RM.id Rakyat Merdeka - Ratusan warga Yogyakarta yang menamakan diri Kawula Ngayogyakarta menggelar aksi budaya pada Kamis (26/2/2026). Mereka terdiri atas pelajar, mahasiswa, komunitas seni tradisi, budayawan, serta penggiat seni keprajuritan rakyat.
Dalam kegiatan tersebut, mereka menyampaikan seruan nasional untuk menolak praktik unjuk rasa anarkis. Aksi budaya dimulai dari Terminal Condong Catur, Sleman, kemudian menyusuri jalur lambat Ring Road Utara menuju Mapolda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kegiatan ini menarik perhatian masyarakat karena dikemas menyerupai karnaval budaya. Para peserta memainkan berbagai alat musik tradisional seperti terompet, seruling, bende, tambur, dan kendang.
Mereka juga mengenakan kostum menyerupai busana prajurit kraton. Barisan terdepan membawa spanduk besar bertuliskan aksara Jawa berbunyi "Tolak Kekerasan, Utamakan Katentreman".
Baca juga : Gelar Aksi, Buruh Tolak Polri di Bawah Kementerian
Sesampainya di Mapolda DIY, pimpinan aksi budaya, Widihasto Wasana Putra membacakan pernyataan sikap. Ia menyampaikan bahwa dalam alam demokrasi Indonesia saat ini, terlebih sejak bergulirnya reformasi, penyampaian aspirasi dan sikap kritis terhadap jalannya pemerintahan merupakan keniscayaan.
"Demokrasi memberikan ruang bagi rakyat untuk menyampaikan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab," ujarnya.
Namun demikian, Widihasto menegaskan bahwa kebebasan tersebut bukan tanpa batas. Penyampaian aspirasi, kata dia, harus tetap berada dalam koridor hukum, menjunjung tata tertib, serta menghindari cara-cara kekerasan, anarkisme, maupun perusakan fasilitas umum.
"Terlebih apabila hal tersebut terjadi di Yogyakarta, daerah yang dikenal sebagai pusat budaya Jawa yang menjunjung tinggi nilai kesantunan, tepa salira, dan kerukunan," jelasnya.
Baca juga : Generali Bayarkan Klaim Hingga Rp 1,3 Triliun Untuk 273 Ribu Nasabah di 2026
Widihasto pun menyerukan kepada seluruh komponen bangsa agar bersama-sama menjaga kedamaian, ketenteraman, dan persatuan.
Dirinya mengingatkan agar semangat menyampaikan pendapat tidak menimbulkan perpecahan maupun kerusakan.
"Hormatilah hak-hak masyarakat lainnya dan jagalah fasilitas umum sebagai milik bersama," pungkasnya.
Wakapolda DIY Brigjen Edy menyambut baik dan mengapresiasi kedatangan massa aksi budaya Kawula Ngayogyakarta di Mapolda DIY. Ia menilai kehadiran peserta aksi yang mengenakan kostum adat budaya membawa kesejukan tersendiri.
Baca juga : Harlah Seabad NU Tak Dihadiri Presiden, Rais Aam, Mensos,...
"Kehadiran panjenengan semua membawa kesejukan karena semuanya mengenakan kostum adat budaya yang menjadi ciri khas di DIY. Semoga hal positif semacam ini terus kita rajut bersama agar kondusivitas keamanan tercipta mantap," katanya.
Dirinya menegaskan, bahwa pihak kepolisian tidak mempermasalahkan penyampaian aspirasi maupun kritik dari masyarakat terhadap kinerja kepolisian.
Namun, sebagaimana harapan Gubernur DIY Sri Sultan HB X aspirasi tersebut diharapkan tidak disampaikan dengan cara-cara anarkis.
Aksi budaya ditutup dengan foto bersama peserta aksi dan jajaran Polda DIY. Kegiatan berlangsung lancar, dan tepat pukul 17.00 WIB massa kembali berjalan menuju Terminal Condong Catur sebelum membubarkan diri dengan tertib.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.