BREAKING NEWS
 

Catatan M. Romahurmuziy

Pejuang Itu Telah Kembali: Obituari Suryadharma Ali

Reporter : NANA MAULANA
Editor : UJANG SUNDA
Jumat, 1 Agustus 2025 12:56 WIB
Mantan Ketua Umum PPP Suryadharma Ali (Foto: Dok. Kemenag)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bagi saya, Mas Suryadharma Ali (SDA) bukan hanya Ketua Umum. Beliau adalah kakak, mentor, sekaligus guru politik saya. Sejak membersamainya tahun 2002 sebagai Tenaga Ahli Komisi V DPR, saat SDA adalah Ketuanya. Cermat adalah sifat yang paling tepat untuk menggambarkan almarhum. Kalimat demi kalimat, titik, bahkan koma, dalam balutan spidol hijau, selalu menghiasi koreksi almarhum atas konsep-konsep yang saya buat. Tak jarang kami berdebat, tentang nilai rasa bahasa dari sebuah konsep. 

Sesaat setelah di-fit and proper test Pak SBY tahun 2004, almarhum menelpon saya. "Rom, bantu saya di Kemen-PAN ya" ujarnya. "Jangan. Saya nggak ngerti apa-apa soal birokrasi, Mas", jawab saya. "Sudahlah kita sama-sama belajar," katanya. Untunglah tak lama kemudian SDA didapuk menjadi Menkop dan UKM. Setelah perubahan jelang pelantikan itu, almarhum menelepon saya lagi, "kali ini kamu nggak boleh nolak". Jadilah disiplin ilmu perkoperasian dan industri kecil yang saya geluti saat di DPR, menjadi bekal sebagai staf khususnya. 

Selama 5 tahun di Kemenkop & UKM, saya merasa almarhum betul-betul mengkader, mendidik, dan membimbing saya, tanpa sekalipun saya lihat marah. Program-program baru Kemenkop UKM, lahir dari goresan tangan almarhum. Seperti "SMEsCo Mart" yang masih bertahan di banyak tempat sebagai kemitraan peritel modern dengan koperasi. Atau gedung SMEsCo yang megah dan migunani di bilangan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Semua yang mengikuti perjalanannya dari dekat pasti bersaksi, SDA adalah pekerja keras dan family man. Di sela-sela aneka kunjungan dengan jadwal yang padat dan melelahkan, SDA selalu menyempatkan diri menelepon keluarga. Pernah di suatu penghujung malam selepas rapat Komisi V DPR, almarhum tak ada yang menjemput dan 'menumpang' mobil saya ke salah satu mall di bilangan Jaksel yang sudah hampir tutup. Saya tanya, "cari apa, Mas". "Bola. Untuk Raka", satu-satunya anak lelakinya, dan sangat disayanginya.

Baca juga : Urgensi Penguatan Lembaga Pembinaan Ideologi Pancasila

Pun sebulan sekali saya di akhir pekan hampir selalu menemani almarhum mengantarkan keluarga ke tempat liburan favorit mereka saat itu, Tanjung Lesung, Banten. Di hampir setiap konsinyir undang-undang jika diadakan di hotel, almarhum hampir selalu mengajak ketiga putrinya yang saat itu masih kecil, Chicha, Sherli, dan Nadia, untuk berenang.

Selepas operasi bypass yang dijalaninya saat menjadi Ketua Komisi V DPR, almarhum selalu berolahrga treadmill. Tak jarang, saya menerima koreksi atas sebuah konsep sambil almarhum treadmill. Itulah gambaran betapa setiap saatnya, SDA tak pernah berhenti bekerja. Dan penghargaan atas waktu itulah yang juga membentuk saya hari ini.

Tahun 2007 adalah saat yang semakin mendongkrak SDA. Saya mengajukan pamit dari jabatan staf khusus karena aplikasi beasiswa Chevening saya ke Inggris diterima. Tapi almarhum melarang saya, karena memintanya dibantu maju sebagai Ketua Umum PPP. "Anak buah ibumu kan masih banyak yang jadi Ketua DPC yang kamu kenal", demikian ujarnya. Walhasil, jadilah saya bersama sejumlah senior PPP seperti Suharso Monoarfa, Emron Pangkapi, Ermalena, Akhmad Muqowam, dan Lukman Saifuddin, berkelindan menjadi tim suksesnya. Kami berkeliling nusantara mendulang dukungan DPC PPP. Hasilnya? SDA menang tipis atas sejumlah rivalnya di Muktamar PPP di Ancol, Jakarta Utara.

Adsense

Saya pun diajak masuk ke kabinet Pengurus Harian DPP PPP selaku Wakil Sekjen I. Saat itu saya merasa almarhum betul-betul mengkader saya. Sepatutnya saya bukan urutan pertama, karena banyak wakil sekjen lainnya yang secara usia lebih senior. Tapi itulah SDA dengan determinismenya. Sejak itu, agenda keliling Indonesia bertambah: sebagai menteri dan sebagai Ketua Umum.

Baca juga : RUU BPIP Harusnya Gol

Dua kali saya mendampingi almarhum maju sebagai Ketua Umum di muktamar. Tahun 2007 dan 2011. Di Muktamar 2011 itu SDA mendesakkan ke formatur, "Sekjen saya Rommy". Setelah sempat kehilangan 20 kursi di 2009, alhamdulillah kerja keras SDA berhasil me-rebound PPP pada Pemilu 2014. 

Pasca-Pilpres 2014, dinamika di tubuh PPP mulai menghangat. KMP (Koalisi Merah Putih) vs KIH (Koalisi Indonesia Hebat) yang mempolarisasi parlemen hingga berbulan-bulan tanpa sidang, turut membelah PPP. SDA berhadapan dengan mayoritas Dewan Pimpinan Wilayah (DPW). Saya yang semula berusaha berada di tengah, didapuk untuk memimpin perlawanan para Ketua DPW yang tidak setuju perpanjangan seteru Pilpres. Ya, SDA adalah Prabowo garis keras. Bahkan almarhum menghadiri kampanye akbar Partai Gerindra di Senayan sesaat sebelum Pemilu 2014 dilaksanakan. Di situ saya merasa sedih. Harus berhadapan dengan mentor dan guru politik saya. Namun itulah politik.

Sepanjang 2014-2016, PPP terbelah. Almarhum bersama Djan Faridz. Sementara saya berikut sejumlah senior yang semula bersama SDA, memimpin PPP membersamai pemerintahan Jokowi. Alhamdulilah pada April 2016, terjadi Muktamar Ishlah di Asrama Haji. Hubungan kami pulih. 

Masa-masa sesudah itu saya disibukkan persiapan Pemilu 2019. Dan berikutnya, Covid. Hingga saya kembali bersilaturahmi dengan almarhum sejak pernikahan putri keduanya pada tahun 2022, Sherli. Beberapa bulan lalu, saya dan istri sempat makan malam bersama keluarga. Sampai kemudian saya mendapat kabar almarhum stroke dan dibawa ke RSPAD. Belum bisa dijenguk, menurut keluarga.

Baca juga : Dr Djuara yang Sederhana, Si Kombang dari Bogor

Rabu (30/7) lalu, kami, para kader almarhum yang masih duduk di struktur DPP PPP, masih menggelar Majelis Dzikir di kediaman KH. Zarkasih Nur di Ciputat. Salah satunya mendapat berita bahwa SDA kembali dirawat di RS. Mayapada, Kuningan, Jaksel. Sudah saya niatkan betul Kamis pagi itu untuk menengok. Namun, setelah Subuh saya mendapat kabar bertubi-tubi melalui WA, SDA wafat. 

Kemarin (31/7) saya melayat. Saya melihat sejumlah pejabat, mantan pejabat, kerabat dan teman seperjuangan. Menteri Agama (Menag) Nasarudin Umar, para mantan Menag dan Menteri Koperasi, bahkan para mantan Wapres KH. Makruf Amin dan Jusuf Kalla juga melayat. Jangan ditanya berapa banyak kader-kader PPP yang melayat. Memberikan penghormatan terakhir kepada pria berkacamata yang super cermat, serius, dedikatif, dan sangat menyayangi keluarga. Organisator handal, pejuang partai, dan pejuang Islam. 

Selamat jalan mas Surya. Selamat jalan sahabat Suryadharma Ali. Saya tak akan menjadi seperti hari ini tanpa bimbingan panjenengan. Kami sangat menyayangimu. Tapi Allah SWT lebih menghendakimu untuk kembali. Semoga Allah SWT mengampuni dosamu, menerima seluruh amal ibadahmu, dan memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Amin.

M. Romahurmuziy
Pimpinan Departemen DPP 2002-2007, Wakil Sekjen DPP 2007-2011, Sekjen DPP 2011-2014, Ketua Umum DPP 2014-2019, Ketua Majelis Pertimbangan DPP, 2022-2025

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense