BREAKING NEWS
 

FTUI dan ILUNI FTUI Bangun Huntara Berbasis Kearifan Lokal di Aceh Tengah

Reporter & Editor :
MARULA SARDI
Selasa, 17 Maret 2026 11:25 WIB
Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) dan Ikatan Alumni (ILUNI) FTUI memulai pembangunan hunian sementara (HUNTARA) bagi warga terdampak banjir bandang yang melanda Desa Gewat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, PNanggroe Aceh Darussalam. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) dan Ikatan Alumni (ILUNI) FTUI memulai pembangunan hunian sementara (HUNTARA) bagi warga terdampak banjir bandang yang melanda Desa Gewat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam,  pada akhir November 2025. Pembangunan ini menjadi bagian dari upaya FTUI untuk membantu masyarakat mendapatkan tempat tinggal sementara yang aman dan layak selama proses pemulihan pascabencana.

Tim survei yang dipimpin oleh Ketua Ikatan Alumni Fakultas Teknik Universitas Indonesia (ILUNI FTUI), Farrizky Astrawinata, bersama Ketua Satuan Tugas Kebencanaan FTUI Ardiyansyah meninjau langsung kondisi Desa Gewat yang masih memprihatinkan meskipun telah berlalu sekitar 90 hari sejak bencana terjadi. Dalam kunjungan tersebut, tim juga menyerahkan bantuan paket sembako kepada warga melalui program UI Peduli.

Desa Gewat berada di wilayah Kecamatan Linge, Aceh Tengah, yang dapat dicapai melalui perjalanan darat dari Lhokseumawe menuju Takengon selama sekitar 2,5 jam dan dilanjutkan sekitar tiga jam menuju desa tersebut. Akses menuju wilayah ini masih dalam tahap pemulihan akibat longsor yang terjadi pascabencana.

Baca juga : Momentum Ramadan, PLN EPI Bangun Harmoni untuk Kinerja Berkelanjutan

Pembangunan huntara dimulai sejak 7 Maret 2026. Saat ini satu unit hunian telah berdiri, sementara proses pembersihan lahan untuk pembangunan 11 unit lainnya sedang berlangsung. Secara keseluruhan, program ini menargetkan pembangunan 12 unit huntara bagi warga terdampak. Dari jumlah tersebut, empat unit ditargetkan selesai sebelum Hari Raya Idul Fitri, sementara tujuh unit lainnya akan diselesaikan dalam waktu sekitar 30 hari setelah libur Lebaran.

Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia menyampaikan bahwa pembangunan huntara ini merupakan wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam membantu masyarakat menghadapi masa pemulihan pascabencana.

Adsense

“Sebagai institusi pendidikan teknik, FTUI memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan solusi berbasis keilmuan yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Kami berharap hunian sementara ini dapat membantu warga memiliki tempat tinggal yang aman dan nyaman sambil menata kembali kehidupan mereka,” ujarnya.

Baca juga : Jelang Idul Fitri, Pembangunan Huntara Dan Huntap Di Aceh Tamiang Dikebut

Huntara yang dibangun memiliki ukuran 4 × 7,2 meter dan merupakan model Antara Versi 3, pengembangan dari desain sebelumnya yang telah digunakan dalam penanganan bencana di Lombok, Palu, dan Cianjur. Desain tersebut terinspirasi dari rumah adat masyarakat Gayo, Uma Pitu Ruang, dengan konsep rumah panggung berkonstruksi kayu yang kokoh dan sesuai dengan karakter lingkungan setempat.

Selain mengadopsi kearifan lokal, desain huntara FTUI juga dirancang dengan pendekatan teknis yang mengutamakan efisiensi material, kemudahan konstruksi, serta ketahanan terhadap kondisi lingkungan. Struktur bangunan dibuat modular sehingga proses pembangunan dapat dilakukan lebih cepat dengan melibatkan partisipasi masyarakat secara gotong royong. Konsep rumah panggung juga membantu melindungi bangunan dari kelembapan tanah sekaligus meningkatkan sirkulasi udara agar hunian tetap nyaman ditempati.

Lebih dari sekadar hunian sementara, desain huntara ini juga mengusung konsep hunian berkembang, yaitu hunian yang memungkinkan penambahan ruang atau perluasan bangunan secara bertahap sesuai kebutuhan penghuninya di masa mendatang. Dengan konsep ini, hunian sementara dapat menjadi dasar bagi pengembangan rumah yang lebih permanen seiring dengan proses pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat. Pembangunan huntara dilakukan secara gotong royong oleh warga Desa Gewat dengan pendampingan teknis dari Institut Kemandirian Dompet Dhuafa.

Baca juga : AHY Dorong Pembangunan Kota Berbasis Identitas Lokal

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah juga memberikan dukungan penuh terhadap program ini sehingga diharapkan proses pembangunan dapat berjalan lancar meskipun akses menuju desa masih dalam tahap perbaikan akibat longsor. Reje Desa Gewat, Sandi Suardi, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan oleh FTUI dan berbagai pihak yang terlibat dalam pembangunan tersebut.

“Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan kepedulian dari FTUI serta para mitra yang telah membantu masyarakat Desa Gewat. Kehadiran hunian sementara ini sangat berarti bagi warga kami untuk dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih tenang sambil membangun kembali masa depan,” ujarnya.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan berbagai pihak, pembangunan huntara ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mempercepat proses pemulihan kehidupan warga Desa Gewat setelah bencana.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense