BREAKING NEWS
 

Hari Film Nasional dan Cara Kita Menilai Karya Kreatif

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Sabtu, 4 April 2026 12:01 WIB
Ketua Umum Sinergi untuk Film Indonesia Indri Ariefiandi (Foto: Dok. Pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka -  

Oleh: Indri Ariefiandi
Ketua Umum SUFI (Sinergi untuk Film Indonesia)

Setiap kali Hari Film Nasional diperingati, kita hampir selalu mendengar nada optimisme yang sama: industri film harus diperkuat, kualitas karya harus ditingkatkan, dan kolaborasi global perlu diperluas. Tahun ini pun tidak berbeda. Semangat untuk mendorong kesejahteraan insan film dan mengangkat identitas bangsa melalui sinema kembali digaungkan.

Namun, di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar dibicarakan secara jujur: apakah kita—termasuk negara—sudah memahami bagaimana seharusnya menilai sebuah karya kreatif?

Kasus yang menimpa Amsal Sitepu, terlepas dari bagaimana proses hukumnya berjalan, seolah membuka pintu ke persoalan yang lebih dalam. Ia memperlihatkan adanya jarak antara dunia kreatif dengan cara sistem negara bekerja—terutama dalam membaca, menilai, dan mengaudit sebuah karya.

Industri yang Tumbuh Pesat, Tapi Menyisakan Pertanyaan

Jika melihat angka, sulit untuk tidak mengakui bahwa industri film Indonesia sedang berada dalam fase pertumbuhan yang kuat. Sepanjang 2025, jumlah penonton film nasional menembus sekitar 80 juta orang, angka yang dalam beberapa tahun terakhir relatif stabil bahkan cenderung meningkat.

Di sisi produksi, skalanya juga tidak kecil. Ribuan izin produksi diterbitkan dalam setahun, sementara puluhan ribu konten—baik film maupun iklan—melewati proses sensor, dengan mayoritas merupakan karya dalam negeri. Dalam konteks pasar, film Indonesia pun semakin sering mendominasi box office nasional, bahkan beberapa judul mampu menembus lebih dari 10 juta penonton.

Jika ditarik lebih luas, sektor ini bukan berdiri sendiri. Industri film merupakan bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang kontribusinya terhadap perekonomian nasional mencapai sekitar 7,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 20 juta orang di berbagai subsektor. Angka ini menunjukkan bahwa kita tidak sedang berbicara tentang industri pinggiran, melainkan salah satu tulang punggung ekonomi baru Indonesia.

Baca juga : Borneo FC di Persimpangan Juara, Ujian Berat Menanti di Pamekasan

Sekilas, ini adalah cerita sukses. Industri tumbuh, pasar menguat, dan kontribusinya terhadap ekonomi nasional semakin nyata.

Namun justru di tengah capaian itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah pertumbuhan ini sudah diiringi dengan pemahaman yang cukup tentang bagaimana karya kreatif itu sendiri dinilai?

Ketika Angka Tidak Cukup Menjelaskan

Masalahnya, karya kreatif tidak bekerja seperti proyek pada umumnya. Ia tidak bisa sepenuhnya diukur dari durasi kerja atau besaran biaya. Nilainya sering kali justru terletak pada hal-hal yang tidak kasat mata: ide, pengalaman, pendekatan artistik, hingga keberanian mengambil risiko.

Dalam industri film, kita melihat sendiri bagaimana film dengan biaya besar tidak selalu berbanding lurus dengan dampaknya. Sebaliknya, ada karya dengan sumber daya terbatas yang justru mampu mencuri perhatian publik dan bahkan menembus pasar internasional.

Namun ketika karya seperti ini dibaca menggunakan logika administratif yang seragam—yang menuntut kepastian angka dan standar harga—maka yang terjadi adalah penyederhanaan yang berlebihan. Kreativitas dipaksa masuk ke dalam kerangka yang tidak sepenuhnya dirancang untuk memahaminya.

Di titik inilah kasus seperti yang dialami Amsal Sitepu menjadi relevan, bukan sebagai perkara individu semata, tetapi sebagai gejala dari persoalan yang lebih luas.

Pertumbuhan yang Belum Merata

Adsense

Angka 80 juta penonton memang impresif. Tetapi jika dilihat lebih dekat, distribusinya tidak merata.

Baca juga : Harganya Tidak Dinaikkan, BBM Kita Jauh Lebih Murah Dari Negara Tetangga

Dari ratusan film yang diproduksi setiap tahun, hanya sebagian kecil yang benar-benar menyerap mayoritas penonton. Sementara itu, banyak film lain yang bahkan kesulitan bertahan lama di layar bioskop.

Artinya, pertumbuhan industri ini masih menyisakan ketimpangan yang cukup tajam. Ada segelintir yang melesat jauh, tetapi banyak juga yang berjalan tertatih.

Dalam situasi seperti ini, pekerja kreatif—yang jumlahnya mencapai jutaan dalam ekosistem ekonomi kreatif—justru berada di posisi yang paling rentan. Mereka menopang industri yang kontribusinya signifikan terhadap PDB, tetapi belum sepenuhnya mendapatkan perlindungan sistem yang sebanding.

Ambisi Global Butuh Fondasi yang Jelas

Indonesia hari ini tidak kekurangan ambisi untuk membawa filmnya ke tingkat global. Kita mulai melihat film Indonesia hadir di festival internasional, menjalin kerja sama lintas negara, bahkan mengembangkan intellectual property yang potensial.

Namun industri global tidak hanya bicara soal kualitas karya. Ia juga bicara tentang kepastian sistem: bagaimana karya dinilai, bagaimana kontrak disusun, dan bagaimana risiko dibagi.

Jika di dalam negeri sendiri kita masih belum memiliki kerangka yang jelas dalam menilai karya kreatif, maka wajar jika posisi kita dalam kolaborasi global belum sepenuhnya kuat. Potensi besar memang ada, tetapi fondasinya belum sepenuhnya kokoh.

Dari Perayaan ke Pembenahan

Di sinilah Hari Film Nasional seharusnya menemukan makna yang lebih dalam. Ia bukan hanya ruang untuk merayakan capaian—termasuk angka penonton dan kontribusi ekonomi—tetapi juga kesempatan untuk melihat apa yang masih perlu dibenahi.

Baca juga : Antisipasi Krisis Energi, Para Menteri Mulai Lakukan Penghematan

Kita mungkin perlu mulai memikirkan bagaimana menyusun kerangka valuasi karya kreatif yang lebih kontekstual. Bukan untuk menyeragamkan kreativitas, tetapi untuk menjembatani cara pandang antara pelaku industri dan sistem negara.

Begitu pula dengan mekanisme audit, yang selama ini cenderung berbasis angka, mungkin perlu mulai mempertimbangkan dimensi proses dan output kreatif. Dan yang tidak kalah penting, bagaimana memastikan pekerja kreatif tidak selalu menjadi pihak yang paling rentan ketika terjadi persoalan.

Menilai yang Tidak Selalu Terlihat

Pada akhirnya, tantangan terbesar dalam membangun industri film bukan hanya soal pertumbuhan. Data menunjukkan bahwa kita sudah berada di jalur yang cukup baik dalam hal itu.

Namun pertumbuhan saja tidak cukup. Karya kreatif selalu berada di wilayah yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh angka. Ia adalah pertemuan antara logika dan rasa, antara teknik dan intuisi.

Mungkin justru di situlah tantangan kita hari ini: belajar menilai sesuatu yang tidak selalu terlihat.

Di tengah perayaan Hari Film Nasional, pertanyaan yang layak kita ajukan bukan lagi sekadar seberapa besar industri ini telah berkembang, tetapi apakah kita sudah cukup memahami apa yang sebenarnya kita bangun.

Karena tanpa pemahaman itu, angka bisa terus bertambah—tetapi fondasi yang menopangnya belum tentu ikut menguat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense