BREAKING NEWS
 

Temukan Seluruh Korban Pesawat ATR 42-500, Tim SAR Sujud Syukur

Reporter : BHAYU AJI PRIHARTANTO
Editor : ADITYA NUGROHO
Sabtu, 24 Januari 2026 07:30 WIB
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar Andi Sultan mengusap air mata usai menahan tangis haru saat menyampaikan update laporan operasi SAR kecelakaan pesawat ATR 42-500 hari ketujuh, Jumat (23/1/2026). (Foto: Dok. Basarnas Makassar)

RM.id  Rakyat Merdeka - Seluruh korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, akhirnya berhasil ditemukan. Kabar tersebut disambut haru oleh Tim SAR gabungan yang langsung melakukan sujud syukur di Posko Komando. 

Setelah tujuh hari berjibaku dengan kabut tebal, suhu dingin, hujan, serta medan berupa tebing terjal, perjuangan Tim SAR gabungan membuahkan hasil maksimal. Korban terakhir dari total 10 korban berhasil ditemukan oleh Tim Elang 5 Yonif 700 Raider Kodam XIV/Hasanuddin bersama unsur SAR gabungan. 

“Total 10 jenazah ditemukan, baik dalam kondisi utuh maupun body part. Korban terakhir ditemukan pada pukul 08.40 WITA berdasarkan laporan tim di lapangan,” ujar Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, di Posko Tompo Bulu, Balocci, Pangkep, Jumat (23/1/2026). 

Emosi Andi Sultan tak terbendung saat menerima kabar tersebut. Hari-hari panjang menyusuri jurang, diguyur hujan, diselimuti kabut, serta beban tanggung jawab untuk memastikan tak satu pun korban tertinggal akhirnya terbayar lunas. 

Ia menegaskan, keberhasilan operasi pencarian ini lahir dari kebersamaan seluruh unsur yang terlibat. Semua bekerja berdampingan tanpa sekat komando maupun institusi. 

Baca juga : Kahfi Adlan Hafiz: Keamanan Digital Belum Terjamin

“Saya selaku On Scene Coordinator mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya atas dukungan, upaya, tenaga, serta pikiran seluruh tim SAR gabungan dan TNI/Polri, sehingga operasi SAR kecelakaan pesawat ATR 42-500 dapat terlaksana dengan lancar,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. 

Begitu laporan dinyatakan lengkap, suasana haru semakin terasa di posko. Andi Sultan berdiri bersama Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin Kolonel Inf Dody Priyo Hadi dan Asisten Perencanaan (Asrem) Kodam XIV/ Hasanuddin Kolonel Inf Abi Kusnianto. Ketiganya langsung melakukan sujud syukur sambil saling berpelukan. Tepuk tangan dan teriakan penuh haru menggema di Posko Tompo Bulu. 

Suasana haru saat tim SAR menemukan korban terakhir pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung. (Dok. Basarnas Makassar)

Kolonel Inf Dody Priyo Hadi mengakui, keberhasilan ini meninggalkan suasana emosional mendalam. Isak tangis dan raut wajah lelah yang bercampur syukur tampak jelas di wajah para komandan lapangan yang memimpin langsung operasi bertajuk “Sapu Bersih” tersebut. 

Saat laporan melalui radio panggil mengonfirmasi korban ke-10 telah ditemukan, mata perwira menengah itu tampak berkaca-kaca. Raut tegang yang bertahan selama sepekan seketika luruh. 

Adsense

Di sampingnya, Komandan Kodim 1421/Pangkep Letkol CZI Bhakti Yuhandika dan jajaran Basarnas Makassar turut terdiam dalam suasana haru. Perjuangan prajurit TNI dari Tim Elang 5 Yonif 700 Raider bersama tim gabungan lainnya akhirnya membuahkan hasil pada hari ketujuh operasi. 

Baca juga : Hendrawan Supratikno: Bisa Kurangi Aneka Bentuk Penyimpangan

“Alhamdulillah, pada hari ke-7 kita bisa menemukan seluruh korban, termasuk benda-benda penting dari pesawat. Tepat hari ini kami gunakan sandi ‘sapu bersih’, dan Allah meridai sandi tersebut,” ujar Kolonel Dody. 

Ia menjelaskan, upaya menemukan korban terakhir bukan perkara mudah. Tim SAR harus menuruni tebing curam yang menyerupai jurang atau cekungan sungai kering di lereng gunung. Lokasi tersebut sangat berbahaya, terutama saat hujan, karena cekungan dapat berubah menjadi aliran air deras. 

Korban ke-10 ditemukan berada dalam satu areal dengan enam korban lain yang telah ditemukan lebih awal. Namun, posisinya yang berada di dasar cekungan menuntut teknik evakuasi khusus. 

“Kondisi medan mengharuskan prajurit menggunakan teknik tali-temali dan keahlian mendaki tingkat tinggi untuk mengangkat jenazah dari dasar jurang,” jelas Dody. 

“Lokasinya berupa cekungan tebing atau jurang seperti alur sungai. Posisinya di darat, tapi jalurnya mengarah turun ke dalam cekungan. Ini yang sangat menyulitkan,” tambahnya. 

Baca juga : Senayan Usul Utamakan Pencegahan Dan Mitigasi

Jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 kemudian dievakuasi menggunakan helikopter TNI AU jenis Caracal. Hingga kini, tujuh jenazah telah dievakuasi ke RS Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi. 

Sementara itu, Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro mengungkapkan bahwa hingga Jumat sore, Bidokkes Polri telah menerima total 11 body pack atau kantong jenazah dari lokasi kejadian. 

“Dari 11 kantong jenazah tersebut, satu kantong hanya berisi tulang. Hal ini menyebabkan jumlah kantong menjadi 11, meskipun dalam manifes tercatat 10 penumpang,” jelasnya. 

Tim medis telah berhasil mengidentifikasi tiga korban secara pasti, yakni kru pesawat Florencia Lolita Wibisono dan Esther Aprilita Sianipar, serta Deden Mulyana, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Dari hasil sementara, tiga korban telah berhasil teridentifikasi,” ujar Kapolda. 

Pada kesempatan yang sama, Kepala Biro Laboratorium Dokkes Pusdokkes Polri Brigjen Pol Sumy Hastry Purwanti menjelaskan alur teknis proses identifikasi. Ia menyebut proses tersebut diperkirakan memerlukan waktu sekitar satu pekan. [BYU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense