RM.id Rakyat Merdeka - Kebijakan Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mendapat dukungan dari kalangan loyalis Presiden Prabowo Subianto.
Langkah ini dinilai sebagai strategi tepat untuk menjaga ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah gejolak global.
Sekretaris Jenderal Tim 8 Prabowo-Gibran Akhrom Saleh menegaskan, keputusan tersebut layak diapresiasi. Menurutnya, penyesuaian harga BBM nonsubsidi merupakan langkah realistis guna meredam tekanan fiskal akibat dinamika geopolitik dan geoekonomi dunia.
“Keputusan ini patut dihargai sebagai upaya menjaga APBN tetap sehat dan tangguh menghadapi tekanan global,” ujar Akhrom dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (19/4/2026).
Baca juga : Rapat Evaluasi Mudik 2026, Komisi V DPR Apresiasi Angka Kecelakaan Turun
Dia menjelaskan, kondisi APBN saat ini memang menghadapi tantangan serius. Berdasarkan data Kementerian Keuangan Republik Indonesia per awal April 2026, defisit APBN kuartal I-2026 mencapai Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Meski masih berada di bawah ambang batas aman 3 persen PDB, tekanan terhadap belanja negara terus meningkat seiring lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Tercatat, total anggaran subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2026 mencapai Rp381,3 triliun, melonjak signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Akhrom menilai, pemerintah telah menyusun asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) di kisaran 100 dolar AS per barel. Namun, jika harga melampaui angka tersebut, risiko pembengkakan subsidi menjadi tak terhindarkan.
Baca juga : Pesilat Indonesia Siap Dukung Misi Prabowo Bawa Pencak Silat Ke Olimpiade
“Kalau harga minyak dunia terus naik, beban subsidi bisa jebol jika tidak ada penyesuaian pada sektor nonsubsidi,” jelasnya.
Menurut dia, kenaikan harga BBM non-subsidi merupakan konsekuensi logis agar negara tidak menanggung beban yang tidak tepat sasaran. Kebijakan ini juga disebut sebagai langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan subsidi bagi masyarakat yang berhak.
“Memang harus ada penyesuaian. Ini langkah yang benar agar BBM subsidi seperti Pertalite dan Bio Solar tidak ikut naik,” tegasnya.
Di sisi lain, Akhrom mengapresiasi sikap pemerintah yang tetap menahan harga BBM subsidi. Hingga akhir Maret 2026, realisasi subsidi dan kompensasi energi tercatat sebesar Rp51,5 triliun.
Baca juga : Eddy Soeparno Apresiasi Strategi Diplomasi Prabowo: Stabilitas Nasional Terjaga
Menurutnya, keputusan tidak menaikkan harga BBM subsidi menunjukkan komitmen pemerintah dalam melindungi daya beli masyarakat kecil di tengah tekanan ekonomi global.
“Kita apresiasi Pemerintah karena tetap menjaga harga BBM subsidi. Ini bukti keberpihakan kepada rakyat kecil di tengah situasi global yang penuh tantangan,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.