Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sekolah Rakyat, Melunasi Utang Kemerdekaan, Menuju Indonesia Emas 2045
Minggu, 28 September 2025 12:41 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Syarat Indonesia Emas 2045, di usia 100 tahun Indonesia Merdeka, cuma satu. Yaitu, tidak ada lagi warga miskin. Ini ditegaskan Prof Dr Ir Mohammad Nuh, DEA, Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat (SR), Kementerian Sosial (Kemensos).
“Kebangkitan kaum dhuafa (kaum lemah secara ekonomi), itu ukuran. Mungkin ada yang berbeda pendapat, silakan,” ujarnya, secara eksklusif kepada Rakyat Merdeka & RM.id.
Semua mereka yang tidak mampu, lanjut Nuh, tidak boleh tercecer. “Harus kita masukkan ke “gerbong”, lalu mengantarkan mereka ke Stasiun 2045,” ujar Menteri Pendidikan Nasional periode 2009–2014 ini mengibaratkan.
Inilah menurut Nuh, yang mendasari dibentuknya Sekolah Rakyat. Demi menjamin pendidikan bagi anak-anak yang tidak bisa bersekolah karena faktor kemiskinan. “Karena enggak bisa membayar. Harus ada solusi. Ya di SR itu,” jelas Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya periode 2003–2006 ini.
Baca juga : Sekolah Rakyat Putus Rantai Kemiskinan dan Lahirkan Generasi Emas 2045
Untuk kerja besar ini, lanjut Nuh, Pemerintah wajib menggandeng semua pihak. “Tidak boleh dimonopoli oleh Pemerintah saja. Tapi harus mengajak partisipasi publik, masyarakat. Misal Pemerintah sendirian mampu pun, saya juga nggak setuju! Kekuatan bukan semata milik Pemerintah. Tapi justru ada di masyarakat” tegasnya.

Sehingga SR ini bisa dikerjasamakan dengan pihak manapun, termasuk misalnya pondok pesantren, dengan beragam skema.
Dengan begitu, ujar Nuh, akan terbentuk program berkelanjutan, karena semua pihak punya rasa memiliki (public ownership), yang terbangun karena partisipasi semua pihak. Teknisnya, lanjut Menteri Komunikasi dan Informatika periode 2007–2009 ini, diatur oleh Kemensos.
Nuh juga menjelaskan konsep Trilogi SR, dengan prinsip utama, ingin memuliakan kaum kecil (wong cilik), honoring the poor. Maksudnya, jelas Nuh, memberi, dengan melebihi dari kebutuhan dasarnya.
Baca juga : Wartawan Rakyat Merdeka Sukses Sabet Juara 1 Apeka 2025
“Tidak sekadar memuliakan, tapi juga membahagiakan. Ini bahkan merupakan upaya kita melunasi hutang negara, terutama kepada rakyat miskin!” tegas guru besar bidang ilmu digital control system, dengan spesialisasi sistem rekayasa biomedika ini.
Karena saat kemerdekaan, terang Nuh, janji negara ini adalah memberikan kesejahteraan, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan sebagainya.

Trilogi kedua, lanjutnya, menjangkau yang tidak terjangkau (reach the unreachable). Ini dilatari fakta, sering kasus adanya anak-anak yang tidak mampu sekolah, padahal di depan tempat tinggal mereka ada sekolah.
“Karena bersekolah itu kan perlu biaya lagi. Selain dianggap sebagai investasi, sekolah juga perlu biaya operasional, hingga biaya personal,” jelasnya.
Baca juga : Daeng Sitaba, Petani Yang Ulet dan Penuh Semangat
Sehingga ketika sejumlah anak sudah bisa diakomodir di sekolah negeri, sekolahnya gratis, tapi biaya personal, tidak ada yang menanggung. Baik untuk makan, transportasi, buku, baju, dan seterusnya.
Akhirnya, kata Nuh, SR ingin melengkapi semuanya dengan menerapkan konsep berasrama. Jadi biaya personal sudah selesai. Karena urusan makan, minum, pakaian, buku-buku, alat tulis, semuanya diberikan gratis.
Ketiga, making impossible, possible! Memungkinkan yang tidak mungkin. “Ini nggak ngarang. Saya sudah membuktikan, yang tadinya anak-anak tidak mungkin kuliah, kita buat mungkin kuliah. Bidik misi!,” cetus penyandang gelar Rektor Termuda dalam sejarah ITS ini.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya