BREAKING NEWS
 

Perang Sebagai Ajang Cuci Gudang Senjata Tua

Reporter & Editor :
MARULA SARDI
Minggu, 24 Agustus 2025 15:27 WIB
Direktur WSB Cybernetica Indonesia Agung Wibowo. (Foto: Dokumen Pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Konflik Rusia–Ukraina bukan semata-mata persoalan geopolitik, melainkan juga arena konsumsi dan penghabisan persenjataan keras era lama yang sejak lama memenuhi gudang logistik militer. Di medan perang, yang mendominasi justru bukan senjata berbasis kecerdasan buatan, melainkan warisan Perang Dingin seperti tank T-72, T-64, dan T-80; kendaraan lapis baja BMP-1 dan BTR-80; artileri howitzer D-30 serta 2S1 Gvozdika; pesawat MiG-29, Su-27, hingga Su-25; kapal perang era 1970-an; serta rudal dan roket seperti S-300, Buk, Tochka-U, Grad, dan Smerch.

Semua itu merupakan Hard Vehicle, simbol persenjataan konvensional abad ke-20 yang kembali dipaksa hidup di abad ke-21. Laporan independen seperti Oryx memperkirakan Rusia telah kehilangan lebih dari 1.660 tank T-72 dan total 4.000 tank dalam invasi ini, sementara Ukraina pun kehilangan banyak jet tempur tua, helikopter, dan kendaraan tempur lapis baja, menjadikan konflik ini seakan museum hidup yang dipenuhi kehancuran mesin-mesin perang lawas.

Dalam kerangka lebih mendalam, perang ini memberi justifikasi ekonomi dan politik bagi negara-negara Barat maupun Rusia untuk memperbarui gudang persenjataan mereka. Setiap tank yang terbakar, setiap pesawat tua yang jatuh, dan setiap rudal yang ditembakkan berfungsi ganda: ia menandai kerugian di medan tempur sekaligus membuka ruang bagi industri pertahanan untuk memproduksi generasi baru persenjataan.

Dengan kata lain, perang Ukraina bukan hanya kontestasi teritorial, melainkan juga mekanisme “pembersihan stok” agar lahirlah pembenaran untuk investasi dalam sistem baru berbasis drone, kecerdasan buatan, dan pertahanan siber. Dimensi tersembunyi ini menunjukkan bahwa perang modern selalu punya dua wajah: satu wajah geopolitik yang tampak di depan layar, dan satu wajah industri yang bekerja di balik layar.

Penurunan ekspor senjata keras Rusia hingga 64 persen antara 2015–2019 dan 2020–2024 tidak dapat dilepaskan dari dinamika perang Ukraina yang memperlihatkan betapa stok lama berupa Hard Vehicle mulai kehilangan relevansinya. Sebaliknya, Amerika Serikat justru memperluas ruang industri militer melalui lonjakan 21 persen ekspor sistem keamanan digital dan AI, terutama sejak 2023, yang menggiring arah peperangan ke ranah siber dan otonom. Hal ini bukan hanya pergeseran teknologis, melainkan pergeseran ontologis: dari perang yang ditentukan oleh logam dan mesiu ke perang yang ditentukan oleh algoritme dan data.

Baca juga : Mendagri: Beras SPHP Jadi Solusi Terjangkau di Tengah Lonjakan Harga

Sejak awal 2000-an, Washington telah menguji keterhubungan ini—dari sistem Project Maven (diluncurkan 2017, dan terus diperbarui hingga 2025) yang mampu menganalisis data drone dan satelit dalam hitungan detik, hingga penggunaan jaringan sensor global untuk memangkas rantai keputusan serangan. Di sini, manusia hanya berperan sebagai stempel persetujuan, sementara kecepatan dan presisi ditentukan oleh mesin, sebuah transformasi epistemologis dalam memahami siapa yang “melihat” musuh terlebih dahulu.

Fenomena ini tidak hanya monopoli Barat. India, melalui sistem Akashteer—hasil kolaborasi Bharat Electronics, ISRO, dan DRDO—telah membuktikan sejak uji coba 2023 bahwa AI dapat mengintegrasikan radar, sensor udara-laut-darat, hingga satelit, untuk kemudian meluncurkan drone tempur yang secara mandiri mendeteksi, mengunci, dan menghancurkan target dengan tingkat keberhasilan mendekati 100 persen dalam operasi simulasi melawan Pakistan.

Jika tren ini dilihat dalam horizon panjang, maka sejak 2004 hingga 2025 kita menyaksikan sebuah pergeseran filosofis: perang tidak lagi sekadar arena konsumsi Hard Vehicle seperti tank, pesawat, dan artileri lama, tetapi juga ruang eksperimen bagi lahirnya “rasionalitas algoritmik” yang menggantikan intuisi manusia. Dengan demikian, konflik Ukraina dan data ekspor senjata global bukan hanya cermin geopolitik, melainkan juga tanda zaman bahwa perang kini berfungsi sebagai mekanisme transisi: dari penghancuran warisan logistik abad ke-20 menuju pembenaran industri bagi persenjataan abad ke-21.

Adsense

Perkembangan perang modern memperlihatkan kesinambungan antara penghancuran Hard Vehicle lama—tank T-72, MiG-29, rudal Tochka-U—dan kelahiran generasi baru persenjataan berbasis algoritme. Jika Rusia dan Ukraina menguras gudang lama, maka Amerika Serikat maupun India justru mengintegrasikan kecerdasan buatan langsung ke dalam sistem keras: Project Maven di AS sejak 2017 menghubungkan data drone dan satelit untuk mempercepat identifikasi target, sementara Akashteer di India pada 2023–2024 memperlihatkan bagaimana radar, sensor darat-laut-udara, dan satelit dapat dikendalikan AI dengan efektivitas hampir sempurna.

Transformasi ini menandai bahwa peralihan dari logika logam dan mesiu menuju logika algoritme bukanlah lompatan, melainkan evolusi bertahap dari Hard Vehicle ke Smart Weapon, di mana mesin lama dibakar habis agar justifikasi investasi pada mesin baru memperoleh legitimasi.

Baca juga : Menpora Dito Ajak Pemuda Wujudkan Semangat Kemerdekaan

Namun sejak 2024, laporan think-tank seperti RAND Corporation dan Chatham House menegaskan bahwa AI tidak hanya mengubah senjata keras, tetapi juga menciptakan senjata tak kasatmata di ruang siber. NATO dalam dokumen resminya, NATO Artificial Intelligence Strategy (2021, diperbarui 2024), bahkan menyebut AI sebagai “senjata superior yang akan menentukan keseimbangan militer abad ke-21”.

Di sinilah AI muncul sebagai mesin ofensif: menghasilkan malware adaptif, phishing hiper-personal, serta deepfake suara dan video yang menipu bukan hanya manusia, tetapi juga sistem identifikasi lawan. Model pertahanan baru lahir dari situ: Zero Trust berbasis AI, jaringan yang menyembuhkan diri, hingga deteksi anomali real-time. Laporan European Council on Foreign Relations 2025 menambahkan bahwa operasi psikologis berbasis AI kini mampu membentuk opini publik dalam skala jutaan hanya dalam hitungan jam, menjadikan perang bukan hanya soal tank yang hancur di Donbas, tetapi juga soal narasi yang hancur di ruang digital.

Peralihan ini membuka pertanyaan filosofis: apakah perang di abad ke-21 masih bisa disebut perang manusiawi, jika keputusan, manipulasi, dan bahkan kesalahan, kini sebagian besar dihasilkan oleh algoritme yang bekerja lebih cepat dari refleksi etis manusia?

Kecerdikan negara-negara besar terlihat jelas: Hard Vehicle lama yang dulunya simbol kekuatan kini justru diperlakukan sebagai beban yang harus segera dilepas. Perang Rusia–Ukraina menjadi arena nyata “penghabisan stok”: Jerman mengirim Leopard 1A5 ke Ukraina sekaligus melepas stoknya ke Brasil dengan nilai transaksi sekitar €120 juta pada 2024, Prancis menyalurkan AMX-10RC senilai puluhan juta euro, sementara Amerika Serikat mengirim M1A1 Abrams yang sebagian besar produksi awal 1990-an.

Rusia pun tak ketinggalan: mereka melepas MiG-29 ke Myanmar dengan kontrak bernilai sekitar 400 juta dolar AS pada 2023, serta paket senjata senilai US$200 juta ke negara-negara Afrika Tengah. Cina menjual pesawat tempur JF-17 Thunder ke Nigeria dan Myanmar, dengan nilai transaksi gabungan lebih dari 600 juta dolar AS antara 2021–2024, sementara Turki aktif mengekspor drone Bayraktar TB2 dan kendaraan lapis baja ke Asia Tenggara, Afrika, hingga Eropa Timur dengan kontrak senilai 1,2 miliar dolar AS pada 2023–2025. Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) Report 2024 dan European Council on Foreign Relations (ECFR) 2025 menegaskan bahwa pola ini memungkinkan negara-negara besar memperoleh dana segar untuk membiayai pengembangan senjata berbasis AI, sensor fusion, dan sistem siber otonom, sementara negara-negara pembeli justru terjebak dalam jebakan teknologi usang.

Baca juga : MotoGP, Enea Bastianini Nggak Sabar Ngaspal Di Kandang Sendiri

Paradoksnya, negara-negara berkembang—termasuk di Asia Tenggara—sering merasa diuntungkan karena menerima tank, rudal, atau jet tempur murah, padahal secara strategis hanya menjadi pasar untuk “rongsokan berteknologi tinggi” yang sengaja dilepas agar tidak membebani negara asal. NATO dalam dokumen Artificial Intelligence Strategy (pembaruan 2024) menekankan bahwa dominasi masa depan “tidak lagi ditentukan oleh jumlah kendaraan lapis baja, melainkan oleh keunggulan algoritme dan ruang siber.” Jika Indonesia terus terlena membeli Hard Vehicle tua, kita berisiko sekadar menjadi panggung pameran senjata rongsokan, sementara arsitektur perang global sudah melaju ke era Artificial Intelligence Future War. Pada saat orkestrasi siber menyerang infrastruktur nasional, kita masih sibuk mengandalkan kendaraan bekas dan pesawat tempur rongsokan—dan perang itu akan berakhir sebelum sempat dimulai.

Penulis: Agung Wibowo
(Direktur WSB Cybernetica Indonesia)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense