS Brazil

“Meskipun belum memiliki aliansi militer kuat, tetapi kekuatan ekonomi BRICS+ sangat besar dan signifikan,” kata Didik.

Bertalian dengan itu, lanjut Didik, situasi ekonomi global dan berbagai krisis global yang terjadi saat ini bisa jadi peluang bagi Indonesia memajukan ekonomi dalam negeri. Salah satunya dengan mengembangkan “industri hijau” di segala sektor.

Karena upaya dan kebijakan ini akan mendapat dukungan dunia, pemerintah, maupun swasta. Ini sejalan dengan kebijakan industri kita dengan pengembangan tambang nikel, pabrik baterai EV.

Baca juga : BP Haji Kawal Komitmen Bersama RI-Saudi Bangun Kampung Haji Indonesia

"Ini akan mengarah pada ekspor bernilai tinggi untuk menambah devisa dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi agar tidak jatuh di bawah 5 persen, tetapi naik perlahan menjadi 6 persen dan kemudian mendekati 7persen beberapa tahun mendatang,” tuturnya.

Pemerintah, kata Didik, jangan membiarkan industri pada saat ini hanya tumbuh 3-4 persen dan harus membuat kebijakan yang radikal. Peluang lainnya yaitu program dan kebijakan pangan dan energi berkelanjutan. 

“Ini merupakan program pokok pemerintah sekarang, yang begitu serius menjadi perhatian Presiden langsung. Petani beras distimulasi langsung dengan kebijakan harga tinggi sehingga produksi dan stok beras meningkat. Ini bisa sinambung jika diikuti oleh kebijakan produktivitas di tingkat petani on farm dan efisiensi dalam tata niaganya,” tegasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense