BREAKING NEWS
 

Andy Sommeng: Bioetanol Jadi Jalan Indonesia Wujudkan Kedaulatan Energi

Reporter & Editor :
BAMBANG TRISMAWAN
Jumat, 3 Oktober 2025 17:40 WIB
Ilustrasi biofuel. (Shutterstock)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penggunaan etanol dalam bahan bakar minyak (BBM) bukan sekadar persoalan teknis menaikkan angka oktan, melainkan mencerminkan cara sebuah negara memandang ketahanan energi, kedaulatan pangan, dan arah kebijakan iklimnya. Hal itu ditegaskan Prof. Andy N. Sommeng, ahli energi sekaligus Guru Besar Tetap Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

“Membicarakan BBM yang dicampur etanol sejatinya berbicara tentang pergeseran paradigma energi, dari sekadar memenuhi kebutuhan mobilitas menuju upaya menghubungkan sektor pertanian, energi, dan iklim,” ujar Andy di Jakarta, Jumat (4/10/2025). 

Andy mengatakan, Etanol bukanlah sekadar zat aditif yang meningkatkan angka oktan bensin, melainkan simbol bagaimana sebuah negara memandang ketahanan energi dan kedaulatan pangan.

Baca juga : Mendagri Dorong Pemda & Investor Kolaborasi Wujudkan Energi Sampah

Andy menjelaskan, Brazil menjadi contoh klasik bagaimana bioetanol dijadikan instrumen strategis. Sejak krisis minyak 1970-an, negara itu memanfaatkan keunggulan tebu untuk memproduksi etanol, melahirkan mobil fleksibel berbahan bakar biofuel, dan menjadikannya kebanggaan nasional. “Apa yang semula lahir dari krisis minyak kini menjadi kebanggaan nasional dan instrumen diplomasi energi,” katanya.

Adsense

Di Amerika Serikat, jagung dijadikan tulang punggung etanol bukan semata demi lingkungan tetapi juga menopang lobi agrikultur. “E10 menjadi standar nasional bukan hanya karena alasan teknis, melainkan karena adanya sinergi politik energi, politik pangan, dan politik negara bagian penghasil jagung,” terang Andy.

Menurutnya, negara-negara Eropa Barat lebih berhati-hati dengan campuran E5 atau E10 sambil mengembangkan kendaraan listrik, sementara India, Tiongkok, Thailand, dan Filipina melihat etanol sebagai instrumen strategis mengurangi impor minyak dan menyerap surplus produksi pertanian.

Baca juga : Gaung Soekarno Dan Prabowo Di PBB: Seruan Kemanusiaan Dan Perdamaian

Bagaimana dengan Indonesia? Andy menyebut, program bioetanol pernah diujicoba dengan peluncuran Pertamax E5–E10, namun terhenti karena keterbatasan pasokan. “Energi terbarukan berbasis nabati di negeri ini justru lebih cepat maju di jalur biodiesel ketimbang bioetanol. Ini menunjukkan bahwa pilihan energi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga ketersediaan bahan baku, infrastruktur, dan konsistensi kebijakan,” ujarnya.

Andy menegaskan bioetanol bukan sekadar energi alternatif, melainkan energi politis. “Di balik setiap angka blending, E3, E5, E10, E20, E85, E100—terselip narasi tentang bagaimana sebuah bangsa menghadapi persoalan iklim, bagaimana ia memperlakukan petaninya, dan bagaimana ia membangun ketahanan energi,” katanya.

Ia menutup dengan refleksi filosofis, mengutip Heidegger. “Teknologi bukan sekadar alat, melainkan cara manusia menyingkap dunia. Dalam hal ini, etanol adalah cara bangsa-bangsa menyingkap dunianya masing-masing: Brasil menyingkap dunia tebu, Amerika dunia jagung, India dunia molase, dan Indonesia dunia sawit. Pertanyaannya, dunia apa yang ingin kita singkap melalui kebijakan energi kita ke depan?” pungkas Andy.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense