Dark/Light Mode

Menembus Sekat Primordial Melalui Ajaran Cinta dan Kasih

Selasa, 5 Agustus 2025 16:28 WIB
Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Romo Martinus Joko Lelono (Foto: Istimewa)
Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Romo Martinus Joko Lelono (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rasa cinta atau kasih sayang adalah bahasa kalbu universal. Ia dapat menembus sekat-sekat primordialisme yang seringkali memisahkan manusia atas alasan superfisial.

Dosen di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Romo Martinus Joko Lelono, menjelaskan bahwa Tuhan menginginkan manusia bisa saling mengasihi dan mengupayakan kesejahteraan bersama.

Romo Martinus menjelaskan, upaya meningkatkan kesejahteraan bersama sudah sewajarnya dilakukan. Sebab, pada dasarnya manusia akan bergantung dengan sesamanya.

Baca juga : Mendikdasmen Abdul Muti Ajak LDII Perkuat Pendidikan Karakter dan Kapasitas Guru

Seiring dengan meluasnya umat manusia di dunia, maka aspek kesejahteraan umum bersifat universal. Maksudnya, dalam pemenuhan hak dan kewajiban suatu kaum atau kelompok, harus pula memperhatikan aspirasi dan hak dari kelompok lainnya.

“Yang dimaksudkan dengan kesejahteraan umum adalah keseluruhan kondisi hidup kemasyarakatan, yang memungkinkan baik kelompok-kelompok maupun anggota-anggota perorangan, untuk secara lebih penuh dan lebih lancar mencapai kesempurnaan mereka sendiri. Setiap kelompok harus memperhitungkan kebutuhan-kebutuhan serta aspirasi-aspirasi kelompok-kelompok lain yang wajar, bahkan kesejahteraan umum segenap keluarga manusia,” terangnya.

Mengenai adanya kelompok keagamaan yang ditengarai sarat dengan kekerasan dalam upaya penyebaran ajaran, Romo Martinus tidak khawatir. Dia hanya menyayangkan jika masih ada seruan atau ajakan beragama dengan menindas ataupun memandang rendah manusia lainnya.

Baca juga : Lakukan Pendekatan Psikosial, Menteri Agus Makan Siang Bersama Warga Binaan

“Saya pikir ini adalah bagian dari dinamika hidup bersama. Dalam gambaran sosiologi, ini adalah gambaran untuk mendapatkan kekuasaan dan pengaruh. Mereka menggunakan jubah agama untuk mempengaruhi dan menguasai," ujarnya.

"Saya menyayangkan bahwa di negeri ini masih ada orang-orang yang masih percaya bahwa kemuliaan agama bisa diraih melalui kekerasan. Kemuliaan agama tidak akan bisa ditempuh dengan jalan yang membawa kesengsaraan bagi sesamanya,” lanjutnya.

Romo Martinus merasa bahwa sesama anak bangsa perlu lebih banyak lagi melakukan perjumpaan lintas keimanan. Negara juga perlu hadir sebagai fasilitator dalam menciptakan kesempatan ini, khususnya dalam menghadirkan sarana dan fasilitas umum yang terbuka bagi semua.

Baca juga : Podomoro Tenjo Luncurkan Food Center dan Funwalk

“Anak muda kita perlu memiliki ruang perjumpaan yang lebih banyak dengan mereka yang berbeda. Saya beberapa kali terlibat di dalam gerakan lintas iman di kalangan anak muda, ada cukup banyak peserta yang tidak pernah mengenal orang dari agama lain. Mereka bersekolah dengan teman seagama; bertetangga dengan yang seagama; berkegiatan dengan yang seagama,” tambahnya.

Dia lalu berbicara tentang hakikat cinta dalam kehidupan manusia. Dia berharap agar lembaga pendidikan formal dan non-formal tidak memisahkan pergaulan peserta didik berdasarkan agama yang dianut.

“Generasi muda perlu saling berjumpa agar mampu mengakui bahwa mereka punya kesalahan, dan orang lain punya kebaikan, serta sebaliknya. Negara perlu menyediakan media perjumpaan, misalnya taman kota, lapangan, jogging track, lapangan skateboard, sehingga orang bisa bertemu dan tidak terkungkung dengan gadget yang dalam beberapa kesempatan menjadi sarana masuknya paham intoleran,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.