BREAKING NEWS
 

Dampak MBG Terlihat, Riset Tunjukkan Manfaat Nyata

Reporter & Editor :
OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Jumat, 1 Mei 2026 19:07 WIB
Pekerja menyiapkan paket Makan Bergizi Gratis (Mbg) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (16/12/2025). (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dibenahi pemerintah menjadi salah satu kebijakan paling banyak diperbincangkan. Fakta di lapangan mulai menunjukkan manfaat konkret yang dirasakan masyarakat.

Tokoh Pemuda sekaligus Sekretaris Jenderal Asosiasi Pelaku Usaha Desa Seluruh Indonesia, Ahmad Alimudin, menyebut hasil riset lapangan mulai memperlihatkan dampak awal MBG.

Ia mengutip laporan Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) yang melakukan studi di Cilacap, Semarang, dan Surakarta dengan melibatkan sekitar 1.800 orang tua siswa penerima manfaat.

“Mulai muncul laporan yang melihat dampak langsung MBG. Sebagian keluarga merasa pengeluaran harian lebih ringan. Orang tua jadi lebih jarang menyiapkan bekal, dan uang jajan anak disesuaikan. Dari data ini terlihat MBG memang dibutuhkan, khususnya oleh keluarga kurang mampu,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).

Menurut Alimudin, dukungan dari masyarakat akar rumput, terutama di kota-kota kecil, menjadi indikator bahwa program ini berdampak nyata.

Baca juga : Beli Kolor Dapat Mobil Listrik, Rider Umumkan Pemenangnya

Ia juga menekankan bahwa fokus MBG kini diarahkan pada keluarga prasejahtera, sesuai arahan pemerintah.

“Yang terpenting bukan perang narasi politik, tetapi apakah anak-anak Indonesia benar-benar mendapatkan akses makan bergizi,” tambahnya.

Hasil survei RISED juga menunjukkan lebih dari 80 persen keluarga berpenghasilan rendah mendukung kelanjutan program MBG.

Alasan utama mereka adalah rasa tenang karena anak mendapat makan di sekolah. Sekitar 8 dari 10 orang tua mengakui anak mereka lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi dan jarang melewatkan waktu makan.

Adsense

Dampak MBG juga terlihat di wilayah timur Indonesia. Di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, program ini turut menggerakkan ekonomi warga yang terlibat dalam operasional dapur MBG.

Baca juga : Keberpihakan yang Nyata

Kristina Lende, pekerja dapur di SPPG Watu Kawula, mengaku mengalami peningkatan ekonomi setelah enam bulan bekerja.

“Kini saya mampu membeli 20–50 kilogram beras, memenuhi kebutuhan sekolah anak, bahkan membeli sepeda motor,” ujarnya.

Sebelumnya, ia hanya mengandalkan penghasilan suami sekitar Rp 50 ribu per hari, yang bahkan sulit mencukupi kebutuhan pokok.

Sementara itu, Kepala SLB Negeri Laura, Maria Dolorosa, melihat perubahan signifikan pada siswa sejak program MBG berjalan.

“Anak-anak lebih antusias, lebih semangat hadir di kelas, dan mood lebih stabil, terutama siswa dengan kebutuhan khusus,” ungkapnya.

Baca juga : MBG Gerakkan Ekonomi Mikro, Peternak Telur Rumahan Rasakan Manfaat Nyata

SLB Negeri Laura memiliki 68 siswa dengan berbagai kategori kebutuhan khusus. Sebagian besar berasal dari keluarga sangat miskin dan miskin, sehingga program MBG membantu mengurangi beban konsumsi, termasuk bagi siswa yang tinggal di asrama.

Pemerintah yang kini mulai membenahi tata kelola dan memprioritaskan penerima dari keluarga prasejahtera dinilai telah berada di jalur yang tepat.

Di tengah perdebatan yang ada, pendekatan berbasis data dan evaluasi implementasi menjadi kunci keberhasilan program ini.

“Diskusi soal MBG harus naik level. Bukan sekadar soal gagal atau sukses, tetapi berbasis data, evaluasi, dan memastikan manfaatnya benar-benar sampai kepada anak-anak yang membutuhkan,” pungkas Alimudin.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense