Dark/Light Mode

Absen Di KTT G7 Saat Iran-Israel Perang

Prabowo Terapkan Diplomasi Strategis

Sabtu, 21 Juni 2025 07:30 WIB
Wakil Ketua Umum PAN Eddy Soeparno. (Foto: Instagram/eddy_soeparno)
Wakil Ketua Umum PAN Eddy Soeparno. (Foto: Instagram/eddy_soeparno)

RM.id  Rakyat Merdeka - Partai Amanat Nasional (PAN) menilai, keputusan Presiden Prabowo Subianto absen di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7, di Kanada, 15-16 Juni 2025 sudah tepat. PAN memandang, Prabowo telah menerapkan diplomasi strategis.

Wakil Ketua Umum PAN Eddy Soeparno menegaskan, absennya Prabowo di KTT G7 sudah tepat di tengah konflik bersenjata Iran Versus Israel. Sebab, negara-negara G7 lebih condong mendukung Israel. Sementara, sikap Indonesia mendorong perdamaian dengan gerakan non-blok.

“Langkah Presiden Prabowo tidak menghadiri forum G7 adalah keputusan terbaik," kata Eddy, di Jakarta, Jumat (20/6/2025).

Wakil Ketua MPR ini juga me­nilai, ketidakhadiran Prabowo dalam forum negara-negara ekonomi maju dunia tersebut sebagai langkah diplomasi yang tepat dan strategis untuk mere­spons konstelasi yang terjadi di Timur Tengah.

Baca juga : KKP Tegaskan, Pulau-pulau Indonesia Tidak Dijual

“Ini langkah diplomasi yang strategis, tepat dan juga menun­jukkan konsistensi Indonesia pada politik luar negeri yang menolak segala bentuk penja­jahan dan atau serangan atas kedaulatan negara lain," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo kemudian memilihmenghadiri St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025 di Rusia daripada hadir di KTT G7. Prabowo datang ke SPIEF sebagai pembicara utama atas undangan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Eddy menilai, kehadiran Prabowo dalam SPIEF 2025 merupakan tonggak penting dalam menegaskan posisi strategis Indonesia di kancah global. "Pilihan untuk hadir dalam SPIEF 2025 ini adalah wu­jud diplomasi ekonomi aktif Indonesia yang semakin kuat dalam menghadapi situasi global yang kompleks dan semakin dinamis," tuturnya.

Alumni Universitas Indonesia (UI) itu meyakini, pertemuan tingkat tinggi Presiden Prabowo dengan Vladimir Putin akan membicarakan respons kedua negara terhadap konflik Israel-Palestina, serta mempersiapkan langkah-langkah terbaik untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah.

Baca juga : KPU Wajibkan Pemilih Bawa KTP Saat Nyoblos

"Peran aktif Diplomasi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo menjadikan Indonesia semakin diperhitungkan. Apalagi Presiden Prabowo konsisten dengan politik bebas aktif dan amanat konstitusi untuk meno­lak segala bentuk penjajahan dan penindasan," paparnya.

Sebelumnya, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi mengatakan, ketidakhadiran Presiden Prabowo Subianto dalam KTT G7 di Kanada 15-16 Juni 2025 bukan disebabkan keberpihakan terha­dap blok negara tertentu.

Dia menjelaskan, alasan uta­ma hal itu karena benturan jad­wal dengan sejumlah undangan strategis lainnya yang telah lebih dahulu dikonfirmasi, termasuk kunjungan kenegaraan ke Rusia dan Singapura pada 16-20 Juni 2025.

“Presiden mendapat banyak sekali undangan kehormatan dari berbagai negara. Tapi, be­berapa di antaranya waktunya beririsan, dan lokasinya pun berjauhan, Kanada, Rusia, dan Singapura. Pemerintah tentu sangat menghargai semua un­dangan ini," katanya.

Baca juga : Gencarkan Dong Sosialisasi Pemutihan Pajak Kendaraan

Pada KTT G7 di Kanada, negara-negara G7 menegaskan kembali komitmennya terhadap perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah. Tetapi, melalui pernyataan bersama, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris dan Amerika Serikat menuding Iran sebagai sumber utama ketidakstabilan dan teror di kawasan Timur Tengah. [BSH]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.