Dark/Light Mode

Catatan Sophan Wahyudi

Dr Djuara yang Sederhana, Si Kombang dari Bogor

Rabu, 30 April 2025 09:12 WIB
Dr Djuara P Lubis (Foto: Sophan Wahyudi/RM)
Dr Djuara P Lubis (Foto: Sophan Wahyudi/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Lantang, tegas, dan lugas saat mengajar, itulah Dr Djuara P Lubis. Bersyukur saya sempat kuliah diampu oleh beliau. Mata kuliah Teori Komunikasi Pembangunan Lanjutan, Metode Penelitian, Kontruksi Teori Ilmu Komunikasi dan Penyuluhan Pembanguan, dan Komunikasi dan Perubahan Sosial.

Dr Djuara adalah Servaes-nya orang Bogor. Beliau adalah Bapak Komunikasi Pembangunan mazhab Bogor. Hidupnya penuh analog.

Saat memberikan materi teorinya Rogers Difusi Inovasi, beliau tetap melihat dari presfektif inovasi dalam perubahan sosial. Beliau masih senang membayar uang cash dibanding memiliki uang digital, dan senang langsung mengunjungi warung saat beliau perutnya sedang keroncongan. 

Baca juga : Pertamina Patra Niaga Hadirkan Berbagai Program Berbagi dan Promo Menarik

Komunikasi Pembangunan masih sangat asing didengar di telinga saya maupun orang banyak. Djuara terus bersuara dengan menyuarakan yang tak didengar dari buku tulisan mahasiswa yang beliau bimbing dan sekaligus menjadi editor Buku Komunikasi Pembangunan dengan mazhab Bogornya yang diluncurkan pada 29-30 April 2025 dan Temu Ilmiah Ilmu Komunikasi Pembangunan yang dibuka langsung oleh Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University Prof Dr. Sofyan Sjaf, di Ruang Seminar FEMA IPB Darmaga, Bogor, Selasa (29/4/2025).

Menjelang akhir semester dua kuliah  program doktor pada Prodi Komunikasi Pembanguan di IPB University Bogor, akhirnya saya banyak mengenal apa itu komunikasi pembanguan.

Istilah komunikasi pembangunan pertama kali dicetuskan pada tahun 1971 oleh Nora C. Quebral (Manyozo, 2006). Quebral (1971: 69) mendefinisikan bidang ini sebagai "seni dan ilmu komunikasi manusia yang diterapkan pada transformasi cepat sebuah negara dan masyarakatnya dari kemiskinan ke keadaan dinamis pertumbuhan ekonomi yang memungkinkan kesetaraan sosial yang lebih besar dan pemenuhan potensi manusia yang lebih besar".

Baca juga : Sambut Kedatangan Pemudik, Ahmad Luthfi: Jateng Sudah Siapkan Langkah Cepat

Namun, Quebral (1988) mengakui bahwa istilah ini meminjam dari kontribusi yang dibuat oleh Alan Chalkley (1968) dan Juan Jamias (1975) tentang jurnalisme pembangunan, dan karya Erskine Childers dan Mallica Vajrathon (1968) tentang komunikasi pendukung pembangunan. Erskine Childers memulai unit Komunikasi Pendukung Pembangunan pertama di UNDP di Bangkok pada tahun 1960-an (lihat Fraser dan Restrepo-Estrada 1998, atau Balit & Acunzo untuk rincian lebih lanjut).

Definisi-definisi ini telah ditafsirkan dan diterapkan dengan cara yang berbeda oleh berbagai organisasi yang bekerja pada tingkat masyarakat dan geografis yang berbeda. Baik di tingkat teori dan penelitian, maupun di tingkat pembuatan kebijakan dan perencanaan serta implementasi, perspektif yang berbeda telah dan masih ditawarkan. Perspektif tersebut didasarkan pada asumsi ontologis dan epistemologis yang berbeda dan oleh karena itu berasal dan berhubungan dengan pandangan dunia, perspektif disiplin ilmu, dan aplikasi metodologis serta berbasis kasus yang berbeda (Servaes 1999, 2008).

Pembangunan atau perubahan sosial dapat digambarkan sebagai perubahan signifikan dari tindakan sosial yang terstruktur atau budaya dalam suatu masyarakat, komunitas, atau konteks tertentu. Definisi yang luas ini dapat lebih diperinci lagi berdasarkan sejumlah "dimensi" perubahan sosial: ruang (mikro, meso, makro), waktu (pendek, menengah, jangka panjang), kecepatan (lambat, bertahap, evolusioner versus cepat, fundamental, revolusioner), arah (maju atau mundur), isi (sosiokultural, psikologis, sosiologis, organisasional, antropologis, ekonomis, dan sebagainya), serta dampaknya (damai versus kekerasan) (Servaes, 2011).

Baca juga : Cegah Rob, Jakarta Bangun Tanggul Laut Di Muara Karang, Cilincing Dan Muara Baru

Ternyata itulah defnisi dan konsep komunikasi pembangunan dan perubahan sosial, sangat melekat sekali di jiwa Pak Djuara yang penuh dengan kesederhanaan. Sudah puluhan tahun Pak Djuara mengabdi di Fakultas Ekologi Manusia Prodi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan. Beliau juga pernah menjabat sebagai Kaparodi tersebut. Di purnatugasnya, Pak Djuara harus melepas kesederhanaanya di kampus IPB University Bogor tercinta ini dan tetap terus mengabdi di likungan masyarakat yang lebih luas. Purnatugas April 2025 menjadikan kesederhanaan yang tidak akan pudar di Prodi Komunikasi Pembangunan. Terima kasih Pak Djuara, kau tetap Juara di hati mahasiswa.

Sophan Wahyudi 
Mahasiswa Program Doktor Komunikasi Pembangunan IPB University Bogor 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.