BREAKING NEWS
 

Guru Besar Trisakti: Gagasan Gentengnisasi Prabowo Lindungi Balita dan Lansia

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Selasa, 3 Februari 2026 13:58 WIB
Atas rumah warga yang terbuat dari genteng. (Gambar dibuat dengan ChatGPT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Guru Besar Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansah, menilai gagasan Presiden Prabowo Subianto tentang gerakan gentengnisasi nasional memiliki urgensi tinggi bagi kesehatan masyarakat. Terutama kelompok rentan seperti balita dan lanjut usia (lansia), di tengah karakter iklim tropis Indonesia.

Gentengnisasi merupakan penggantian atap dari seng dengan genteng. Menurut Trubus, kebijakan tersebut tidak bisa dipandang semata sebagai persoalan estetika bangunan, melainkan menyangkut aspek struktural yang berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat.

“Dalam konteks negara tropis seperti Indonesia, pilihan material atap merupakan keputusan struktural yang berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat, kualitas hidup, serta keberlanjutan pembangunan,” ujar Trubus, Selasa (3/2/2026).

Ia menjelaskan, penggunaan atap seng selama ini meluas karena faktor harga murah dan kemudahan pemasangan. Namun, berbagai kajian menunjukkan material atap logam memiliki performa termal yang buruk di iklim panas dan lembap.

“Material atap logam memiliki performa termal yang buruk di iklim panas dan lembap, karena menyerap dan memantulkan panas matahari langsung ke ruang di bawahnya. Akibatnya, suhu di dalam rumah meningkat dan bertahan lebih lama, terutama pada siang hingga malam hari,” ujarnya.

Baca juga : Alasan Gema Bangsa Dukung Prabowo, Berani Dan Diyakini Bawa Indonesia Mandiri

Trubus menekankan, panas berlebih di dalam rumah merupakan ancaman kesehatan yang sering kali luput dari perhatian. Mengutip penelitian lintas disiplin mengenai panas ekstrem di hunian perkotaan Afrika Barat, ia menyebut kelompok paling terdampak adalah balita dan lansia.

“Kelompok yang paling terdampak adalah balita dan lansia, karena secara fisiologis memiliki kemampuan termoregulasi tubuh yang lebih terbatas dan menghabiskan waktu lebih lama di dalam rumah,” tulis Trubus.

Pada balita, suhu ruang yang tinggi meningkatkan risiko gangguan kesehatan ringan hingga sedang. “Suhu ruang yang tinggi meningkatkan risiko heat stress ringan hingga sedang, yang kerap ditandai dengan dehidrasi, kelelahan, gangguan tidur, dan penurunan nafsu makan,” lanjutnya.

Adsense

Sementara, pada kelompok lansia, paparan panas kronis dinilai dapat memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada.

“Pada lansia, paparan panas kronis berisiko memicu dehidrasi yang tidak disadari, memperburuk penyakit penyerta seperti hipertensi dan gangguan jantung, serta meningkatkan kerentanan terhadap kelelahan ekstrem,” tulis Trubus.

Baca juga : Universitas Trisakti Gelar PKM Pemberdayaan Koperasi Merah Putih di Ciambar

Selain berdampak pada kesehatan fisik, Trubus juga menyoroti pengaruh panas dalam rumah terhadap kualitas tidur. “Suhu ruang yang tetap tinggi pada malam hari membuat tidur menjadi dangkal dan terfragmentasi,” tulisnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dinilai dapat “menurunkan imunitas, konsentrasi, dan produktivitas.”

Situasi tersebut, lanjut Trubus, menciptakan apa yang disebutnya sebagai latent public health burden atau beban kesehatan laten. “Masyarakat tidak langsung sakit, tetapi hidup dalam lingkungan hunian yang secara perlahan menggerus kesehatan, kualitas tidur, dan produktivitas,” tulisnya.

Dalam konteks itulah, gagasan gentengnisasi dinilai relevan sebagai bentuk intervensi kebijakan publik. “Genteng tanah liat berbasis bahan lokal memiliki massa termal yang lebih baik, sehingga mampu menahan dan melepaskan panas secara lebih stabil,” tulis Trubus.

Ia menegaskan, penggunaan genteng bukan sekadar penggantian material bangunan, melainkan langkah pencegahan risiko kesehatan berbasis lingkungan.

“Dengan kata lain, gentengnisasi merupakan intervensi kesehatan preventif berbasis lingkungan, bukan sekadar penggantian material bangunan,” tegasnya.

Baca juga : Guru Besar UIN Jakarta: Pidato Prabowo Di WEF Tegaskan Arah Baru Kepemimpinan

Lebih jauh, Trubus melihat kebijakan tersebut memiliki efek ganda karena berpotensi mendorong industrialisasi desa dan penciptaan lapangan kerja. “Ini adalah contoh kebijakan publik yang menyatukan agenda kesehatan, ekonomi rakyat, dan penataan ruang hidup secara simultan,” tulisnya.

Di tengah iklim tropis yang kian memanas akibat perubahan iklim, Trubus menilai negara perlu bertindak lebih proaktif. “Negara tidak cukup hanya merespons penyakit. Negara perlu mencegah sumber risikonya sejak dari desain hunian,” tulisnya.

Dari sudut pandang tersebut, Trubus menilai gagasan gentengnisasi layak dipahami sebagai kebijakan sederhana dengan dampak struktural. “Dimulai dari atap rumah warga, tetapi berujung pada peningkatan kualitas hidup bangsa,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense