BREAKING NEWS
 

Rambut Ibu Deden Maulana, Pegawai KKP Korban ATR 42-500 Diserahkan Ke Tim DVI

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Senin, 19 Januari 2026 14:32 WIB
Ayah salah satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Deden Maulana memberikan keterangan kepada wartawan di Pasar Minggu, Jakarta, Senin (19/1/2026). (ANTARA/Luthfia Miranda Putri)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rambut ibunda Deden Maulana, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menjadi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan telah diserahkan oleh pihak keluarga kepada Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri, Senin (19/1/2026).

Rambut tersebut akan digunakan dalam tes asam deoksiribonukleat (DNA), untuk keperluan identifikasi korban. 

"Menurut tim DVI, harus ada yang sedarah. Yang diminta di antaranya adalah contoh rambut ibunya," kata ayah Deden, Mukhsin kepada wartawan di Jakarta, seperti dikutip ANTARA, Senin (19/1/2026).

Baca juga : Menhub Tegaskan, Pencarian Pesawat ATR 42-500 Di Maros Terus Diintensifkan

Selain itu, adik korban dan suaminya juga diminta pergi ke Makassar untuk diperiksa dan memberikan sejumlah data yang dibutuhkan. Seperti ijazah, kartu keluarga (KK), tanda-tanda di badan, baju yang dipakai, dan foto Deden sedang tersenyum kelihatan gigi.

Adsense

Tak Ada Firasat Apa-Apa 

Mukhsin menuturkan, keluarganya tidak merasakan atau mendapat firasat apa pun terkait musibah jatuhnya pesawat ATR 42-500. Pihak keluarga pasrah menunggu kabar keberadaan Andi dari Kementerian KKP.

Baca juga : Tim SAR Gabungan Temukan 1 Jenazah Korban Pesawat ATR 42-500

Dalam konferensi pers di Jakarta pada Sabtu (17/1/2026) malam, Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono mengkonfirmasi, pegawainya menjadi korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Sulawesi Selatan.

"Perlu kami sampaikan, benar terdapat pegawai KKP dalam pesawat tersebut, yang sedang melakukan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara atau air surveillance di wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia," jelas Trenggono.

Tim air surveillance yang dimaksud terdiri dari tiga orang, yakni Ferry Irawan (Penata Muda Tingkat I, Jabatan: Analis Kapal Pengawas), Deden Mulyana (Penata Muda Tingkat I, Jabatan: Pengelola Barang Milik Negara), dan Yoga Naufal (Jabatan: Operator Foto Udara).

Baca juga : Bantu Pemulihan Bencana, Polda Riau Kirim Ribuan Alat Kerja Ke Aceh Dan Sumbar

Selain tiga pegawai KKP, musibah jatuhnya pesawat ATR 42-500 ini juga merenggut tujuh nyawa kru Indonesia Air Transport, selaku operator pesawat tersebut. Para korban tersebut adalah Andy Dahananto (kapten/pilot), Farhan Gunawan (kopilot), Hariadi (flight operation officer), Restu Adi P (engineer), Dwi Murdiono (engineer), Florencia Lolita (awak kabin), dan Esther Aprilita S (awak kabin).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense