RM.id Rakyat Merdeka - Oleh: Muhammad Rusmadi
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini tidak lagi bisa dipandang semata sebagai kebijakan pemenuhan gizi anak sekolah. Ia telah menjelma menjadi katalis bagi industri susu nasional—dari koperasi sapi perah hingga pabrik berteknologi modern. Pertanyaannya, apakah lonjakan ini akan memperkuat fondasi peternak rakyat atau justru mengukuhkan dominasi industri besar?
Baca juga : Distribusi Susu di Negara Kepulauan: Tantangan dan Solusi Teknologi Pengemasan
Pada 25 Januari 2026, PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk melaporkan berinvestasi Rp 1,14 triliun untuk memperluas kapasitas produksi susu UHT guna mendukung MBG. Investasi tersebut menandai optimisme industri terhadap keberlanjutan permintaan program pemerintah (DDTC News, 25 Januari 2026). Dari sudut pandang makro, langkah ini positif: kapasitas produksi meningkat, lapangan kerja bertambah, dan kepercayaan investor terjaga.
Tak berhenti di sana, modernisasi berbasis industry 4.0 turut disorot. Implementasi teknologi seperti Automated Guided Vehicle (AGV), Manufacturing Execution System (MES), dan Automated Storage and Retrieval System (ASRS) disebut mampu meningkatkan efisiensi dan menjaga konsistensi mutu produk (BCA Sekuritas News, 27 Januari 2026). Transformasi ini memperlihatkan, MBG mendorong akselerasi teknologi di sektor pangan.
Baca juga : Kemenperin: Industri Siap Hadapi Lonjakan Permintaan Ramadan
Namun denyut utama industri susu bukan hanya di pabrik, melainkan di kandang sapi milik peternak kecil. Di Pangalengan, Jawa Barat, Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) disebut mampu memproduksi sekitar 80 ton susu segar per hari dan terlibat dalam suplai program MBG (Infonasional.com, 30 Januari 2026). Ini menunjukkan, koperasi memiliki peluang besar menjadi bagian dari rantai pasok nasional.
Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono bahkan mendorong koperasi masuk ke sektor Industri Pengolahan Susu (IPS) agar tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga produsen susu UHT dengan nilai tambah lebih tinggi (Detik.com, 23 Desember 2025). Gagasan ini krusial. Selama ini, peternak kerap berada di posisi paling lemah dalam value chain industri susu. Margin tipis di hulu berbanding terbalik dengan keuntungan di hilir.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.