RM.id Rakyat Merdeka - Pendidikan, sering disebut sebagai jalan paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan. Namun realitasnya, masih banyak anak-anak dari keluarga miskin di Indonesia yang tidak mampu mengakses pendidikan berkualitas.
Menjawab persoalan tersebut, Pemerintah meluncurkan program Sekolah Rakyat: sekolah gratis berasrama, yang seluruh kebutuhannya ditanggung negara, mulai dari biaya sekolah, seragam, makan, hingga tempat tinggal.
Program ini diharapkan bukan hanya mencetak lulusan dengan nilai akademik yang unggul, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian yang tangguh.
Dalam kerangka tasawuf —yang menekankan pembinaan hati, keadilan sosial, dan kepedulian pada sesama— Sekolah Rakyat bisa dibaca sebagai momentum penting. Untuk menggali lebih jauh perspektif sufistik atas program ini, RM.id berbincang dengan Budi Rahman Hakim, MSW., Ph.D, praktisi dan akademisi Tasawuf Sosial dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Pak Budi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Sekolah Rakyat menurut kebijakan Pemerintah?
Baca juga : Sekolah Rakyat, Melunasi Utang Kemerdekaan, Menuju Indonesia Emas 2045
Sekolah Rakyat adalah program pendidikan gratis berasrama bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Semua kebutuhan siswa ditanggung negara.
Tujuan utamanya, memberi kesempatan pendidikan bermutu secara merata, sehingga anak-anak dari keluarga kurang mampu bisa mendapatkan hak pendidikan tanpa diskriminasi ekonomi.
Dari perspektif tasawuf, nilai apa yang paling relevan dengan gagasan Sekolah Rakyat ini?
Nilai ihsan atau kepedulian sosial adalah yang paling kuat. Tasawuf selalu menekankan bahwa keberagamaan bukan hanya hubungan dengan Allah, tetapi juga tanggung jawab kepada sesama.
Sekolah Rakyat adalah bentuk konkrit dari keadilan sosial. Selain itu, tasawuf menekankan tazkiyat al-nafs, pembersihan jiwa. Pendidikan berasrama membuka peluang besar untuk membangun karakter, akhlak, dan disiplin spiritual siswa.
Baca juga : Cek Sekolah Rakyat Palembang, Wapres: Pendidikan Jalan Keluar Dari Kemiskinan
Apa tantangan yang mungkin muncul jika program ini tidak dilihat dalam kerangka sufistik?
Tantangannya ada pada fokus yang terlalu materialistik. Gedung dan fasilitas memang penting, tapi tanpa pembinaan ruhani, Sekolah Rakyat bisa kehilangan rohnya. Selain itu, ketersediaan guru juga krusial. Guru harus disiapkan bukan hanya sebagai pengajar akademik, melainkan juga sebagai murabbi — pembimbing spiritual yang bisa menanamkan akhlak.
Bagaimana model ideal Sekolah Rakyat bila ditopang oleh nilai-nilai tasawuf sosial?
Idealnya, setiap kegiatan dijalankan dengan niat ikhlas. Kehidupan di asrama harus dimanfaatkan untuk melatih tanggung jawab sosial, kebersamaan, dan ibadah. Evaluasi keberhasilan tidak hanya berdasarkan nilai akademik, tapi juga akhlak, empati, dan kepedulian sosial. Sekolah ini juga harus terhubung dengan masyarakat, agar transformasi siswa relevan dengan kehidupan nyata.
Apakah ada potensi program ini digunakan sebagai alat politik?
Baca juga : Sudah Tak Ada Aroma Banteng di Pemerintahan
Itu bisa terjadi. Dalam tasawuf ada peringatan soal riya’ dan sum’ah, yakni beramal demi pencitraan. Jika Sekolah Rakyat dijadikan simbol populis, ia akan kehilangan ruhnya. Tetapi bila dijalankan dengan keikhlasan, ia bisa menjadi ladang amal dan ruang transformasi jiwa bagi generasi baru.
Jadi, apa prospek ke depan dari Sekolah Rakyat menurut Bapak?
Prospeknya sangat menjanjikan, asalkan dijalankan dengan integritas spiritual dan sosial. Sekolah Rakyat berpotensi memutus rantai kemiskinan bukan hanya dari sisi materi, tetapi juga dari sisi batiniah. Jika konsisten, program ini bisa melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan berjiwa sosial. (*)
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.