BREAKING NEWS
 

Survei KedaiKOPI: Publik Dukung Soeharto Dan Gus Dur Jadi Pahlawan Nasional

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Sabtu, 8 November 2025 13:30 WIB
Pendiri lembaga survei KedaiKopi Hendri Satrio. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) merilis hasil survei terbarunya terkait persepsi masyarakat terhadap wacana pengangkatan Presiden RI ke-2 Soeharto dan Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Pahlawan Nasional.

Survei ini dilakukan pada 5–7 November 2025 dengan menggunakan metode Computer Assisted Self Interviewing (CASI) terhadap 1.213 responden di berbagai daerah.

Founder Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio (Hensa) menjelaskan, tujuan survei bukan hanya untuk mengetahui tingkat persetujuan publik, tetapi juga menggali alasan di balik dukungan maupun penolakan terhadap kedua tokoh tersebut.

“Survei ini tidak hanya mengungkapkan berapa persen publik setuju atau tidak setuju, namun juga menyampaikan alasan publik di balik itu semua. Hasil ini diharapkan bisa menjadi pertimbangan pemerintah dalam pengangkatan kedua tokoh itu sebagai pahlawan nasional,” ujar Hensa di Jakarta, Jumat (8/11/2025).

Berdasarkan hasil survei, 80,7 persen responden mendukung Soeharto untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Alasan utama dukungan tersebut adalah keberhasilan Soeharto dalam program swasembada pangan (78 persen), pembangunan nasional (77,9 persen), sekolah dan sembako murah (63,2 persen), serta stabilitas politik yang baik (59,1 persen).

Baca juga : Singgih Januratmoko Dukung Penuh Usulan Gelar Pahlawan untuk Soeharto

“Yang terbanyak karena berhasil membawa Indonesia swasembada pangan dan pembangunan nasional, juga karena masa itu sekolah dan sembako murah serta stabilitas politik yang baik,” kata Hensa.

Namun demikian, 15,7 persen responden menyatakan tidak setuju dengan pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional. Mayoritas penolak beralasan karena kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) (88 persen), pembatasan kebebasan berpendapat (82,7 persen), serta pelanggaran HAM (79,6 persen).

“Dukungan pada Soeharto didasarkan pada aspek pembangunan dan ekonomi, sementara penolakan didominasi isu KKN, HAM, dan kebebasan sipil. Ini hal krusial yang patut dipertimbangkan Dewan Gelar,” jelasnya.

Adsense

Sementara itu, 78 persen responden menyatakan mendukung Gus Dur menjadi Pahlawan Nasional. Alasan utama dukungan publik adalah karena peran Gus Dur dalam mengawal toleransi dan demokrasi Indonesia (89,1 persen). Dukungan juga muncul karena kesederhanaannya sebagai presiden (57,1 persen), diplomasi internasional (38,2 persen), serta kinerja pemerintahan yang dikenang positif.

“Mayoritas mendukung Gus Dur karena dianggap berhasil mengawal toleransi dan demokrasi, menjadi presiden sederhana, dan dihormati di dunia internasional,” tutur Hensa.

Baca juga : Soeharto Layak Jadi Pahlawan Nasional Tokoh Bangsa Kompak Beri Dukungan

Namun, sejumlah responden menyatakan tidak setuju Gus Dur menjadi Pahlawan Nasional. Alasannya antara lain karena kinerjanya sebagai presiden dinilai belum terasa (54,8 persen), ada tokoh lain yang dianggap lebih layak (47,8 persen), dan dinilai hanya merepresentasikan kelompok tertentu (39,2 persen).

“Dukungan terhadap Gus Dur banyak datang dari generasi milenial dan Gen-X yang merasakan langsung kiprahnya sebagai presiden, aktivis, maupun tokoh agama,” tambah Hensa.

Survei KedaiKOPI juga menemukan perbedaan signifikan dalam sumber informasi publik mengenai kedua tokoh tersebut. Publik memperoleh informasi tentang Soeharto terutama dari buku sejarah dan akademik (24,7 persen), kurikulum pendidikan formal (21,7 persen), serta cerita langsung dari korban atau keluarga korban (19,6 persen). Sementara itu, media sosial dan internet (17,2 persen) serta media massa (16,8 persen) juga menjadi sumber pelengkap.

“Memang sumber informasinya cukup beragam, namun yang dominan untuk Soeharto berasal dari buku sejarah dan pendidikan formal,” ujar Hensa.

Berbeda dengan itu, publik lebih banyak memperoleh informasi tentang Gus Dur dari media massa (31,2 persen), diikuti oleh diskusi di media sosial (24,2 persen), buku sejarah (17,8 persen), cerita langsung (15,2 persen), dan pendidikan formal (11,6 persen). “Kalau Pak Harto lebih dikenal dari buku dan pendidikan formal, sementara informasi tentang Gus Dur paling banyak didapat dari media massa,” jelas Hensa.

Baca juga : Soeharto Dan Gus Dur Pantas Dapat Gelar Pahlawan Nasional

Menutup pemaparannya, Hensa berharap hasil survei ini dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah, khususnya Presiden Prabowo Subianto, dalam menyikapi wacana pengangkatan Soeharto dan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional.

“Jangan hanya dilihat dari angkanya saja, tapi juga alasan di baliknya. Ini poin penting untuk dipertimbangkan secara menyeluruh,” ujarnya.

Hensa menegaskan, KedaiKOPI hanya menyajikan data opini publik yang mencerminkan pandangan masyarakat saat ini. “Kami menyajikan opini masyarakat yang tentu tidak sempurna, tapi setidaknya menggambarkan pandangan yang hidup di masyarakat saat ini,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense