BREAKING NEWS
 

Hari PPOK Sedunia 2025, Prof. Ratnawati: Sesak Napas, Jadi Alarm Awal

Reporter : BOY SAKTI HAPSORO
Editor : FAQIH MUBAROK
Rabu, 19 November 2025 15:37 WIB
Anggota Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof. dr. Ratnawati. Foto: PDPI

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof. dr. Ratnawati menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap gejala sesak napas yang kerap dianggap sepele. Bisa jadi, itu masuk kategori penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

“PPOK merupakan penyebab kematian ketiga tertinggi di dunia. Banyak pasien datang pada stadium lanjut karena gejala awalnya diabaikan,” ujar Prof. Ratnawati saat konfrensi pers Peringatan Hari PPOK Sedunia, yang digelar secara daring, Rabu (19/11/2025).

Prof. Ratnawati mengatakan, Peringatan Hari PPOK Sedunia pada Senin (17/11/2025), mengusung tema global : “Sesak Napas, Pikirkan PPOK.” Diamininya, saat ini PPOK masih menjadi salah satu masalah kesehatan global yang serius.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), PPOK menyebabkan 3,23 juta kematian pada tahun 2019, dengan 90 persen kasus terjadi pada kelompok usia di bawah 70 tahun.

Baca juga : Di Hari Santri 2025, Bupati Serang: Jadikan Santri Garda Terdepan Indonesia Emas

Indonesia, termasuk negara dengan beban PPOK tinggi, terutama karena paparan rokok, polusi udara, dan debu kerja. Prevalensi PPOK di Indonesia diperkirakan mencapai 5,6 persen.

Prof. Ratnawati menekankan bahwa sesak napas, batuk kronis, serta produksi dahak berlebihan harus menjadi tanda peringatan dini.

“Banyak orang menganggap sesak napas sebagai bagian dari penuaan atau akibat kelelahan. Padahal, gejala ini bisa merupakan sinyal awal PPOK,” jelasnya.

Ia juga menyoroti bahwa PPOK bukan hanya menyebabkan gangguan pernapasan, tetapi juga berdampak besar terhadap produktivitas dan kualitas hidup pasien.

Baca juga : Dunia Rayakan Hari Danau Sedunia Perdana, Indonesia Jadi Penggagas

“Aktivitas sederhana seperti berjalan atau mandi bisa menjadi tantangan berat bagi penderita PPOK. Ini bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga sosial dan ekonomi,” sebutnya.

Prof. Ratnawati mengimbau masyarakat, terutama mereka yang memiliki riwayat merokok—baik aktif maupun pasif—atau terpapar polusi udara jangka panjang, untuk melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan faal paru atau spirometri.

“PPOK memang tidak dapat disembuhkan, tetapi intervensi dini dan pengobatan yang tepat dapat memperlambat progresivitas penyakit dan meningkatkan kualitas hidup pasien,” katanya.

Menutup pernyataannya dalam momentum Hari PPOK Sedunia 2025, Prof. Ratnawati menyampaikan pesan, jika kedapatan sering mengalami sesak napas, batuk kronis, atau mengi, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan dokter.

Adsense

Baca juga : Jarang Dikawal Pake Strobo, Pramono Ngaku Nikmati Suasana Lalu Lintas Jakarta

“Bertindaklah lebih awal dan segera pikirkan PPOK,” pungkasnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense