Sebelumnya
Sementara itu, Anggota PDPI, Dr. dr. Edward Pandu W mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap hipertensi pulmonal (HP), penyakit kronis pada paru dan jantung yang kerap luput dari diagnosis dini.
Dr. Edward menegaskan, hipertensi pulmonal bukan penyakit langka seperti yang banyak diasumsikan masyarakat. Justru sebaliknya, kasusnya terus meningkat dan sering ditemukan dalam kondisi yang sudah berat.
“Hipertensi pulmonal adalah kondisi serius. Tekanan yang tinggi pada pembuluh darah paru dapat menyebabkan gagal jantung kanan dan berujung pada kematian dini jika tidak ditangani segera,” ujar Dr. Edward Pandu di Jakarta.
Menurut data dunia, katanya, lebih dari 25 juta orang hidup dengan hipertensi pulmonal. Namun sebagian besar tidak menyadari gejalanya, sehingga datang ke rumah sakit dalam kondisi lanjut.
Baca juga : Di Hari Santri 2025, Bupati Serang: Jadikan Santri Garda Terdepan Indonesia Emas
Dr. Edward mengungkapkan, di Indonesia tren peningkatan HP sejalan dengan bertambahnya pasien penyakit paru kronik, penyakit jantung, dan berbagai kondisi lain yang menjadi faktor risiko.
“Keterlambatan diagnosis adalah masalah utama. Banyak pasien menganggap sesak napas atau mudah lelah sebagai kondisi biasa. Padahal itu bisa gejala awal hipertensi pulmonal,” tegasnya.
Dirincikannya, gejala lain yang perlu diwaspadai antara lain: Sesak saat aktivitas ringan, cepat lelah, nyeri dada, bengkak di tungkai, hingga pingsan tanpa sebab jelas. Sejalan dengan tema global tahun ini, PDPI menekankan pentingnya kolaborasi antara tenaga medis dan masyarakat.
“Deteksi dini itu kunci. Bila gejala menetap, segera konsultasi ke dokter paru atau jantung. Jangan tunggu semakin berat,” jelas Dr. Edward.
Baca juga : Dunia Rayakan Hari Danau Sedunia Perdana, Indonesia Jadi Penggagas
Ia juga menekankan langkah pencegahan sederhana yang bisa dilakukan masyarakat, seperti: Tidak merokok, menghindari polusi, rutin memeriksa kesehatan paru-jantung, serta menerapkan gaya hidup sehat.
Selain itu, dalam rangkaian kegiatan PDPI, pihaknya menggelar sejumlah kegiatan nasional, di antaranya: Webinar Nasional bertema “Pulmonary Hypertension: Early Detection, Better Outcomes” dengan narasumber para ahli paru dan jantung.
Kemudian, kampanye edukatif melalui media sosial dan platform digital, pemeriksaan kesehatan dan penyuluhan di berbagai rumah sakit, advokasi kebijakan untuk peningkatan surveilans, ketersediaan obat, dan fasilitas diagnosis.
Melalui peringatan ini, Dr. Edward berharap masyarakat makin peka terhadap gejala penyakit paru kronik.
Baca juga : Jarang Dikawal Pake Strobo, Pramono Ngaku Nikmati Suasana Lalu Lintas Jakarta
“Dengan kerja sama Pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, kita dapat menekan keterlambatan diagnosis serta meningkatkan kualitas hidup pasien hipertensi pulmonal,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.