BREAKING NEWS
 

Besok, Prabowo-Trump Bicara Soal Tarif Dagang

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : ADITYA NUGROHO
Rabu, 18 Februari 2026 07:50 WIB
Presiden Prabowo Subianto berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump di International Congress Centre, Sharm El-Sheikh, Mesir, Senin (13/10/2025) lalu. (Foto: BPMI Setpres)

 Sebelumnya 
Sebaliknya, AS menurunkan tarif resiprokal atas produk Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen serta memberikan pengecualian tarif bagi sejumlah komoditas unggulan ekspor Indonesia, termasuk minyak kelapa sawit (CPO), kopi, dan kakao. 

Haryo mengatkan, pemerintah optimistis terhadap hasil kesepakatan tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa Airlangga Hartarto telah berangkat lebih dahulu ke AS untuk melakukan persiapan dan menyambut kedatangan Prabowo. 

“Kehadiran para menteri bidang ekonomi di Hambalang sebelum keberangkatan Presiden merupakan bentuk konsolidasi akhir agar posisi Indonesia solid dalam perundingan. Kita berharap akan ada kejutan positif dari ART yang semakin menguntungkan Indonesia,” ujar Haryo. 

Baca juga : Imlek Dan Awal Puasa, MBG Libur Sementara

Sebelumnya, Airlangga menyampaikan bahwa negosiasi tarif perdagangan dengan AS telah selesai. “Persentasenya sudah disepakati, turun dari 32 persen menjadi 19 persen,” katanya di Menara Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026). 

Ia menegaskan tidak ada lagi negosiasi tarif. Presiden, lanjutnya, akan segera menandatangani dokumen kesepakatan bersama Trump. 

“Yang lain akan diungkapkan setelah penandatanganan,” ujarnya. 

Baca juga : Dipastikan Kejagung, Temuan Uang Rp 920 M Di Rumah Pejabat Pajak Hoax

Sementara itu, Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menilai masih ada ruang lobi dalam pertemuan tersebut. “Tarif dagang masih bisa diturunkan hingga 17 persen,” katanya saat dihubungi, Selasa (17/2/2026). 

Menurut Rezasyah, AS membutuhkan jaminan jangka panjang agar Indonesia mendukung kebijakan ekonomi global AS dan sekutunya. Ia berharap, tim negosiator Indonesia solid, nasionalis, kompak, serta menguasai seluruh aspek perdagangan bilateral dan internasional dengan dukungan data yang kuat. 

Pandangan serupa disampaikan Ekonom Senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin. Dia menilai masih ada peluang melobi agar lebih banyak produk Indonesia memperoleh pembebasan atau tarif yang lebih rendah. 

Baca juga : Perkuat Struktur Di Kabupaten Dan Kota, PKB Sulsel Petakan Calon Pimpinan DPC

“Kita harus berupaya maksimal, meski kita tahu Trump adalah negosiator ulung dan penganut pendekatan unilateral. Posisi Indonesia dalam dewan perdamaian (BoP) bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan kesepakatan terbaik,” ujarnya. 

Menurut Wijayanto, posisi tawar Indonesia akan semakin kuat jika memiliki banyak alternatif kerja sama dagang. Karena itu, pemerintah perlu memperluas kemitraan perdagangan dengan berbagai negara, sekaligus memastikan produk Indonesia semakin berdaya saing dan terdiversifikasi. 

“Selain itu, aspek geopolitik juga perlu dikapitalisasi. Tim negosiasi yang maju harus andal dan berpengalaman,” kata Wijayanto. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense